Boiler pemanas yang digunakan pengusaha industri tahu dalam proses produksi di Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Jumat 22 November 2019. (Foto: Fariz/ngopibareng.id)

Sepakat Tak Gunakan Sampah Plastik, Ini Syarat Pengusaha Tahu

Human Interest 22 November 2019 16:59 WIB

Pengusaha industri tahu akhirnya bersepakat untuk tidak menggunakan sampah plastik dan kertas sebagai bahan bakar dalam pembuatan tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo.

Sebagai pengganti sampah plastik, para pengusaha direncanakan akan menggunakan kayu bakar dan wood pellet yang diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo.

Salah satu pemikik usaha tahu goreng, Sugiadi mengaku, menyambut baik kesepakatan itu karena mengetahui bahaya polusi yang dihasilkan dari pembakaran sampah.

"Kita punya itikad baik untuk menuju ke sana, karena memang kan asapnya tidak baik. Kita juga tidak mau ini berdampak buruk buat warga sini," ungkap Sugiadi saat ditemui langsung, Jumat 22 November 2019.

Hanya saja, lanjut pria yang akrab disapa Sugi itu, jika rencana penggunaan wood pellet ini harus dimaksimalkan lagi. Sebab, banyak pengusaha yang kesulitan jika harus membeli wood pellet yang harga per truknya sekitar Rp900 juta-Rp1,5 juta.

"Kalau pakai kayu saja tak ngatasi Mas. Bisa cepat habis, terus harganya mahal," ungkapnya.

Apalagi, usaha tahu dinilainya musiman dalam arti masyarakat tidak setiap hari membeli tahu. Dengan itu, penghasilannya tidak tentu di kisaran Rp5 juta-Rp6 juta. Itu belum terpotong untuk membeli satu pick up plastik seharga Rp180 ribu, biaya beli kayu bakar, dan upah tujuh karyawannya.

Karena itu, setelah disepakati kemarin 21 November 2019, bahwa hingga sampai waktu yang tidak ditentukan para pengusaha masih diperbolehkan untuk menggunakan sampah yang dicampurkan dengan kayu bakar.

Sugiadi juga bercerita dalam pertemuan kemarin telah diuji cobakan penggunaan wood pellet dengan menggunakan teknologi mesin burner wood pellet. Sugi menilai, wood pellet masih kurang mengatasi permasalahan.

"Wood pellet itu agak boros, kemarin sudah dicoba gak ngatasi. Dicoba dua sak itu satu saknya isi kalo gak salah 50 Kg, cuma bisa buat masak 9 box tahu. Lah harga satu saknya Rp50 ribu, kalau dua sak jadi Rp100 ribu. Itu kalau cuma bisa buat 9 box ya rugi," katanya.

Untuk itu, ia berharap kepada pemerintah agar dapat memberikan bantuan subsidi kayu atau wood pellet agar para pengusaha tidak kesulitan untuk membeli kayu yang sifatnya tidak tahan lama. Atau menyempurnakan wood pellet menjadi lebih besar agar tahan lama.

Sebelumnya, para pengusaha kata Sugi, sudah pernah dipanggil berdiskusi dengan Wakil Bupati Sidoarjo untuk membahas penggunaan bahan bakar. Beberapa yang ditawarkan adalah city gas milik PT PGN dan gas tabung milik PT Pertamina. Namun, semua tawaran itu ditolak karena justru harganya lebih mahal daripada plastik.

Penulis : Fariz Yarbo

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

07 Jul 2020 12:55 WIB

Pasien Membeludak, Sidoarjo Tambah Lima RS Rujukan Covid

Jawa Timur

Banyak pasien di rujuk ke RS luar kota.

03 Jul 2020 21:51 WIB

Satgas Covid-19 NU Jatim Bantu Aromaterapi Pelega Pernafasan

Jawa Timur

Peduli tenaga kesehatan di masa pandemi Covid-19

01 Jul 2020 13:32 WIB

Pelaku Pembakar Mobil Via Vallen Asli Warga Sumut

Kriminalitas

Nekat datang demi bertemu dengan idola

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...