Siapa Tahan Dolar Menggelinjang

05 Sep 2018 05:50 Ekonomi

Perang dagang antara negara memicu ketidakmenentuan ekonomi dunia. Nilai tukar Dolar AS fluktuatif dan cenderung menguat. Ini berdampak kepada mata uang lainnya. Rabo (4/9/2018), nilai tukar rupiah nyaris menyentuh angka psikilogis Rp 15 ribu per dolar AS.

Siapa yang deg-deg ser dengan situasi ini? Gejolak ekonomi rasanya hanya di tingkat atas. Mereka yang tertaut dengan ekspor dan impor. Mereka yang berkait dengan ekonomi makro. Mereka yang terbiasa dalam kemapanan.

Kelas menengahlah yang kini sedang menghadapi masalah. Mereka merasa kenyamanannya berkurang. Mereka merasa makin merosot yang bisa disimpan di kantongnya.

Ketidakmenentuan global akibat perang dagang bukan urusan mereka yang di lapis bawah. Mereka hidup dengan caranya sendiri. Mereka menggeliat dengan kemampuan yang mungkin tidak dihitung oleh petugas pajak.

Dolar AS yang terus menguat atas mata uang lainnya, termasuk rupiah bukanlah masalah mereka. Ini masalahnya orang kaya. Bahasanya salah satu founder Jawa Pos Group Dahlan Iskan, orang-orang yang jika kehilangan banyak asetnya tetap kaya raya.

Mungkin juga bermasalah untuk pengelola negara yang punya banyak utang dalam bentuk Dolar Amerika Serikat. Sebab, setiap kenaikan nilai tukar dolar AS akan makin menambah besaran utangnya dalam rupiah.

Perekonomian dalam beberapa tahun belakangan sulit. Tapi, itu untuk para pebisnis ritel besar. Para pedagang pasar Glodok Jakarta yang pasarnya tergerus lahirnya perdagangan lewat daring alias toko online.

Bagaimana para pelaku ekonomi di tingkat bawah ini bisa bertahan? Bagaimana mereka tidak mengeluh seperti para pengusaha besar pemburu rente besar? Sampai seberapa kuat mereka bisa bertahan terhadap goncangan krisis yang berlangsung sekarang?

Bergesernya Perilaku Pasar

Dalam waktu 6 bulan terakhir, di radius 100 meter rumah saya ada tambahan dua pelaku usaha baru. Satu pedagang kelapa muda dan satu warung baru. Sebelumnya sudah ada pedagang sate yang berada tepat di depan rumah dan penjual nasi goreng yang hanya 20 meter di sampingnya.

Sekitar satu kilometer dari rumah terdapat pasar tradisional yang bukan setiap pagi sampai siang. Disinilah menjadi jujugan warga sekitar belanja berbagai kebutuhan sehari-hari. Pasar itu tetap ramai sampai kini.

Kebetulan rumah saya di perbatasan perkampungan dan kompleks perumahan kelas menengah-bawah. Di sepanjangan jalan besar, tidak terhitung jumlah usaha baru kelas mikro seperti angkringan, warung kopi, toko assesoris, maupun toko pulsa dan pakaian untuk anak-anak dan dewasa.

Mereka jelas para pelaku ekonomi yang saat memulai usaha tidak mencatatkan diri atau melalui ijin pemerintah. Jumlahnya makin hari makin banyak. Mereka tidak perlu mengajukan ijin membangun, tanda daftar perusahaan, dan SIUP. Mereka punya modal dan dengan tenaga kerja yang dipunyainya.

Sepanjang pengamatan, hampir semua usaha baru itu tetap ramai pengunjung. Warung kopi dan angkringan selalu ramai pembeli. Juga para pedagang kaki lima jenis makanan atau minuman. Toko-toko kecil yang ada juga masih tetap hidup sampai sekarang.

Malah, tukang sate depan rumah persis omsetnya naik 5 kali lipat sejak tiga bulan lalu. Yakni sejak ia bergabung dengan gofood, aplikasi online pemesanan makanan. Demikian juga penjual nasi goreng yang ada di sebelahnya.

"Dulu untuk laku 10 porsi saja susah sekali. Sehari mendapat uang 50 ribu sangat berat. Kini, rata-rata terjual 50 porsi sengan omset Rp 400-500 ribu per hari," kata penjual sate sumringah. 

