Shandy saat menjadi MC pada pertandingan Persebaya melawan Persib pada 2014 lalu di Stadion Gelora Bung Tomo. (Foto: Youtube)
Shandy saat menjadi MC pada pertandingan Persebaya melawan Persib pada 2014 lalu di Stadion Gelora Bung Tomo. (Foto: Youtube)

Shandy Gibol: Kenaikan Harga Tiket Sebuah Keharusan

Ngopibareng.id Surabaya 15 March 2018 19:19 WIB

Harga tiket 'Blessing Game' Persebaya versus Serawak FA yang akan digelar pada 18 Maret 2018 dinilai terlalu tinggi. Bonek Mania merasa keberatan dengan naiknya tiket dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu. Bahkan mereka mengancam akan menggelar aksi di depan manajemen Persebaya. 

Namun, tak semua Bonek Mania setuju dengan penolakan kenaikan harga tiket tersebut. Shandy Gibol, salah satunya.  Bonek Mania Surabaya ini bisa memahami dengan rencana manajemen yang akan menaikan harga tiket.

Kata dia, naiknya posisi Persebaya dari liga II menjadi liga I tentunya akan beda dalam segala hal, mulai dari gaji pemain, harga pemain, beaya operasional, dan lain-lain. Dari pemain, liga I ini harus dituntut lebih profesional lagi. Begitu juga managemen dituntut harus modern dan profesional. 

"Liga I ini belanjanya harus di supermarket yang mewah sekelas Pakuwon atau PTC. Tidak bisa dibawa ke Pasar Turi atau Wonokromo. Karena merknya sudah berbeda. Pemain dengan merk liga I ini pasti akan mahal. Misalnya saja Andik Firmansyah yang sudah pernah main di liga Malaysia, pasti akan memasang tarif tinggi. Harganya Andik bila ditukar dengan harga lokal dapat lima pemain. Coba saja bayangkan," katanya, Kamis, 15 Maret 2018.

Lanjut Shandy, di liga I ini klub harus bertandang ke sejumlah daerah. Sehingga akan menyedot biaya operasional yang lumayan besar. "Berbeda dengan liga II, karena liga ini pembagian wilayahnya regional. Jadi biaya operasionalnya tidak terlalu besar. Tetapi kalau liga I, sudah antarprovinsi, bahkan antarpulau. Misalnya harus tandang ke Sriwijaya FC, Pusamania, atau belum lagi ke Jayapura, tentu akan bertambah biaya operasionalnya," katanya. 

Ditanya sekali main tandang di liga I, Shandi mengatakan sekurang-kurangnya harus pegang uang Rp. 1 Miliar. Anggaran itu untuk transportasi, penginapan, dan lain-lan. "Tidak mungkin kalau pemain kelas liga I kita inapkan di losmen. Tidak mungkin juga kita naik kereta api. Pasti akan berpengaruh pada pemainnya. Belum kalau misalnya karena cuaca buruk atau belum dapat ijin sehingga harus mengalami penundaan, maka anggaran pasti akan membengkak. Jadi 1 M itu all ini," katanya. 

Jadi, sekarang yang perlu dilakukan manajemen, kata Shandy, bagaimana menjelaskan ini semua kepada suporter bahwa Persebaya sekarang sudah di level liga I yang tentu tingkat profesionalnya berbeda dengan liga II. "Ibaratnya kalau dulu sekolah di kampung kemudian pindah di kota besar, tentu biaya kesehariannya akan meningkat," ujar Shandy. (amr)

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Oct 2020 19:20 WIB

Persebaya Libur Latihan, Aryn Pilih Main Golf dan Traveling

Liga Indonesia

Ia ingin tetap mengasah kemampuan otaknya dan refresh mood

24 Oct 2020 16:30 WIB

Gelaran Liga 1 Tak Jelas, Persebaya Tagih Komitmen PSSI

Liga Indonesia

Mereka sudah rugi besar di tengah tak jelasnya kompetisi

24 Oct 2020 16:01 WIB

Kompetisi Tak Jelas, Persebaya Liburkan Latihan

Liga Indonesia

Aji mengaku sudah 'angkat tangan'

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...