Soal NU dan Muhammadiyah, Ini Kisah Mengharukan!

30 Nov 2018 01:55 Khazanah

Sebuah kisah KH Abdurrahman Wahid alias GusDur, almaghfurlah, berdialog dengan Sunanto, Ketua Umum (Baru) PP Pemuda Muhammadiyah menggantikan Dahnial Simanjuntak.

Suatu ketika, Nanto bertanya pada Gus Dur. “Gus, bagaimana pandangan Islam tentang Indonesia yang memilih bentuk negara Pancasila, bukan negara Islam?” tanya Nanto.

“Menurut siapa dulu, NU atau Muhammadiyah?” jawab Gus Dur.

“NU, deh Gus,” kata Nanto.

“Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan,” jawab Gus Dur.

“Hukumnya boleh. Karena bentuk negara itu hanya wasilah, perantara. Bukan ghayah, tujuan,” jawab Gus Dur.

“Kalau menurut Muhammadiyah?” tanya Nanto lagi.

“Sama,” jawab Gus Dur singkat.

Nanto melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Kalau melawan Pancasila, boleh tidak Gus? Kan bukan Al-Quran?”

“Menurut NU atau Muhammadiyah?” jawab Gus Dur.

“Muhammadiyah, coba,” kata Nanto.

“Tidak boleh. Pancasila itu bagian dari kesepakatan, perjanjian. Islam mengecam keras perusak janji,” jawab Gus Dur.

“Kalau menurut NU?” tanya Nanto.

“Sama,” jawab Gus Dur.

Sampai di sini, Nanto mulai senewen. Dia merasa dikerjain Gus Dur. Jawaban menurut NU dan Muhammadiyah kok selalu sama.

Anda bagaimana sih, Gus. Kalau memang pandangan NU dan Muhammadiyah sama, ngapain kami disuruh milih menurut NU atau Muhammadiyah?" tanya Nanto.

“Ya .. kita harus dudukkan perkara pemikiran organisasi para ulama itu dengan benar, mas. Nggak boleh serampangan,” jawab Gus Dur.

“Serampangan bagaimana?” sahut Nanto.

“Kalau Muhammadiyah itu 'kan ajarannya memang merujuk ke Rasulullah,” jawab Gus Dur.

“Lha, kalau NU?” tanya Nanto.

“Sama,” jawab Gus Dur.

Kisah ini ditulis Gus Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum PP GP Ansor. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini