Delegasi pertemuan antaragama bertemu Sri Paus di Vatikan. (Foto: Istimewa)

Sri Paus: Keberadaan Kita Yaitu Saudara Sesama Manusia

Internasional 16 January 2020 02:40 WIB

Setelah musyawarah seharian, 18 tokoh agama Ibrahim diterima oleh Sri Paus dalam audiensi pribadi di kediaman beliau di kompleks Basilica, Vatikan, Rabu, 15 Januari 2020, di Gregorian University, Roma, malam.

Pastor Bob Roberts menjelaskan kepada Sri Paus tentang hasil-hasil diskusi hari itu, termasuk penegasan dukungan terhadap "Piagam Persaudaraan Kemanusiaan” yang ditandatangi bersama Paus Fransiskus dan Tetua Agung Al Azhar, Syaikh Ahmad Al Tayeb di Abu Dhabi pada Februari tahun lalu.

Sri Paus mengingatkan bahwa forum Inisiatif Agama-agama Ibrahim (Abrahamic Faiths Initiative) adalah wahana untuk mengedepankan ikhtiar-ikhtiar.

"Tapi dalam masalah apa pun yang dihadapi, kita harus kembali ke akar keberadaan kita, yaitu saudara sesama manusia," kata Sri Paus.

Diskusi yang digelar sejak pagi hingga sore mengerucutkan sikap dan langkah bersama dalam menghadapi kemelut kemanusiaan dewasa ini, yang sangat kental diwarnai oleh konflik antar kelompok agama.

Sam Brownback, Duta Besar Keliling Amerika Serikat Untuk Kebebasan Beragama, mengatakan pada awal diskusi menyampaikan keprihatinan yang mendalam.

"Apabila kita biarkan berkembangnya konflik antara agama ini, sudah pasti ujungnya adalah saling bunuh diantara kita semua!" katanya.

Musyawarah antaragama di Vatikan Foto IstimewaMusyawarah antaragama di Vatikan. (Foto: Istimewa)

Ungkapan itu persis seperti analisis yang dipaparkan dalam "Deklarasi Gerakan Pemuda Ansor Tentang Islam Untuk Kemanusiaan (Humanitarian Islam)" pada tahun 2017 yang lalu.

Reverand Thomas Johnson dari World Evangelical Alliance menekankan bahwa deklarasi saja tidak cukup, karena belum tentu banyak orang mau sungguh-sungguh membaca dan mempelajarinya.

Yahya Staquf dari Nahdlatul Ulama menimpali bahwa memang siapa pun yang membuat deklarasi harus siap menindaklanjutinya dengan langkah-langkah strategis yang nyata.

Ia pun memberi contoh dengan menjelaskan kiprah Nahdlatul Ulama dalam mambangun strategi transformatif melalui aktivisme sosial, yaitu melakukan pelayanan bagi masyarakat dalam arti luas, termasuk melindungi hak-hak kelompok minoritas.

Chief Rabbi David Rosen menambahkan perlunya kalangan politik menengok agama-agama sebagai basis strategi resolusi konflik, bukan hanya pendekatan militer dan ekonomi.

Ambassador Sam Brownback pada kesempatan itu menyampaikan terima kasih dan apresiasi atas segala yang telah dilakukan oleh Nahdlatul Ilama selama ini dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Musyawarah pada akhirnya mencapai kesepakatan untuk terjun ke wilayah konflik demi mengupayakan jalan keluar.

Yahya Staquf mengingatkan bahwa hal itu harus dilakukan dengan strategi yang komprehensif dan terkonsolidasi, dengan dukungan instrumen-instrumen dan sumberdaya-sumberdaya yang penuh.

Penulis : Arif Afandi

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

09 Apr 2020 15:22 WIB

Pemkot Surabaya Keberatan Dengan Kata 'Ditimbun'

Surabaya

Pemkot melayangkan surat keberatan kepada redaksi Ngopibareng.id.

09 Apr 2020 13:12 WIB

Jadwal Ibadah Kamis Putih, Jumat Agung dan Paskah Live

Nasional

Keuskupan Agung Jakarta menyiapkan serangkaian peribadatan dari rumah.

09 Apr 2020 12:17 WIB

Indonesia Harus Bersatu, Fokus pada Penghentian Penyebaran Korona

Tokoh Lain

Tulisan Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI 2005-2015, selengkapnya.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.