Shamsi Ali Sesalkan Sikap Trump Usir Muslim Berkulit Hitam

21 Jul 2019 09:45 Internasional

Tokoh Muslim Amerika asal Indonesia, Imam Shamsi Ali mengaku menyesalkan pennyataan Trump yang dinilai rasis. Dia mengaku menerima keluhan serupa dari banyak muslim kulit hitam di Amerika Serikat.

Founder Pesantren Nusantara di AS ini menyikapi insiden saat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengusir anggota kongres non-kulit putih menuai kecaman luas. Fakta itu menunjukkan, perlakuan rasis kini sudah datang dari Gedung Putih.

Trump sempat mengklarifikasi bahwa pengusiran anggota kongres perempuan untuk kembali ke negara asal itu tidak bermaksud rasis. Namun, Shamsi Ali mengatakan sikap seperti itu harus diubah.

Perlakuan rasis itu dialami muslim dari Asia Selatan seperti Bangladesh. Kulitnya tidak putih. Orang Arab juga menghadapi pelayanan berbeda saat berbelanja.

"Sikap rasisme Amerika semakin terbuka sejak Donald Trump terpilih karena mereka merasa mendapat pembenaran, sehingga mereka semakin terbuka untuk mengekspresikan. White supremacist semakin menjadi-jadi. Targetnya, bukan non kulit putih tapi juga orang Yahudi. Orang Amerika menghadapi masalah berat karena presidennya," tambah Shamsi Ali, dikutip dari BBC, Minggu 21 Juli 2019.

"Rasisme tidak lagi di pinggir jalan tapi keluar dari Gedung Putih," lanjut pria asal Kajang, Bulukumba itu.

"Sikap rasisme Amerika semakin terbuka sejak Donald Trump terpilih karena mereka merasa mendapat pembenaran, sehingga mereka semakin terbuka untuk mengekspresikan," kata Imam Shamsi Ali.

Resolusi mengecam Trump diloloskan setelah 240 suara mendukung dan 187 menentang. Empat anggota Republik - partai pendukung Trump- mengikuti langkah 235 anggota Partai Demokrat yang meloloskan resolusi.

Resolusi ini adalah pernyataan pendapat dan tidak mengikat secara legal. Namun mengkritik perilaku presiden sangat jarang terjadi.

Shamsi Ali yang juga tergabung dalam asosiasi lintas agama di New York, juga mengatakan banyak teman-temannya warga Yahudi yang mengeluh karena mendapat perlakuan serupa.

"Banyak temanYahudi yang mengeluh. Justru dalam beberapa bulan terakhir, persentase anti-Semitisme lebih tinggi daripada anti-Islam. Mungkin karena orang Islam tidak berani melapor...Ini terjadi di mana-mana," katanya.

Semua yang dikategorikan minoritas mendapat perlakuan yang rasis. Dari hispanik, Afrika, orang Yahudi, orang Islam, khususnya dari Timur Tengah dan Asia Selatan mendapat perlakuan rasisme yang cukup tinggi. Karena pelaku rasis seolah mendapat perlindungan pemerintah.

Kontroversi terakhir bermula dari utasan cuitan Trump hari Minggu 14 Juli 2019, yang menyebutkan anggota Kongres, Alexandria Ocasio-Cortez, Ilhan Omar, Ayanna Pressley dan Rashida Tlaib "berasal dari negara-negara dengan pemerintahan yang kacau" dan "harus kembali (ke negara asal)".

Shamsi mengatakan kejadian ini merupakan preseden buruk, terutama bagi warga biasa.

"Mereka anggota kongres dan diperlakukan seperti ini, bagaimana yang seperti kita di pinggir jalan. Anggota kongres aja di suruh pulang ke negaranya. Ini perilaku rasis yang sangat dalam. Amerika dicatat dalam sejarah, Ini memalukan bila tidak segera diubah," kata Shamsi Ali.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini