Sebuah Mitos Perayaan Tahun Baru Imlek Tanpa Hujan Kurang Afdol

05 Feb 2019 09:01 Nasional

Suasana perayaan tahun baru imlek 2570, hari ini Selasa 5 Januari 2019 berlangsung aman. Beberapa Vihara di daerah Petak Sembilan Glodok Jakarta Barat terus dipadati etnis Tionghoa untuk beribadah menyambut datangnya pergantian tahun menurut kalender Cina. Mereka berdoa agar dipanjangkan umur serta diberi limpahan rezeki.

Di halaman Vihara ada umat yang melepas burung 'emprit' atau burung kecil yang biasa hidup di sawah, sebagai perlambang untuk membuang sial, dan menyalakan lilin besar simbul supaya mendapatkan cahaya hidup yang terang.

Perayaan Imlek secara individu biasanya berkumpul keluarga sambil makan makan dengan menu yang lazim disajikan dalam merayakan Imlek seperti ikan bandeng, mie panjang, buah jeruk dan buah buahan berwarna merah.

Sementara orang awam ada yang mengidentikan Imlek dengan bagi-bagi 'angpau' atau uang. Sehingga tak heran di setiap Vihara juga dipadati juga orang yang berharap sedekah dari orang yang datang ke Viara.

Mereka berkumpul di depan Vira dan langsung bergerak ketika melihat ada yang membagikan uang, karena rebutan, tidak semua kebagian. Ada istilah yang kuat yang dapat

Masyarakat Tionghoa juga punya keyakinan bahwa hujan turun yang turun pada perayaan tahun baru Imlek, pertanda akan memperoleh berkah dan doa kepada Tuhan akan terkabul. Tapi cuaca di Jakarta sejak Senin malam hingga Selasa ini cukup cerah belum ada tanda tanda tanda hujan akan turun.

Ketua pengurus Vihara Dharma Bhakti Gunawan mencoba menjelaskan bahwa hujan dan imlek itu mitos. Hujan tidak bisa dijadikan rujukan atau pertanda doa mereka akan terkabul atau tidak.

"Kebetulan setiap tahun baru Imlek waktunya bersamaan dengan musim. Meskipun begitu hujan kan tidak turun terus-menerus," kata Gunawan.

Gunawan juga menjelaskan bahwa Imlek merupakan suatu perayaan tradisi menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin yang dilakukan oleh suku bangsa Tionghoa di Tiongkok (Cina), yang dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari penggantian tahun. Tahun baru Imlek adalah tahun barunya semua orang Tionghoa terlepas dari apa pun agamanya.

Salah seorang pemimpin umat Budha, Bhikkhu Utamo mengatakan ada kesalahpahaman dari sebagian masyarakat Indonesia, bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha, Khong Hucu atau Tao.

Sehingga ketika umat Buddha Indonesia yang sebagian besar terutama di perkotaan adalah keturunan etnis Tionghoa merayakan Imlek, maka sebagian besar orang beranggapan bahwa Imlek adalah hari raya agama Budha.

"Agama Buddha tidak berhubungan langsung dengan tradisi Tionghoa tetapi tidak melarang umatnya untuk melaksanakan tradisi umatnya masing-masing,” kata Bhante.

Bhante Uttamo menghimbau agar Imlek jangan hanya diisi dengan sembahyang dan pesta makan-makan saja, melainkan dijadikan momen untuk merenung dalam setahun lalu apa yang sudah kita lakukan. Apa yang sudah baik dipertahankan dan terus dikembangkan, apa yang buruk ditinggalkan. (asm)

Reporter/Penulis : Asmanu Sudharso
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini