Jalan menuju  lokasi Pondok Pesantren Alam Agrikultural Markaz Syariah di Megamendung, Kabupaten Bogor. (Fto:Istimewa)
Jalan menuju lokasi Pondok Pesantren Alam Agrikultural Markaz Syariah di Megamendung, Kabupaten Bogor. (Fto:Istimewa)

Siapa akan Dijadikan Tersangka Kegiatan HRS di Bogor?

Ngopibareng.id Hukum 26 November 2020 13:37 WIB
Siapa akan dijadikan tersangka dalam kasus kerumunan massa pada acara Maulid Nabi Muhammad yang menghadirkan Habib Rizieq Shihab?
 
Ada potensi penetapan tersangka dalam kasus dugaan pelanggaran protokol kesehatan pada kerumunan Rizieq Shihab di Bogor, usai perkara itu dinaikkan ke tahap penyidikan, kata Kombes Pol CH Patoppoi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat, Kamis.
 
"Penyidik akan melakukan penyidikan, akan memberitahu kejaksaan, dan berproses sampai nantinya kegiatan gelar penetapan tersangka," kata Patoppoi di Polda Jawa Barat, Kota Bandung.
 
"Siapa pihak yang berpotensi ditetapkan sebagai tersangka itu,  yakni pihak penyelenggara kegiatan, bahkan juga pemilik lokasi Pondok Pesantren Alam Agrikultural Markaz Syariah, dan DPP FPI," katanya.

"Kemungkinan yang melakukan pidana, istilahnya potensi suspect atau tersangka itu penyelenggara, atau mungkin berdasarkan alat bukti mungkin bisa ke pemilik atau pendiri pondok pesantren dijadikan tersangka," katanya.
 
Adapun kegiatan Rizieq Shihab itu berlangsung di Pondok Pesantren Alam Agrikultural Markaz Syariah DPP FPI, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jumat 13 November lalu. Kegiatan itu berlangsung dengan berkerumunnya warga pada saat kedatangan Rizieq Shihab.
 
Kombes Pol CH Patoppoi juga menyebut pemilik pondok pesantren itu diduga adalah Rizieq Shihab itu sendiri. Berdasarkan penyelidikan, menurutnya Rizieq Shihab telah mendirikan pondok pesantren itu sejak 2012 silam.
 
"Kita ditemukan diduga bahwa pemilik pondok pesantren itu adalah HMR (Rizieq Shihab), yang didirikan sejak tahun 2012. Upaya imbauan oleh Satgas COVID-19 tidak dipatuhi, jadi kegiatan tetap berlangsung," katanya.
Meski begitu Kombes Pol CH Patoppoi menyebut bahwa pondok pesantren diperbolehkan beroperasi di Bogor. Namun berdasarkan aturan Bupati Bogor, pondok pesantren tidak diperbolehkan menerima kunjungan.
 
Menurut Patoppoi kegiatan tersebut dihadiri oleh sekitar 3.000 orang. Sehingga diduga kegiatan tersebut melanggar aturan protokol kesehatan dalam rangka penanggulangan COVID-19 di Kabupaten Bogor.
 
"Padahal aturan dari Bupati Bogor mewajibkan kegiatan harus dibatasi jumlah pengunjungnya maksimal 50 persen dari total kapasitas atau maksimal sebanyak 150 orang. Penyidik telah memutuskan bahwa telah ditemukan dugaan peristiwa pidana, bahwa diduga ada upaya menghalang-halangi penanggulangan wabah, dan penyelenggara kekarantinaan kesehatan," kata Patoppoi.
 
Dalam kasus ini, polisi menggunakan Pasal 14 Ayat 1 dan Ayat 2 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang wabah penyakit menular, Pasal 93 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang kekarantinaan kesehatan, dan Pasal 216 KUHPidana. (ant)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

04 Mar 2021 03:39 WIB

Haedar Nashir: Pancasila Tak Sekadar Fundamen Politik

Khazanah

Renungan tentang gagasan Founding Fathers RI

04 Mar 2021 02:54 WIB

Setiap Zaman Ada Orangnya, Setiap Orang Ada Zamannya

Islam Sehari-hari

Ulasan KH Sujadi atas Tafsir Al-Quran Surat Al-Ashr

04 Mar 2021 02:11 WIB

Bersatu dalam Pembantaian Rohingya, Mengkudeta Suu Kyi

Tokoh

Jenderal Min Aung Hlaing, Sosok di Balik Kudeta Militer Myanmar

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...