Sekjen REI: Underpass Satelit Bukti Kepedulian Pengusaha Properti

10 Jun 2019 06:15 Properti

Underpass yang menghubungkan Jalan Mayjen Sungkono dan HR Muhammad Surabaya telah diresmikan. Jalan bawah tanah di Bundaran Satelit ini menjadi hadiah Hari Jadi Kota Surabaya ke 726.

Infrastruktur yang mengurai kemacetan jalur utama ke Surabaya Barat itu telah diresmikan Walikota Surabaya Tri Risma Harini. Tapi bagaimana jalan tembus bawah tanah pertama di Surabaya itu bisa terwujud?

"Ya ini bukti kepedulian para pengembang di Surabaya. Mereka tidak hanya bangun rumah, tapi juga membangun fasilitas masyarakat di sekitarnya," kata Sekjen DPP REI (Real Estate Indonesia) Totok Lusida.

Gagasan membangun underpass di bundaran satelit mulai sejak tiga tahun lalu. Saat Totok masih menjadi Ketua DPD REI Jatim. Ia kemudian terpilih menjadi Sekjen DPP REI 2017.

Menurut Totok, saat menjadi Ketua DPD REI Jatim, ia mengajak para pengembang untuk membuat underpass bundaran satelit. Tujuannya untuk mengurai kemacetan menuju Surabaya Barat yang makin hari makin parah.

Gagasan membangun underpass untuk mengurai kemacetan itu gayung bersambut. Sejumlah pengembang langsung berkomitmen untuk urunan. Ia pun langsung gerak cepat merealisasikan.

Totok terus mengawal idenya tersebut meski tak lagi menjadi Ketua DPD REI Jatim. Sebagai Sekjen DPP REI ia tetap berhubungan dekat dengan para pengembang Surabaya. Ia juga yang berkoordinasi dengan Pemkot Surabaya untuk pembangunannya.

"Namun, pembangunan underpass tersebut sempat tersendat karena banyak fasilitas bawah tanah yang harus dipindah. Ada 10 perusahaan yang punya peralatan di bawah tanah itu," jelas Totok.

Tak hanya itu. Stagnannya pasar properti di Indonesia juga sempat membuat pembangunan underpass satu-satunnya di Surabaya ini molor. "Bahkan ada pengembang yang mundur tidak ikut berpartisipasi," ujar sarjana farmasi yang jadi pengembang ini.

Totok Lusida kanan menandatangani serah terima hibah dari pengembang ke Pemkot Surabaya
Totok Lusida (kanan) menandatangani serah terima hibah dari pengembang ke Pemkot Surabaya.

Pembangunan fasilitas jalan yang menghabiskan dana sekitar Rp 60 Miliar ini ditanggung 24 pengembang dan pengusaha Surabaya. Mereka antara lain Pakuwon Mall, Grand Pakuwon, Intiland, PT Sanggar Asri Sentosa, PT PP Properti Tbk, dan Capital Square.

Juga CitraLand Surabaya, CitraLand The GreenLake, Ciputra World Surabaya, Grand Harvest, PT Darmo Permai, PT Darmo Satelite Town, PT Bhakti Tamara, Darmohill Aprtemen and Residential, PT Alam Galaxy, dan PT Puri Galaxy.

Lainnya adalab PT Dian Permana, Prambanan Residence, Sinarmas Land, PT Adhibaladika Agung, Tanrise Property, PT Wijaya Karya Realty, Mayapada Group, dan Kapal Api Group.

Totok menambahkan, target sisa pembangunan underpass itu akan dikakukan efesiensi. Termasuk usul memasang reklame di dinding underpass sehingga bisa menambah pemasukan Pemkot Surabaya.

Proyek gotong royong pengembang membangun infrastruktur ini sudah beberapa kali terjadi. Para pengembang pernah bersama-sama membangun jalan tembus Unesa ke Jalan Raya Wiyung. Juga membiayai pembuatan Surabaya Vission Plan dengan konsultan Ridwan Kamil. (rif)