Setelah Diperiksa Polisi, Mahasiswa Papua Dipulangkan ke Asrama

18 Aug 2019 17:48 Surabaya

Sebanyak 43 mahasiswa Papua telah dipulangkan ke Asrama Mahasiswa Papua, di Jalan Kalasan Surabaya, Minggu 18 Agustus 2019 dini hari setelah menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar (Mapolrestabes) Surabaya.

"Tadi malam sudah (dipulangkan) pukul 00.00 WIB malam (dini hari), setelah selesai diperiksa semua dari 43 orang itu," kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Sandi Nugroho, Minggu 18 Agustus 2019.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, kata Sandi keseluruh mahasiswa Papua mengaku tak tahu menahu perihal pengrusakan bendera merah putih yang ditemukan di depan asrama mereka.

"Dari hasil pemeriksaan mereka tidak mengetahui (pengerusakan bendera), makanya sementara kita pulangkan ke asrama yang bersangkutan," ujar Sandi.

Sandi mengatakan pihaknya akan tetap mendalami keterangan para mahasiswa. Begitu juga mempelajari alat-alat bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara.

"Sementara masih kita pelajari karrna itu ada 43 itu perlu dievaluasi secara menyeluruh, sehingga kita tahu bahan keterangannya secara utuh," kata dia.

Namun, Sandi enggan membeberkan barang bukti apa saja yang ia temukan di dalam asrama mahasiswa Papua yang terletak di Jalan Kapasan, Surabaya tersebut.

"Kalau untuk barang bukti sedang didata masalah jumlah dan jenisnya," ujar dia.

Sementara itu, kuasa hukum mahasiwa Papua, Fatkhul Khoir menuturkan, bahwa kliennya telahbdi BAP dan disangkakan Pasal 66 juncto Pasal 24 Undang-Undang Nomor 24 tahun 2009 tentang Lambang Negara.

Penangkapan kliennya oleh polisi berdasarkan laporan salah satu ormas tentang perusakan bendera merah putih. Pelapor menuding mahasiswa Papua telag merusak tiang bendera dan membuang ke selokan.

"Namun saat ditanya, rata-rata mereka tidak tahu perusakan bendera mana yang dimaksudkan pelapor," kata Khoir, yang juga Ketua KontraS Surabaya.

Khoir menyebut sebenarnya para mahasiswa mau kooperatif memenuhi panggilan polisi. Namun mereka khawatir akan terjadi hal ya gvtak diinginkan jika keluar asrama karena pada Jumat sore massa mengepung tempat tersebut.

"Polisi sendiri tak memberi jaminan keamanan," ucap Khoir yang juga

Ia juga menyesalkan tindakan polisi yang mendobrak asrama dan menembakkan gas air mata ke arah mahasiswa. Padahal, mahasiswa saat itu dalam kondisi terkurung dan ketakutan.

Penulis : Faiq Azmi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini