Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan menggelar Pemilu setelah 15 tahun vakum. (Foto: afp)

Setelah 15 Tahun Vakum, Palestina Siap Gelar Pemilu Mei

16 Jan 2021 14:01

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan menggelar pemilihan parlemen dan presiden (Pemilu). Ini, untuk kali pertama dalam 15 tahun. Hal itu dalam upaya menyembuhkan perpecahan internal yang berkepanjangan.

Langkah tersebut secara luas dilihat sebagai respons atas kritik terhadap legitimasi demokrasi lembaga politik Palestina, termasuk kepresidenan Abbas.

Menurut keputusan yang dikeluarkan kantor Abbas, Palestina akan mengadakan pemilihan legislatif pada 22 Mei dan pemilihan presiden pada 31 Juli.

"Presiden menginstruksikan komite pemilihan dan semua aparatur negara untuk meluncurkan proses pemilihan demokratis di semua kota di tanah air," kata keputusan itu, mengacu pada Tepi Barat yang diduduki, Gaza, dan Yerusalem Timur, seperti dilansir dari TRT World, Sabtu 16 Januari 2021.

Faksi Palestina memperbarui upaya rekonsiliasinya untuk mencoba dan menghadirkan persatuan sejak Israel mencapai perjanjian diplomatik tahun lalu dengan empat negara Arab.

Kesepakatan Arab itu membuat kecewa warga Palestina dan membuat mereka semakin terisolasi di wilayah ini.

Hamas, yang merupakan rival domestik utama Abbas, menyambut baik pengumuman tersebut.

"Kami telah bekerja dalam beberapa bulan terakhir untuk menyelesaikan semua hambatan sehingga kami dapat mencapainya hari ini," kata pernyataan Hamas.

Undang-undang tersebut menyerukan pemilihan umum yang adil, di mana "para pemilih dapat mengekspresikan keinginan mereka tanpa batasan atau tekanan.”

Pemungutan suara parlemen terakhir Palestina, pada 2006, menghasilkan kemenangan mengejutkan oleh Hamas, menciptakan keretakan yang semakin dalam ketika Hamas menguasai Gaza pada 2007.

Jajak pendapat terbaru menunjukkan persaingan yang ketat.

Pada Desember 2020, Pusat Penelitian Kebijakan dan Survei Palestina menemukan bahwa 38 persen akan memilih Fatah dalam pemilihan parlemen, dan 34 persen untuk Hamas.

Namun mereka memperkirakan bahwa Hamas akan unggul dalam pemilihan presiden, dengan 50 persen lebih memilih pemimpin Hamas Ismail Haniyyeh dan 43 persen Abbas.

Meskipun Abbas memenangkan pemilihan presiden terakhir pada tahun 2005, Hamas tidak mencalonkan diri melawannya.