Selama Tak Melarang Shalat, Pemerintah Wajib Dihormati

10 Jan 2019 14:43 Khazanah

Ketika Nabi Muhammad hijrah karena dizalimi, lebih tepatnya, penduduk Makkah dizalimi oleh pemerintah. Maka, Nabi Muhammad tidak melawan. Sebab kalau melawan, berarti memberontak. Perbuatan memberontak (bughot) dilarang dalam agama.

Rais Syuriyah PBNU KH Mustofa Aqil Siroj mengungkapkan hal itu, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Kamis 10 Januari 2018.

“Jadi yang melawan pemerintah sama dengan pemberontak,” jelas Ketua Umum PB Majelis Dzikir Hubbul Wathon (MDHW) ini.

Dalam sebuah hadits, lanjutnya, Nabi Muhammad memerintahkan kepada umat Islam untuk menaati dan menghargai pemerintah sepanjang tidak melarang shalat.

“Bila pemerintah tidak melarang shalat, harus dihormati dan dihargai, jangan dihina. Maka ketika kita sudah paham bahwa negara kita adalah Indonesia yang berideologi Pancasila, lantas ada ormas yang anti-Pancasila, apa bedanya dengan pemberontakan? Minimal itu adalah benih-benihnya,” tutur Kiai Mustofa.

“Bila pemerintah tidak melarang shalat, harus dihormati dan dihargai, jangan dihina. Maka ketika kita sudah paham bahwa negara kita adalah Indonesia yang berideologi Pancasila, lantas ada ormas yang anti-Pancasila, apa bedanya dengan pemberontakan? Minimal itu adalah benih-benihnya,” tutur Kiai Mustofa.

Maka, ia mengajak umat Islam untuk mengambil pelajaran dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad Saw adalah bahwa Nabi Muhammad sebagai penduduk Makkah, tidak melawan kepada pemerintah sekalipun telah dizhalimi.

“Akhirnya di situlah Nabi memutuskan untuk hijrah. Ketika hijrah dan sudah sampai di Madinah, Nabi dizolimi oleh penguasa Makkah yang dulu menzoliminya, lantas Nabi melawan. Karena posisinya sudah bukan lagi sebagai penduduk Makkah,” pungkas Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini.

Kiai Mustofa Aqil Siroj sebelumnya menjelaskan, dalam mauidzah hasanah dalam Haul Gus Dur ke-9, Pesantren Motivasi Indonesia, Kampung Cinyosog, Desa Burangkeng, Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Dalam kesempatan Haul Gus Dur ke-9 ini, selain Kiai Mustofa, hadir juga beberapa tokoh. Diantaranya Ketua Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Agus Salim, Pengasuh PMI KH Nurul Huda, dan perwakilan dari Katolik Romo Antonius Antara Pr.

Acara ini dihibur Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bekasi, Musik Jalanan Center, dan cucu Mbah Surip sekaligus Penasihat Iwan Fals, Farid Surip. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini