Selama Ramadhan, Sahih Bukhari Banyak Diminati di Tebuireng

07 May 2019 01:24 Khazanah

Telah menjadi tradisi selama Ramadhan, Pondok Pesantren di Indonesia menggelar pengajian khusus untuk umum dan kajian kitab kuning. Ini telah menjadi tradisi bertahun-tahun dan terpelihara hingga kini.

“Sama dengan tahun-tahun sebelumnya, beberapa kitab akan dibaca dan dikaji baik di masjid yang pesertanya masyarakat umum maupun di pondok yang pesertanya santri yang dibagi dalam beberapa kelas,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif, Desa Denanyar, Kecamatan Jombang, KH Abdussalam Sokhib.

Gus Salam, panggilan akrabnya, menuturkan, sesuai jadwal, khataman kitab akan dimulai sejak tanggal 1 hingga 25 Ramadhan.

“Kalau yang akan dibaca di masjid sekitar 10 kitab,” katanya. Selain kiai atau ustad membacakan isi kitab, masyarakat bisa mengajukan pertanyaan terkait tema yang dibacakan. “Sehingga ada dialog atau diskusi dua arah,” ujarnya.

"Ada sekitar 23 kitab yang akan dibaca dan dikaji oleh 29 kiai dan ustad di Tebuireng. Kitab-kitab tersebut mengajarkan tentang tata cara ibadah, moral, etika, keimanan, tafsir Al Qur’an dan hadits, dan sebagainya. Yang paling banyak peminatnya biasanya kitab Sahih Bukhari."

Mambaul Ma’arif merupakan salah satu pesantren tertua di Jombang yang didirikan salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) KH Bisri Syansuri.

Memang, bagi umat Islam, ibadah Ramadhan tak hanya berpuasa yang hukumnya wajib. Namun, Ramadhan juga jadi ajang menambah ilmu dan pengetahuan berbagai bidang. Mulai tentang tata cara ibadah (fikih), moral, etika, keimanan, pendidikan, sosial kemasyarakatan, tafsir Al-Qur’an dan hadits, hingga tasawuf.

Ilmu dan pengetahuan itu bisa didapat dari berbagai macam kitab berisi ajaran ibadah hingga filsafat yang dibaca dan dikaji di berbagai pesantren. Di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Ramadhan jadi kesempatan para santri maupun masyarakat umum menambah ilmu dan pengetahuan mereka dari kitab-kitab yang dibaca di masjid maupun pesantren.

Seperti biasanya, berbagai pesantren di Jombang mulai menggelar kajian kitab-kitab kuning atau kitab gundul mulai awal Ramadhan dan akan dituntaskan (dikhatamkan) sampai pertengahan atau akhir Ramadhan . Tanggal 1 Ramadhan 1440 Hijriyah tahun ini bertepatan dengan 6 Mei 2019.

Disebut kitab kuning karena pada umumnya warna kertas pada kitab-kitab tersebut kuning muda. Disebut kitab gundul karena pada umumnya hanya berisi kata atau kalimat berhuruf Arab tanpa ada harakat atau tanda baca vokal dalam tata bahasa Arab.

Kajian kitab-kitab kuning juga dilakukan di masjid dan Pondok Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Jombang, yang diasuh KH Salahudin Wahid atau Gus Solah.

Salah satu pengurus pesantren, Lukman Hakim, mengatakan dalam Ramadhan tahun ini Tebuireng juga menggelar pengajian beberapa kitab. “Pengajian kitab selama Ramadhan akan dimulai tanggal 6-26 Mei (1-21 Ramadhan ),” katanya.

Peserta pengajian kitab di masjid adalah para santri dan masyarakat umum. Masyarakat bisa dari Jombang atau luar Jombang yang sering diistilahkan santri kalong.

Santri kalong (kelelawar besar), menurut Lukman, maksudnya orang yang mengaji di pondok lalu kembali ke rumah atau daerah asal mereka ibarat kelelawar yang kembali ke habitatnya.

Ada sekitar 23 kitab yang akan dibaca dan dikaji oleh 29 kiai dan ustad di Tebuireng. Kitab-kitab tersebut mengajarkan tentang tata cara ibadah, moral, etika, keimanan, tafsir Al Qur’an dan hadits, dan sebagainya. Yang paling banyak peminatnya biasanya kitab Sahih Bukhari.

Sahih Bukhari adalah kitab berisi hadits-hadits Nabi Muhammad yang terpercaya yang diriwayatkan Imam Bukhori. Kitab ini juga rutin dibaca sejak zaman pendiri pondok pesantren Tebuireng yang juga pendiri NU KH Hasyim Asy’ari. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini