Sebelum MRT Jakarta Beroperasi, Nikmati Dulu MRT di Kuala Lumpur

21 Feb 2019 11:03 Feature

Masyarakat Indonesia, khususnya warga Jakarta, akan menikmati moda transportasi baru untuk mobilitas sehari-hari.

Konstruksi Moda Raya Terpadu (Mass Rapid Transit/MRT) Jakarta rute Bundaran Hotel Indonesia-Lebak Bulus telah rampung dan sudah beberapa kali diujicoba untuk publik.

Kalau Jakarta masih menanti MRT resmi beroperasi pada Maret, Ibu Kota Malaysia, Kuala Lumpur, sudah lebih dulu menikmati angkutan massal ini.

Di Kuala Lumpur, sejak 2016 MRT merupakan moda yang terintegrasi dengan angkutan massal lain seperti Light Rapid Transit (LRT), monorel, dan kereta cepat bandara.

Untuk mencoba MRT di Negeri Jiran, gunakanlah kereta cepat dari Bandara Internasional Kuala Lumpur menuju KL Sentral yang merupakan stasiun kereta api utama di Kuala Lumpur di mana berbagai moda transportasi terintegrasi untuk menghubungkan area permukiman, komersial, serta industri di perkotaan dan pinggiran kota.

Dengan menggunakan kereta cepat, hanya butuh waktu 30 menit untuk mencapai KL Sentral. Selanjutnya, menuju ke Stasiun Muzium Negara yang merupakan stasiun MRT bawah tanah di KL Sentral.

Akses menuju stasiun MRT terbilang mudah, bahkan bagi wisatawan yang membawa banyak barang bawaan, karena dilengkapi fasilitas eskalator dan travelator, juga elevator khusus untuk orang dengan disabilitas.

Stasiun Muzium Negara, seperti halnya stasiun MRT lain di Kuala Lumpur, memiliki fasilitas penunjang seperti papan petunjuk arah, CCTV, toilet, tempat sampah, tempat duduk, dan papan keterangan waktu datangnya kereta.

Layanan pembelian tiket di seluruh stasiun MRT di Malaysia sudah menggunakan anjungan tiket mandiri, di mana calon penumpang bisa memilih sendiri tujuan mereka, dan membayar tarif perjalanan dengan memasukkan uang kertas maupun koin.

Harga tiket untuk setiap tujuan berbeda-beda, tergantung jarak tempuh. Dari KL Sentral menuju Bukit Bintang yang jaraknya tiga stasiun, harga tiketnya 1,8 RM atau sekitar Rp6 ribu dengan waktu tempuh tujuh menit.

Sementara dari Stasiun Merdeka di kawasan Pudu menuju ke Stasiun Sungai Buloh, salah satu ujung stasiun yang terletak di Selangor, yang berjarak 22 kilometer, tiket MRT dipatok seharga 3,8 RM atau sekitar Rp13 ribu. Perjalanan dari Stasiun Merdeka ke Stasiun Sungai Buloh memakan waktu 40 menit.

Antara juga mencoba menggunakan MRT menuju Bukit Bintang, salah satu pusat perbelanjaan dan hiburan di Kuala Lumpur. Setelah membayar di anjungan tiket mandiri, Antara mendapat token berwarna biru yang tinggal diketukkan di pintu masuk.

Sesudahnya, calon penumbang hanya perlu menunggu datangnya kereta, yang bisa dipantau dari papan petunjuk. Interval waktu kedatangan kereta di setiap stasiun cukup beragam, berkisar tiga sampai lima menit sekali.

Setelah kereta tiba, calon penumpang harus menunggu penumpang yang ingin turun dahulu sebelum memasuki kereta.

Fasilitas di dalam kereta memadai. Selain bangku untuk penumpang prioritas, juga disediakan pegangan tangan untuk penumpang yang berdiri, pendingin ruangan, serta informasi status keberangkatan dan tujuan kereta yang disampaikan dalam bentuk audio dan visual.

MRT di Malaysia dijalankan dengan teknologi serba otomatis. Tidak ada ruang untuk masinis, dan pintu kereta yang bisa membuka-menutup secara otomatis.

Setelah tiba di tujuan, penumpang bisa keluar dengan memasukkan token di pintu keluar stasiun. Jadi pastikan menjaga baik-baik token selama perjalanan.

