Setelah Debat Semalam, Para Warkoper Doyong Kemana?

18 Jan 2019 09:15 NekoNeko

Tak ada warkop yang tutup lebih cepat semalam. Bukan karena betah melek, bukan juga karena malam Jumat. Tapi lebih karena ikut menampung aspirasi para warkoper yang ingin memperpanjang atmosfir debat Capres/Cawapres perdana ke arena sruputan kopi.

Warkoper? Yes, itu sebutan para pecinta warkop yang suka berlama-lama berada dalam warkop. Kopinya sak gelas, wifinya minta kuenceng tapi gratisan, rokoknya beli eceran alias uthilan dan kalau kurang nyamber punya teman.

Tapi jangan salah, mereka ini, para warkoper ini, kritisnya bukan main. Apa saja dikomentari, apa saja dijadikan bahan diskusi. Hanya satu yang barangkali tak pernah dikomentari: soal kopi itu sendiri. Ini kopi asal dari mana. Ini kopi yang nanam petani siapa. Lalu jenis kopinya apa. Kopi petik merah apa kopi asalan. Macam apa proses panennya. Kopi gret berapa. Disangrai model apa. Jangan harap ada komen seperti itu!

Paling banter, soal kopi, hanya dua kalimat yang mereka lontarkan. Om, pakde, Mas, Mbak, Yu, Lik, Kang kopi hitam ya. Satunya lagi, kopi susu ya Yu, Kang, Mbak, Mas, Pakde, Lik. Kalau pun ada tambahan kalimat paling banter juga hanya satu kalimat: pahit ya... gulanya sedikit. Atau, susunya yang banyak, jangan gulanya yang banyak.

Itu saja!

Selain pasang wifi kenceng, lalu digratiskan pemakaiannya, nyaris semua warkop juga memasang televisi. Kadang televisi yang dipasang jor-joran gedenya. Juga canggihnya. Semakin gede teve yang dipasang, asumsinya, makin banyak pula massa warkoper yang berhasil dijaring si warkop.

Warkop untungkah? Kemungkinan iya, sebab dengan full fasilitas seperti ini biasanya warkop tak pernah sepi dari kunjungan para warkoper. Asumsi tambahannya, dengan keramaian begini warkop hidup karena dagangan kopi laku.

Debat Capres perdana semalam membuat warkop cukup jadi pilihan untuk ikut mengunyah atmosfir perjalanan bangsa ini lima tahun ke depan. Tak ada warkop yang tak bikin nobar. Minimal tak ada yang tevenya tak menyetel chanel debat yang dibikin KPU nasional itu. Rame? Jelas! Bahkan lebih rame ketimbang pasar burung. Atau omah tawon. Cuit cuit cuit, weng weng weng, cekakakan, umpatan, pujian, ngumpul jadi satu. 

Tentu bukan rahasia kalau para warkoper terlibat dalam dukung mendukung yang berdebat seru di televisi semalam. Lalu seberapa besar sih dukungan dan keterlibatan mereka kepada masing-masing pasangan calon itu? Entahlah. Yang jelas begitu acara teve usai para warkoper tidak ada yang gelut. Tak ada yang cekcok. Tak ada pula yang baku lempar gelas. Mereka justru pada nyekakak sama-sama, saling menawarkan: ayo podo disruput kopinya ben gak salah paham. 

Selanjutnya ngecuprus. Ngecuprus itu padanannya ngobrol ngalor ngidul. Bahasannya masih perform seputar pasangan Capres. Ada yang terdengar dan bilang, Jokowi terlalu klemak-klemek. Jadi sering kehabisan waktu. Wakilnya sering bilang ken di akhir kata. Seperti zaman Soeharto saja. Kan jadi ken. Berarti orang lawas. Gak milenial blas.

Sebelah sana menimpal, Prabowo terlalu pede. Semua tanpa teks. Bagus, kul, suaranya wungkul, menggelagar. Tapi yang diomongkan akhirnya sepertinya pating pecotot. Untung wakilnya keren, bisa sering nambahi dan mengesankan yang pating pecotot itu tidak ada. Keren. Ganteng pula.

Hehehehe, ayo sekarang sampeyan doyong kemana? Doyong cukup berbeda dengan condong lho. Kalau condong sudah ada kepastian siapa yang bakal jadi pilihan. Sementara kalau doyong itu masih meliuk-liuk. Belum jelas. Bisa ke kiri bisa ke kanan. Alias abu-abu.

Eh, warkop tutup jam berapa sih. Jam berapa sekarang? Wis jago kluruk pakdeeee, ayo bubar. (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini