Perusahaan Shimizu Corp menunjukkan Robo-Buddy selama tur per ke laboratorium robot perusahaan konstruksi di Tokyo, Jepang. Robo-Buddy adalah robot multi guna. (Foto: AP/Koji Sasahara)

Society 5.0, Jepang Pakai Robot, Indonesia Andalkan Manusia

Nasional 27 March 2019 22:19 WIB

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyatakan bahwa Indonesia tidak akan bergantung pada robotik seperti Jepang yang mengusung Society 5.0 yang mana masyarakatnya bergantung pada robot.

Staf Ahli Menteri PPN/Kepala Bappenas Bidang Pemerataan dan Kewilayahan Oktorialdi dalam seminar "Standardization in a Living Society 5.0" di Jakarta, Rabu, mengatakan langkah itu dilakukan lantaran apa yang terjadi di Jepang berbeda dengan Indonesia yang justru akan menghadapi bonus demografi.

"Pada 2030-2045 kita akan masuk masa dengan bonus demografi, jadi kebijakan pasti larinya bukan robotik," katanya.

Oktorialdi menuturkan Bappenas telah meluncurkan Visi Indonesia 2014 di mana pada 2045, total penduduk Indonesia adalah 318,9 juta orang yang sebagian besar berada berusia produktif.

Dengan kondisi tersebut, kebijakan yang akan diambil pemerintah tentu bukan pengembangan robotik seperti Jepang yang masyarakatnya semakin menua (aging society).

"Jadi nanti arahnya bagaimana menciptakan manusia-manusia yang punya kemampuan yang dibutuhkan pada masa depan," katanya.

Oktorialdi menambahkan, pemerintah punya pekerjaan besar untuk menyiapkan masyarakat berkemampuan spesifik yang dibutuhkan masa depan.

Tantangan itu semakin besar, lanjutnya, dengan tingginya jumlah pengangguran yang merupakan lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK).

"Artinya kita harus mencari kemampuan spesifik melalui vokasi. Kebijakan soal vokasi ini akan kami dorong untuk memjawab masalah demografi," tuturnya.

Jepang mengusung Society 5.0, di mana teknologi artificial intellegent (AI), Internet of Things (IoT), machine learning, dan big data lebih masif digunakan agar tercipta keberlanjutan yang lebih baik terhadap manusia dan lingkungan.

Dalam paparannya, Chairman of Japan Society 5.0 Standardization on Promotional Committee Masahide Okamoto mempresentasikan bagaimana kehidupan di Jepang pada masa mendatang akan banyak memanfaatkan kecerdasan buatan, robot, hingga big data dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya pengantaran paket kiriman dengan drone atau penggunaan bus sekolah tanpa pengemudi. (ant)

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Feb 2019 19:25 WIB

Awas Musibah Demografi, Pesan Rais Am PBNU

Nasional

Indonesia akan mengalami bonus demografi dalam beberapa tahun ke depan. Bonus demografi ini seperti pisau bermata dua yang bisa berarti positif atau sebaliknya negatif jika tidak dikelola dengan baik.

13 Oct 2018 12:11 WIB

Bonus Demografi, Nasyiatul Aisyiyah Diminta Sikapi dengan Cermat

Khazanah

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Hajriyanto Y Thohari, mendorong agar Nasyiatul Aisyiyah (NA) memperhatikan adanya bonus demografi terutama angka perempuan di Indonesia dengan kreatif.

28 May 2018 15:07 WIB

Bappenas: Stunting Bisa Akibatkan Bonus Demografi Sa-sia

Nasional

Ketika dewasa, anak yang mengalami kondisi stunting pun berpeluang mendapatkan penghasilan 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami stunting.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.