Trimoelja D. Soerjadi

Kenangan untuk Trimoelja D. SoerjadiSinga Pendekar Hukum itu Harus Kalah dengan Myloma

17 May 2018 16:23

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Saya kehilangan teman lagi. Setelah dua hari lalu Ki Dalang Enthus Susmono wafat di usia 52 tahun, hari ini Trimoeljo D. Soejardi. Ia menghembuskan nafas terakhirnya pagi ini, di awal bulan Ramadhan. Di usia 77 tahun.

Pak Tri --demikian saya biasa memanggil-- memang sudah sejak lama sakit. Sejak setahun lalu. Namun, sejak 6 bulan terakhir, kondisi kesehatannya mulai terus menurun. Beberapa kali harus bolak-balik dirawat di RS karena ada persoalan dengan kadar darahnya.

Beberapa tahun terakhir, saya cukup sering bertemu pendekar hukum Surabaya ini. Hampir setiap minggu. Saat rapat bersama sebagai Pengurus Perhimpunan Perawatan Penderita Penyakit Mata (P4M), pemilik Rumah Sakit Mata Undaan.

Dalam usianya yang di atas 70 tahun, Pak Tri masih terlihat penuh semangat. Pengacara kondang yang sederhana hidupnya. Terjaga integritasnya. Dan teman ngobrol yang enak. Guyonan selalu keluar setiap saat bersua. 

Pak Tri memang bukan pengacara biasa. Ia adalah pengacara aktivis. Namanya meroket saat membongkar kasus kematian tokoh buruh Marsinah. Tokoh buruh yang ditemukan tewas tahun 1993. Di zaman Orde Baru. Di zaman pemerintahan yang otoriter.

Saat membongkar kasus Marsinah, ia tidak hanya berhadapan dengan sistem hukum. Ia melawan sistem kekuasaan diktator yang menyebabkan Marsinah ditemukan terbunuh di hutan Nganjuk setelah tiga hari hilang. Setelah diancam Kodim yang sudah menyiksa kawan-kawannya.

Perjuangan Pak Tri membongkar misteri kematian Marsinah saat itu bukan hap gampang. Ia bisa juga terancam jiwanya. Di zaman itu, berurusan dengan militer bisa berabe. Teror berseliweran. Siapa pun juga bisa hilang tanpa bekas jika dianggap membahayakan mereka.

Namun, Pak Tri tegar. Ia terus membongkar misteri pembunuhan Marsinah. Kegigihannya bisa membebaskan Yudi Susanto, bos PT CPS dari vonis penjara 17 tahun. Ini setelah perjuangan Pak Tri berhasil membuktikan bahwa pembunuhan Marsinah penuh dengan rekayasa.

Kegigihan Pak Tri mengungkap kebenaran itu mengantarkan dia sebagai orang pertama yang memperoleh Yap Thiam Hien Award. Ini adalah penghargaan tertinggi untuk para pejuang hukum dan HAM di Indonesia.

Trimoelja (kanan) bersama Bambang Sulistomo dalam sebuah aksi di Surabaya.

Sebagai pengacara ia tidak hanya menjadi hukum sebagai pekerjaannya. Tapi menjadi alat perjuangan. Perjuangan membantu rakyat dalam menghadapi ketidakadilan hukum. Dalam memperjuangkan kebenaran.

Karena itulah, ia menjadi salah satu pengacara Surabaya yang selalu membantu LBH. Lembaga bantuan hukum yang bergerak di bidang advokasi bagi kaum lemah. "Pak Tri selalu membantu LBH," kata M Zaidun, dosen FH Unair yang pernah menjabat Ketua LBH Surabaya.

Aktifitas kepengacaraan Pak Tri terakhir adalah menjadi anggota tim pembela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus penistaan agama. Ia harus berhari-hari dan berminggu-minggu di Jakarta. Ia mengikuti sidang beruntun sampai Ahok divonis.

Suatu saat di hari minggu tahun lalu, ia menelpon. Pak Tri harus periksa ke rumah sakit karena tekanan darahnya tiba-tiba drop. Melalui bantuan teman-teman dokter, akhirnya dapat ahli darah yang bisa menangani Pak Tri meski di hari libur. Di RS kawasan Gubeng.

Sejak saat itu, Pak Tri yang selalu menyenangkan sebagai teman diskusi dan ngobrol di RS Mata Undaan tak lagi bisa hadir setiap rapat. Yang hadir kabar dia berulangkali harus ke RS Mitra Keluarga untuk perawatan.

Trimoelja (tengah) saat menjadi anggota tim pembela Ahok.

Wakil Direktur RS Dr Soetomo, Hendrian D. Subagyo, menyebutkan Pak Tri terkena penyakit Multiple Myloma. Ini semacam kanker yang menyerang pembungkus saraf. Kanker jenis ini akan merusak semua jaringan tubuh termasuk sumsum.

Karena itulah, Hemoglobin darah Pak Tri tak bisa kembali naik. Drop terus. "Setiap kali sudah bilang kok nggak segera diambil oleh Allah. Saya bilang, soal itu prerogratif Allah. Kita serahkan saja," kata Ny Trimoelya mengenang sakit suaminya.

Hari ini, Pak Tri benar-benar telah meninggalkan kita. Setelah disemayamkan di rumah duka kawasan Rungkut, diantar handai tulan dan kawan-kawannya, ia dimakamkan di TPU Keputeh. Ia telah dipanggil Tuhan seperti yang diharapkan.

Pak Tri, singa pendekar hukum penggemar wayang kulit itu telah menyusul Ki Enthus Susmono yang meninggal akibar serangan jantung awal pekan ini. Sayang, Pak Tri penggemar dalang klasik. Dia nggak suka dalang kekinian seperti Enthus.

Toh demikian, titip salamku ke Enthus kalau ketemu di sana ya Pak Tri. Meski sampeyan nggak suka gaya dalangnya. Tapi sampeyan bisa nanggap Ki Narto Sabdo yang memang menjadi dalang idola. (Arif afandi)