Bekas mata-mata Rusia Sergei Skripal (kanan) dan putrinya Yulia Skripal, mendapat serangan racun. (foto: sky news)

Serangan Racun Terhadap Bekas Mata-mata di London Dipastikan Pola Rusia

15 Mar 2018 13:33

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Serangan racun saraf terhadap seorang mantan mata-mata Rusia yang menetap di London, Sergei Skripal (66) dan putrinya Yulia Skripal (33), mengkonfirmasi adanya pola perilaku Rusia terkait pendekatannya terhadap isu-isu di dunia internasional, kata Duta Besar Inggris Raya untuk Indonesia Moazzam Malik di Jakarta. 

"Menjatuhkan pesawat, aneksasi wilayah, serangan siber dan aksi lainnya meyakinkan kami bahwa Inggris dan mitra kami di seluruh dunia harus mengambil langkah tegas untuk mendorong Rusia agar berperilaku lebih bertanggung jawab di lingkungan internasional," kata Dubes Moazzam kepada awak media di Jakarta, Kamis 15 Maret 2018.

Pernyataan tersebut dikatakan terkait insiden serangan racun saraf kepada mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia Skripal  yang telah menetap di Inggris.

Menurut Moazzam, serangan itu dilakukan dengan menggunakan senajata kimia bernama Novichok, dimana Rusia adalah produsen tunggal dari zat tersebut.

"Jadi kami ingin Rusia menyatakan, sebagai produsen tunggal Novichak, bagaimana mereka bisa kehilangan kendali atas stok mereka, atau menjelaskan tentang keterlibatan mereka dalam serangan ini," jelasnya.

Namun, katanya, Rusia menolak untuk memberikan penjelasan apapun, sehingga dewan keamanan nasional Inggris serta Perdana Menteri Theresa May berkesimpulan besar kemungkinannya bahwa Rusia melakukan serangan ini.

"Hal ini sangat tidak dapat diterima, dimana negara asing melakukan serangan seperti ini di tanah kami. Kami meyakini bahwa serangan ini mengkonfirmasi adanya pola perilaku Russia, terutama dalam beberapa tahun terakhir," jelasnya.

Tidak Diumumkan

Menurut Moazzam, pengembangan zat Novichok merupakan program yang tidak diumumkan, sehingga tidak dapat diatur oleh peraturan internasional mengenai senjata kimia, walau seharusnya zat tersebut diatur dengan regulasi internasional karena tingginya bahaya yang dapat disebabkan oleh Novichok.

"Kami ingin Russia untuk mengikuti peraturan internasional mengenai senjata kimia semacam ini," jelasnya.

Ia menjelaskan insiden penyerangan racun saraf ini merupakan pertama kalinya di Eropa semenjak tahun 1955.

"Jadi ini merupakan pengembangan yang sangat dramatis dari penggunaan racun saraf di Eropa," ungkapnya

Dia juga telah bertemu dengan Menteri Luar Neger RI Retno Marsudi, serta beberapa pejabat Kemlu lainnya, untuk menjelaskan situasi yang tengah terjadi di Inggris Raya saat ini.

"Kami telah memberikan keterangan kepada Kemlu mengenai situasi yang ada di Inggris saat ini, dan mereka terus mengikuti perkembangan, baik dalam ranah bilateral maupun internasional. Kami akan terus melakukan diskusi tentang perkembangan-perkembangan baru yang terus terjadi," jelas Moazzam.

Adapun mengenai hubungan antara Inggris Raya dan Rusia kedepannya, Moazzam mengatakan bahwa pada saat ini, semua masih dalam tahap awal.

"Kami belum memutuskan hubungan diplomatik dengan Rusia dan kami masih terbuka untuk dialog di forum internasional, namun tentu kami harus merespon. Kami telah mengusir 23 diplomat Rusia, dimana mereka merupakan personel intelijen yang tidak diumumkan atau `undeclared`, untuk keluar dari Inggris," katanya.

Sementara itu, Duta Besar Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya pada Rabu (14/3) mengatakan tuduhan Inggris bahwa Moskow bertanggung-jawab atas serangan gas syaraf "sama sekali tak bisa diterima baik".

"Federasi Rusia berpendapat sama sekali tak bisa diterima untuk melontarkan tuduhan yang tidak dapat dibenarkan seperti yang termaktub di dalam surat dari Theresa May yang bertanggal 13 Maret kepada Sekretaris Jenderal PBB," kata Nebenzya dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas tuduhan mengenai penggunaan gas syaraf di Inggris pada 4 Maret.

"Kami menuntut bukti material disediakan mengenai dugaan ditemukannya jejak Rusia dalam peristiwa yang memiliki gema kuat ini. Tanpa ini, pernyataan bahwa ada kebenaran yang tak terbantahkan bukan lah sesuatu yang bisa kami terima," ia menambahkan, sebagaimana dikutip Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. (arr)