Menurutnya, sejak jualan satenya masuk di go-food, omsetnya tidak sekadar tambah dari pemesanan online. Tapi juga pelanggan baru yang datang langsung juga bertambah. Tampaknya mereka tahu kalau ada penjual sate dari daring tersebut.

Yang menarik adalah penjual kelapa muda yang baru sebulan buka. Penjualnya adalah istri dari seorang kenek truk yang setiap hari mengantar barang ke beberapa kota di Jatim. Nah, ketika balik, truk yang dikeneki kosong. Ia pun memanfaatkannya untuk belanja kelapa muda di daerah. Hasilnya, hampir setiap hari jualan kelapa mudanya tak pernah sepi dari pembeli.

Pedagang kecil yang tersenyum seperti pedagang sate dan kelapa muda ini tentu banyak. Tapi seberapa meluas, dibutuhkan studi yang lebih menyeluruh. Yang pasti, secara kasat mata, geliat ekonomi di tingkat bawah tampak tidak terpengaruh. 

Jalanan di kota besar masih tetap macet seperti biasanya. Pusat-pusat pariwisata masih penuh dengan wisatawan. Baik domestik maupun mancanegara. Kecuali Lombok yang terkena musibah gempa. 

Berbagai pertunjukan juga masih kebanjiran penonton. Mulai Asian Games yang baru usai sampai dengan pertunjukan musik di mana-mana. Tak ada tanda-tanda orang susah kecuali para politisi yang sedang sibuk mencari celah untuk berkuasa dengan segala cara.

Pelajaran dari Krismon

Menengok pelajaran krisis moneter 1998, yang jeblok karena krisis itu memang para pengusaha besar. Terutama mereka para pengusaha yang mengandalkan pinjaman US Dolar. Merekalah yang banyak kehilangan aset untuk menutup hutang yang tiba-tiba membengkak tajam karena nilai tukar.

Pada saat itu, pengusaha yang banyak berguguran ada di ibukota Jakarta. Sementara di Jatim yang sebagian pengusahanya adalah pekerja keras tidak terlalu terseok. Malah ada yang mendadak kaya karena gain dari melonjaknya nilai tukar mata uang asing.

Ketahanan ekonomi Jatim saat itu juga karena besarnya pemain di kelas UMKM. Mereka belanja dengan rupiah dan dijual rupiah. Barangkali karena itulah, kerusuhan dahsyat tidak terjadi di Jatim. Provinsi ini lebih tahan banting dengan besarnya porsi UMKM.

Berdasarkan hasil Sensus Ekonomi 2016, populasi UMKM di Jatim mengalami pertumbuhan secara signifikan. Mereka terdiri dari UMKM Pertanian sejumlah 4,61 juta dan UMKM Pertanian 4,98 juta. Totalnya berjumlah Rp 9,59 juta UMKM.

Tentu saja jumlah ini belum termasuk usaha-usaha mikro dan kecil yang ada di perkampungan seperti cerita di atas. Mereka menggunaan modal pribadi, tanpa perbankan, dan dengan pasar langsung dengan konsumsi masyarakat. Karena dengan modal sendiri tanpa utang dan bukan kurs asing, mereka cenderung lebih tahan banting.

Daya tahan ekonomi rakyat ini sebenarnya akan makin kuat kalau ditopang kinerja ekonomi di tingkat nasional. Jika saja kinerja perdagangan kita tidak defisit, maka ekonomi kita akan makin kenyal. Tahan goyangan. Apalagi hanya gelinjang dolar AS.

Rasanya inilah pekerjaan rumah pemerintahan mendatang. Mengurangi impor dengan menyusun skala prioritas penyediaan bahan baku industri yang selama ini menjadi sumber defisit. Juga rumuskan skala prioritas untuk komoditas ekspor yang punya nilai lebih tinggi. 

Dalam jangka pendek, saya setuju dengan ekonom Chatib Bisri. Kurangi defisit neraca berjalan kita yang menurut lapora BI membengkak jadi 3 persen di triwulan II-2018. Salah satu yang sumber utamanya dari Migas. Impor minyak kita terlalu besar. Dan pengonsumsi migas terbesar kita adalah orang kaya. Kurangi konsumsi BBM dan listrik jika tidak mau menaikkan harga.

Kemauan orang kaya mengencangkan ikat pinggang dan mengurangi kenikmatan akan sedikit membantu negeri ini lebih punya daya tahan terhadap gelinjang dolar. Tapi bisakah mereka yang tak terbiasa susah ini melakukannya? (arifafandi)