Market Place Masif Menyerbu Kaliabu, Pamor Brem Bakal Seperti Apa

07 Nov 2018 22:30 Feature

Kaliabu? Brem? Oh, itu ada di Desa Kaliabu pak/bu/mas/mbak/dim. Kalau ada masjid besar, terus belok ke kiri. Atau jika dari arah Madiun, kalau sudah bertemu masjid belok ke kanan. Masuk saja lurus, nah disitu banyak orang membuat Brem.

Itulah kira-kira bunyi dialog yang bakal Anda temui jika mencari sentra Brem di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Brem begitu terkenal, namun untuk mencari di mana sentra pembuatannya, dijamin Anda tak akan mudah menemukan arah dan penanda menuju ke sana.

Desa Kaliabu, Caruban, Kabupaten Madiun bisa dijangkau melalui jalan Provinsi dari arah Surabaya, maupun dari arah Solo jika harus melewati Kabupaten Ngawi atau Kota Madiun.

Menggunakan jalur Kereta Api juga bisa. Tapi harus turun di Stasiun Caruban terlebih dahulu. Lalu cari ojek, atau cari apa saja yang bisa antar ke sana.

Emm... semudah itukah mencapai Kaliabu? Jawabnya adalah tidak!

Setidaknya diperlukan bertanya 3-4 kali baru bisa mencapai Desa Kaliabu tanpa salah arah.

Jalan menuju lokasi tersebut, penandanya benar-benar sebuah masjid. Masjid megah yang sedang dibangun masyarakat tak begitu jauh dari simpang tiga yang memecah jalur menuju Surakarta lewat Kota Madiun atau Kabupaten Ngawi.

Jadi, andai tidak ada masjid megah itu, lantas apa penanda menuju sentra Brem yang begoti penting bagi penanda Kabupaten Madiun itu?

Memasuki Desa Kaliabu setelah berhasil menemukan masjid masih harus melintasi persawahan yang cukup panjang. Jalan aspalnya tidak begitu bagus, banyak lubang disana-sini.

Ini brem dengan merk perorangan nangkring juga di situs bukalapak Digitalisasi memudahkan atau malah membuat mereka akan lebih cepat tergerus zaman fotoistbukalapakcom
Ini brem dengan merk perorangan, nangkring juga di situs bukalapak. Digitalisasi memudahkan atau malah membuat mereka akan lebih cepat tergerus zaman? foto:ist/bukalapak.com

Menjelang memasuki Kaliabu jalan bercabang jadi dua. Jika Anda yang baru pertama kali masuk ke desa ini bisa dipastikan pengemudi akan memilih jalan yang pecah di kiri. Sebab, jalanan jauh lebih bagus, selain menjanjikan arah yang benar menuju lokasi para perajin brem.

Kalau jalan bagus  itu yang dipilih, maka dipastikan seratus persen bahwa itu adalah jalan yang salah. Lhoh! Piye toh...

Justru jalan yang benar seharusnya adalah jalur yang pecah ke arah kanan. Padahal itu adalah jalan yang sangat buruk. Tidak hanya berlubang, tapi juga mleyot-mleyot dan berlumbur. Jadi kalau hujan datang, niscaya orang akan batal membelanjakan uangnya dan memilih kembali ketimbang susah-susah mencapai Kaliabu.

Persis di jalan bercabang dua itu bqru terdapat papan bor yang menunjukkan arah Kaliabu. Namun papan tersebut sangat tak layak dijadikan sebagai penanda sebuah sentra UKM.

Meski terbuat dari besi seperti papan-papan reklame lain, papan hanya dibuat sekadarnya. Selebihnya cat sudah mengelupas, dan tulisan yang tertera sama sekali tak mampu dibaca. Kondisi seperti ini jelas tidak sesuai dengan nama besar Brem Madiun, yang mengharumkan dua wilayah sekaligus yaitu Kabupaten dan Kota Madiun.

Bu Kepala Dusun yang masih setia menggunakan manual tangan untuk membuat rasa brem tetap seperti legenda fotowidikamidingopibarengid
Bu Kepala Dusun, yang masih setia menggunakan manual tangan untuk membuat rasa brem tetap seperti legenda. foto:widikamidi/ngopibareng.id

Jangan membayangkan Kaliabu adalah sebuah sentra UKM terorganisir.seperti sentra tas di Intako Tanggulangin, sentra kulit di Magetan, atau sesama sentra makanan khas seperti Tape Bondowoso di Bondowoso juga Bakpia Pathuk di Jogjakarta.

Kaliabu tampak seperti desa dengan sedikit aktivitas. Hanya terdapat beberapa toko yang memasang papan nama yang menjual makanan khas Brem Kaliabu.

Nah, andai Brem tidak memiliki nama besar yang seperti sudah melegenda itu, apa yang terjadi dengan perajin-perajin Brem di Desa Kaliabu?

Mungkin, Dusun Tempuran akan segera mengikuti jejak Dusun Bodang, Lemah Ireng, Sumberjo, dan Dusun Kaliabu sendiri. Hanya mengandalkan pertanian atau lebih memilih bermigrasi ke kota agar bisa mencari penghasilan yang lebih baik. Menjadi urban culture masif yang merumitkan sistem kependudukan bukan? (widikamidi/selesai dari 3 tulisan)

Reporter/Penulis : widi kamidi
Editor : Rohman Taufik


Bagikan artikel ini