Perayaan Lebaran Ketupat. (Foto: Antara)

Sejarah, Makna dan Tradisi Lebaran Ketupat di Berbagai Daerah

Feature 31 May 2020 02:47 WIB

Umat Islam di berbagai daerah terutama di Jawa merayakan lebaran ketupat atau kupatan tepat sepekan setelah lebaran Idul Fitri. Lebaran Ketupat adalah hari lebaran ke 8 atau tanggal 8 Syawal. Artinya jika Idul Fitri jatuh pada hari Minggu, maka Lebaran Ketupat juga akan jatuh pada hari Minggu di pekan berikutnya.

Di Indonesia sendiri, Lebaran Ketupat dirayakan di berbagai daerah mulai dari Jawa, Madura, Kalimantan, Sumatera hingga ke daerah Timur Indonesia.

Lantas Bagaimana Sejarah dan Makna Lebaran Ketupat? Berikut beberapa fakta Lebaran Ketupat di Berbagai Daerah:

1. Disebut Hari Raya Kecil
Bagi umat Islam di Indonesia, Lebaran Ketupat disebut juga lebaran kecil. Umat islam yang menjalankan ibadah puasa syawal selama 6 hari akan merayakan Lebaran Ketupat di hari berikutnya.
Puasa syawal enam hari merupakan sunnah yang diajarkan nabi dan memiliki pahala seperti berpuasa selama satu tahun.
Puasa syawal dimulai pada hari kedua lebaran. Dilakukan selama enam hari sehingga di hari berikutnya atau tepat di hari ke 8 lebaran, mereka akan merayakan lebaran syawal atau lebaran setelah berpuasa 6 hari di bulan syawal.

2. Diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga
Mengutip NU Online, Lebaran Ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, Sunan yang paling nyentrik di antara 9 sunan di tanah Jawa ini mengenalkan dua bakda kepada pengikutnya.
Bakda pertama adalah bakda lebaran, kemudian bakda kedua adalah Bakda Kupat. Bakda adalah bahasa arab yang berarti sesusah.
Bakda lebaran dimaknai oleh Sunan Kalijaga sebagai pelaksaan Salat Idul Futri 1 Syawal yang dilanjutkan tradisi saling unjung-unjung untuk meminta maaf ke sanak saudara.
Sedangkan Bakda Kupat dilakukan seminggu kemudian dengan membuat kupat atau makanan dari beras berbungkus janur berbentuk segi empat. Kupat kemudian diantarkan ke sanak saudara sebagai simbol kebersamaan dan lambang kasih sayang.

3. Filosofi Ketupat
Dalam tradisi Jawa, ketupat atau kupat diartikan sebagai ngaku lepat atau mengakui kesalahan. Kupat juga bisa diartikan sebagai laku papat atau empat tindakan yang diajarkan oleh agama.
Ngaku lepat ini di berbagai daerah lantas diwujudkan dengan menyediakan makanan ketupat disertai sayuran yang diberikan kepada siapapun warga yang singgah ke rumah. Tradisi semacam ini umum dilakukan diberbagai daerah.
Sedangkan untuk laku papat, diartikan oleh masyarakat Jawa sebagai lebaran (usai atau setelah Ramadhan siap menyongsong kemenangan), luberan (meluber atau melimpah rezeki untuk dibagikan ke fakir miskin), leburan (melebur atua momentum untuk melebur dosa) dan laburan (kapur berwarna putih sehingga kita kembali menjadi putih suci).

4. Tradisi Lebaran Ketupat di Berbagai Daerah
Tradisi kupatan dilakukan berbeda-beda. Namun mayoritas melakukannya seperti Lebaran Idul Fitri.

-Trenggalek
Di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Lebaran Ketupat dinamakan Kupatan dan dilakukan dengan cara semua rumah dibuka dan warga menyediakan aneka makanan dengan menu utama ketupat. Setiap tamu, kenal atau tidak dipersilakan masuk untuk makan.
Durenan ini mungkin satu dari sekian daerah yang paling ramai merayakan kupatan. Di daerah ini ada sejarah Mbah Mesir, tokoh masyarakat setempat, yang menurunkan tradisi kupatan. Saat perayaan kupatan, kawasan Durenan akan dipenuhi oleh ribuan umat dari berbagai penjuru. Semuanya akan menuju ke Durenan untuk berpesta makanan karena setiap rumah di daerah ini menyediakan makanan ketupat gratis yang bisa dimakan siapapun yang datang.

-Madura
Bagi masyarakat Madura, Lebaran Ketupat disebut Lebaran Tereter dan dilakukan di hari ke 8 Syawal dengan cara menyerahkan ketupat lengkap dengan opor atau ayam goreng kepada imam masjid atau mushola. Selanjutnya, warga akan berkumpul berdoa dan makan bersama.

-Kudus
Di Kudus, Jawa Tengah, Lebaran Ketupat dilakukan dengan prosesi kirab gunungan Seribu Ketupat. Selain kirab, masyarakat juga melakukan tradisi ziarah ke Makam Sunan Muria.

-Manado
Di Manado Lebaran Ketupat dilakukan masyarakat dengan saling unjung-unjung persis seperti Lebaran Idul Fitri. Warga membuka pintu rumahnya untuk menerima tamu yang ingin berlebaran.

-Lombok
Di Lombok, Lebaran Ketupat dinamai Lebaran Topat dan dilakukan dengan tradisi nyangkar. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan orang Sasak saat Lebaran Topat.
Di daerah ini, masyarakat akan melakukan arak-arakan cidomo bias yang mengangkut dulang berisi ketupat menuju pusat perayaan di makam Loang Baloq.
Selanjutnya masyarakat akan berdoa bersama dan dilanjutkan dengan makan ketupat.

-Magelang
Di Magelang khususnya di Desa Payaman ada tradisi Balon Syawalan saat Lebaran Ketupat. Tradisi ini sudah berlangsung sejak tahun 1980an. Warga akan menerbangkan balon tradisional dari plastik ke udara sebagai tanda syawalan.

-Pasuruan
Di Desa Tambak Lekok, Pasuruan punya cara unik menggelar Lebaran Ketupat dengan lomba skilot. Lomba skilot adalah lomba adu cepat dengan berselancar di atas lumpur. Skilot berarti ski dan lot (bahasa Madura lumpur).

-Rembang
Di daerah rembang Lebaran Ketupat dinamakan Rioyo Kupat dan dilakuakn dengan memasak ketupat dan makan bersama di Masjid atau Mushola. Tradisi ini digelar usai Salat Subuh.

-Gresik
Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Lebaran Ketupat dipusatkan di alun-alun terutama di Kampung Kauman. Di Kauman, Lebaran Ketupat dirayakan usai Salat Magrib warga akan saling mengunjungi dan menikmati hidangan ketupat.

Penulis : Rohman Taufik

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

07 Aug 2020 00:00 WIB

Bintang Dokumenter Netflix Daisy Coleman Tewas Bunuh Diri

Selebriti

Daisy Coleman meninggal di usia 23 tahun.

06 Aug 2020 23:44 WIB

Ganjar Datangi Rumah Warga di Pelosok Wonogiri

Nusantara

Ganjar melakukan kunjungan ke Wonogiri.

06 Aug 2020 23:40 WIB

Angka Kesembuhan Meningkat, Kasus Di Kelurahan Surabaya Turun

Surabaya

Angka kumulatif pasien sembuh hingga Rabu, kemarin, ada 5.822 orang

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...