Kawasan permukiman Baduy Dalam di Kampung Cibeo, Kabupaten Lebak, Banten, saat perayaan Kawalu selama tiga bulan tertutup untuk wisatawan domestik maupun manca negara. (foto: dok. antara)
Kawasan permukiman Baduy Dalam di Kampung Cibeo, Kabupaten Lebak, Banten, saat perayaan Kawalu selama tiga bulan tertutup untuk wisatawan domestik maupun manca negara. (foto: dok. antara)

Sudah Dua Bulan Kawasan Baduy Dalam Tertutup untuk Wisatawan

Ngopibareng.id Feature 03 April 2018 11:57 WIB

Selama tiga bulan kawasan permukiman Baduy Dalam di pedalaman Kabupaten Lebak, Provinsi Banten tertutup bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Peraturan ini diterapkan sehubungan dengan perayaan Kawalu.

Perayaan sudah berlangsung  selama dua bulan, saat ini masuk Kawalu Ketiga atau bulan ketiga.

"Selama kawalu itu wisatawan dilarang memasuki kawasan Badui Dalam yang tersebar di Kampung Cibeo,Cikawartana dan Cikeusik," kata Santa (45) seorang warga Badui saat dihubungi di Lebak..

Perayaan Kawalu sangat sakral bagi masyarakat Badui Dalam sehingga wisatawan dari luar tidak diperbolehkan memasuki kawasan itu.

Masyarakat Badui Dalam dengan ciri khas berpakaian putih-putih dengan lomar ikat kepala putih tidak menerima wisatawan sepanjang Kawalu.

Pelaksanaan Kawalu dilaksanakan selama tiga bulan dengan berpuasa serta berdoa meminta keselamatan bangsa dan negara yang aman, damai, dan sejahtera. 

Apalagi, 2018 merupakan tahun politik ditandai dengan pelaksanaan pilkada secara serentak di 171 daerah di Tanah Air, termasuk di Kabupaten Lebak.

Tradisi Kawalu dirayakan tiga kali selama tiga bulan dengan puasa seharian.

Kawalu Pertama dimulai pada Februari dan Maret, Kawalu dua serta Kawalu ketiga pada April mendatang.

"Kami berharap Kawalu itu dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Pemuka Adat yang juga Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Jaro Saija mengatakan pihaknya telah memasang papan peringatan di pintu gerbang Baduy di Ciboleger agar pengunjung menaati hukum adat. 

"Selama melaksanakan Kawalu, kondisi kampung Badui Dalam sepi karena mereka meninggalkan aktivitas kegiatan di ladang dan lebih memilih tinggal di rumah-rumah," katanya.

Memasuki bulan ketiga, kawasan  Baduy Dalam tetap tertutup untuk wisatawan, baik domestik maupun manca.

Ia menambahkan wisatawan kembali diperbolehkan mendatangi kawasan Badui Dalam setelah Kawalu berakhir dan melaksanakan tradisi "Seba" dengan mendatangi bupati dan Gubernur Banten dengan membawa hasil-hasil bumi (pertanian).

"Setiap Seba masyarakat Baduy akan membawa hasil pertanian ladang, seperti gula merah, pisang dan petai," katanya.

"Semua warga Badui berkumpul bersama anggota keluarga dan meninggalkan garapan pertanian ladang," kata Santa (45) warga Badui yang tinggal di Kampung Cipiit Desa Kanekes, Kabupaten Lebak saat dihubungi di Lebak, Selasa 2 April 2018.

Saat ini, musim panen padi huma relatif bagus dibandingan tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan produksi padi huma meningkat karena tidak terserang hama maupun penyakit tanaman.

Merayakan Kawalu bagi masyarakat Badui merupakan kewajiban sehingga areal pertanian ladang huma ditinggalkan untuk berkumpul bersama anggota keluarga.

"Kami senang bisa bertemu dengan saudara, kerabat dan tetangga untuk merayakan Kawalu," kata Santa sebagai Badui Penamping (Badui Luar).

Santa mengatakan, masyarakat Badui setiap perayaan Kawalu harus meninggalkan areal pertanian ladang yang tersebar di sekitar kawasan hutan di Kecamatan Leuwidamar, Sobang, Muncang, Cirinten, Bojongmanik, Cileles dan Gunungkencana.

Mereka bercocoktanam di areal perbukitan dan setiap musim panen harus membuka ladang di lahan baru.

Sedangkan, tanaman palawija maupun tanaman keras di lahan ladang lama dibiarkan karena tahun depannya akan dijadikan lahan bercocoktanam.

Untuk perayaan Kawalu, kata dia, warga Badui berjalan kaki antara 10 sampai 40 kilometer dengan memikul hasil pertanian ladang seperti padi huma, pisang dan tanaman palawija lainnya.

Meski orang Badui Luar diperbolehkan naik kendaraan, namun saat hendak merayakan Kawalu wajib berjalan kaki dengan membawa hasil bumi itu.

"Kami sendiri berjalan kaki dari ladang sampai rumah sepanjang 30 kilometer. Kami dilarang naik kendaraan jika akan merayakan Kawalu itu," katanya.

Begitu juga warga Badui lainnya, Ayah Pulung (65) yang mengatakan dirinya hari ini berkumpul bersama anak, isteri dan cucu untuk merayakan Kawalu bulan ketiga.

Sebab, ritual Kawalu satu dan dua sudah dijalani masyarakat Badui.

"Kami berdoa semoga ke depan hasil pertanian huma padi dan tanaman lainnya bisa menghasilkan pendapatan ekonomi," katanya.

Kepala Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Jaro Saija mengatakan untuk sementara kawasan Badui Luar dan Badui Dalam selama Kawalu tertutup dari wisatawan.

Masyarakat Badui saat ini sedang berkonsentrasi melakukan ritual Kawalu dengan anggota keluarga, hingga bulan depan. Setelah itu kembali kawasan permukiman Baduy Dalam kembali terbuka untuk kunjungan wisatawan. (mansyur ant)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...