Jika ada masalah seperti token hilang atau berhenti bukan di stasiun awal yang dituju, penumpang dapat menghubungi petugas di loket layanan pelanggan yang berada di dekat pintu masuk dan pintu keluar.

Berbagai fasilitas, akses, dan kecanggihan teknologi terbukti memberi kemudahan untuk mobilitas warga setempat maupun wisatawan yang berkunjung di Malaysia.

Kesan Warga dan Turis Lalu, apa pendapat warga lokal maupun wisatawan mengenai MRT Malaysia? Lukas Jung, seorang wisatawan asal Jerman, mengkritisi masih kurangnya papan petunjuk arah dan informasi, yang membuat dia beberapa kali salah memilih platform.

Ia juga berpendapat jika MRT Malaysia menggunakan sistem kartu yang dapat digunakan berkali-kali atau dalam jangka waktu tertentu misalnya tiga hari atau satu minggu, maka itu akan lebih mudah bagi wisatawan asing, membuat mereka tidak perlu membeli tiket setiap akan menuju suatu tempat.

"Tetapi MRT ini sangat berguna untuk saya bepergian ke mana pun, karena harganya yang cukup murah dan sangat ramah lingkungan," kata Lukas.

Sementara bagi warga Malaysia, keberadaan MRT sangat bermanfaat sebagai alternatif pelengkap bagi KTM komuter yang jalannya tidak begitu cepat.

Warga setempat juga diuntungkan dengan kebijakan tambahan yang ditetapkan Pemerintah Malaysia mengenai kartu pass My100 dan My50. Dengan membeli kartu seharga 100 RM, penumpang dapat bepergian berkali-kali menggunakan kereta yang terintegrasi dalam jaringan Rapid KL atau jaringan bus selama 30 hari untuk perjalanan tanpa batas menggunakan LRT, MRT, monorel, BRT, bus Rapid MR, serta bus pengumpan.

Sementara kartu seharga 50 RM hanya dapat digunakan untuk bepergian menggunakan bus Rapid KL dan bus pengumpan, tidak termasuk BRT.

"Sayangnya layanan MRT hanya tersedia di sekeliling Lembah Kilang (Kuala Lumpur) dan Selangor, belum mencakup negara bagian yang lain seperti Kelantan atau Negeri Sembilan," kata Nur Asilah Soraya binti Lokman, mahasiswi Universiti Islam Antarbangsa Malaysia.

Sedangkan bagi Abdul Bari, menjajal MRT di Malaysia menjadi pengalaman baru baginya. Selain harga tiket yang terjangkau, Abdul juga memuji integrasi MRT di Malaysia dengan moda transportasi lain yang memudahkan mobilitasnya.

Ia berharap keberadaan MRT di Jakarta nantinya akan dapat menyamai atau bahkan menandingi MRT yang telah lebih dahulu dioperasikan di Negeri Jiran.

"Harapan saya jujur saya semoga (MRT Jakarta) tidak sebobrok komuternya," ujar Abdul.

Operasi Jaringan MRT Sungai Buloh-Kajang mulai beroperasi pada Desember 2016 dengan pembukaan fase pertama sepanjang 21 kilometer mencakup Sungai Buloh-Semantan, yang terdiri dari 12 stasiun.

Pembangunan dilanjutkan dengan fase kedua dan pada Juli 2017 jalur MRT Sungai Buloh-Kajang sepanjang 51 kilometer beroperasi penuh dengan total 31 stasiun.

Proyek senilai 23 miliar RM atau sekitar Rp79,40 triliun itu berfungsi sebagai koridor bagi populasi 1,2 juta orang, menghubungkan permukiman warga dengan tujuan mereka di kota.

Setiap set MRT yang melayani jalur Sungai Buloh-Kajang terdiri atas empat gerbong dengan kapasitas total 1.200 penumpang per perjalanan. Setiap harinya, MRT jalur Sungai Buloh-Kajang melayani 170 ribu penumpang.

Saat ini otoritas Malaysia sedang meneruskan konstruksi jalur ketiga MRT Sungai Buloh-Serdang-Putrajaya, yang diharapkan beroperasi penuh pada 2022. (Yashinta Difa Pramudyani)


Reporter/Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini