Pelaksanaan shalat Tarawih di sebuah masjid Muhammdiyah. (foto: dok ngopibareng.id)

Salat Tarawih 11 Rakaat dengan Witirnya, Ini Dalil Muhammadiyah

18 May 2018 02:33

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Muhammadiyah sesuai manhaj yang dipegangnya, dalam masalah shalat tarawih berpegang kepada hadits Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. dan lain-lainnya yang shahih, tidak merujuk kepada pendapat ulama." Tarjih Muhammadiyah.

Sajak awal Ramadhan  tentu pasti banyak pertanyaan soal manakah salat tarawih yang sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Beberapa masjid masih menerapkan salat 23 rakaat. Ada juga yang 11 rakaat.

“Ya manakah yang harus diikuti?” . Pertanyaan seperti ini, hingga kini tetap ada di antara umat Islam di Indonesia. Untuk itu, ngopibareng.id, menurunkan dasar hukum bagi Persarekatan Muhammadiyah yang memegang pelaksanaan Salat Tarawih 11 rakaat dengan witirnya:

Fatwa tarjih 15 Desember 2006 tentang shalat tarawihmenjelaskan bawah salat tarawih23 rakaat, sekalipun sudah begitu memasyarakat, Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) belum menemukan tuntunan dari Rasulullah saw.

Salat tarawih menurut tuntunan Nabi saw adalah hanya dikerjakan 11 dengan witirnya, dikerjakan empat rakaat lalu salam tanpa tahiyyat awal, kemudian empat rakaat lalu salam, dan ditutup dengan salat witir tiga rakaat lalu salam.

Sepanjang penelitian Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, hadits-hadits yang menerangkan tentang salat tarawih 23 rakaat adalah lemah atau dla’if,. Shalat tarawih 23 rakaat, bahkan menurut Imam Malik 36 rakaat, adalah ijtihad ulama dan dipegang oleh sebahagian ulama atau hanya berpegang kepada hadits dla’if yang diperselisihkan oleh para ahli hadits.

Muhammadiyah sesuai manhaj yang dipegangnya, dalam masalah shalat tarawih berpegang kepada hadits Nabi saw riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. dan lain-lainnya yang shahih, tidak merujuk kepada pendapat ulama. Di antara hadits-hadits itu antara lain adalah:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى

إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً

 [رواه البخاري ومسلم] .

Artinya: Dari Abi Salamah Ibnu Abdir-Rahman (dilaporkan) bahwa ia bertanya kepada Aisyah tentang bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadhan . Aisyah menjawab: Nabi saw tidak pernah melakukan salat sunnat (tathawwu‘) di bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat.Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian beliau salat lagi tiga rakaat ... [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Karena salat tarawih itu ibadah mahdlah, kita harus ittiba’ kepada Rasulullah saw.Bahkan Imam asy-Syafi'i berkata: “Apabila hadits itu shahih, itulah pendapatku”

Lalu bagaimana Salat Tarawih dan Witir yang 4,4, dan 3 raka’at dalilnya kalah kuat dengan yang 2, 2, 2, 2, dan 3 raka’at. Sehingga jama’ah yang biasanya melakukan shalat Tarawih 4,4, dan 3 raka’at tidak mau berjama’ah lagi.

Dalam HPT cetakan ketiga telah dimuat keputusan Muktamar Tarjih di Wiradesa tahun 1392 H/ 1972 M. Dalam Muktamar diputuskan tentang shalat Lail berdasarkan dalil-dalil yang lebih luas.

Salat Lail dapat dilakukan empat raka’at – empat raka’at lalu tiga raka’at juga dilakukakan dua raka’at – dua raka’at kemudian tiga raka’at yang semuanya berjumlah 11 raka’at, sesudah dilakukan salat Iftitah dua raka’at.

Wallahu a’lam bishshawab.

Sumber Rujukan:

  • Disidangkan oleh tim Fatwa MTT pada hari Jum’at, 24 Zulqa'dah 1427 H / 15 Desember 2006 M.
  • Majalah Suara Muhammadiyah No. 24 tahun ke-82/1997
  • Buku Tanya Jawab Agama Jilid 1, Suara Muhammadiyah, 2015: 92-94.