SDM Fleksibel, Membatik Paruh Waktu Bertani Jalan Terus

19 Feb 2019 10:45 Feature

Prinsip, proses membatik dengan pewarna alam sama dengan membatik umumnya. Untuk mendapatkan kualitas warna yang prima memang batik warna alam membutuhkan penanganan lebih khusus. Tidak sembarangan. Tidak asalan. Sekali yang khusus itu ditinggalkan bisa “bubrah” semuanya.  

“Bubrah itu bahasa Jawa,” sela Bu Saji. Artinya rusak. Kacau juga bisa. Tapi bubrah tidak bisa dipakai untuk nama produk seperti amoh. Amoh itu ada seksinya. Misal, gombal amoh. Ini ungkapan pedesaan yang begitu mendunia. Penuh persahabatan. Penuh candaan ala desa. Cukup setara dengan gaya misuhnya wong Suroboyo yang ada pincuk-pincuknya itu. Penuh persahabatan. Penuh muatan. Fleksibel digunakan untuk momen apa saja.  

Disela perbincangan penuh canda tawa dengan memunculkan beberapa uangkapan bahasa Jawa itu, Bu Saji cukup rinci membeber batik amohnya.  Bahwa, kata dia, dalam rangka pewarnaan alam untuk kain yang sudah dibatik membutuhkan sedikitnya empat kali proses pencelupan. Batik dicelup ke dalam bejana-bejana warna.

Bu Saji turun tangan sendiri untuk memastikan kualitas produksi FotoWidikamidingopibarengid
Bu Saji turun tangan sendiri untuk memastikan kualitas produksi. (Foto:Widikamidi/ngopibareng.id)

Prosesnya, pertama-tama kain yang akan dibatik direndam terlebih dahulu dengan air tawas 1x24 jam. Setelah kering, kain dikanji tipis-tipis baru kemudian dipola sesuai dengan desain yang diingingkan.  

Ketika pola sudah jadi, selanjutnya kain dibatik sesuai dengan motif-motif yang sudah terpola. Pola kemudian ditutup dengan warna. Pencelupan ke warnai dilakukan hingga 3 sampai 4 kali.

Setelah semua proses pewarnaan selesai, hasil batikan dilorot atau direbus dengan air panas untuk menghilangkan malam yang masih menempel pada kain. Kain batik kemudian diangin-angin hingga kering dan selanjutnya siap dipacking dan dipasarkan.

Dari mana dan bagaimana mendapatkan pewarna alam untuk membatik? “Ya beli-lah mas, masak simsalabim. Kan tidak main sulap saya. Di toko-toko khusus alat batik sudah  banyak  yang menjual. Sudah ada suplier yang mau kirim ke sini juga. Beberapa kita juga diajari oleh para guru-guru batik pewarna  alam untuk membuat sendiri. Pun, andaikan menginginkan kulitas khusus maupun warna khusus,” jelas Bu Saji masih renyah seperti  kerupuk.   

Kalau mau buat sendiri, kata dia, seperti ini bahan-bahan yang harus ada:  Soga misalnya. Soga adalah nama pohon penghasil bahan pewarna yang baik. Pohon ini masuk dalam suku polong-polongan. Secara alami, soga tersebar di Asia Tenggara, Kepulauan Nusantara, hingga Papua Nugini. Soga dikenal karena pepagan yang dahulu diperdagangkan sebagai bahan pewarna. Pepagan (kulit) soga jadi bahan utama menghasilkan warna coklat kekuningan pada industri batik di Pulau Jawa.

Ada juga Indigo. Indigo banyak diperoleh dari tanaman dalam genus Indigofera. Tumbuhan asli daerah tropis. Biasanya memberikan sentuhan warna biru pada kain batik.

Lalu kunyit. Kunyit tidak hanya memiliki kandungan untuk obat dan sebagai bahan masakan, tetapi juga berperan penting sebagai salah satu bahan pewarnaan alami yang keren. Warna kuning kunyit benar-benar eksotis untuk proses pewarnaan.

Kemudian daun mangga. Mangga tidak hanya soal buahnya. Tetapi ada bagian lainnya yang sangat baik berperan dalam proses pewarnaan alami lain pada batik. Daun mangga kalau diproses tertentu bisa memberikan sentuhan warna hijau.

Ada juga kulit manggis. Biasanya, buah manggis kulitnya dibuang begitu saja. Berserakan dimana-mana. Padahal kulit manggis kalau sudah jadi ekstrak akan menghasilkan warna merah yang mampu membuat hati membahana. 

Menurut Bu Saji, keluarga Saji sempat menarik diri dari produksi batik tulis yang dilakoni turun-temurun tersebut. Keputusan itu diambil karena lesunya pasar kain batik. Apalagi, saat itu, batik tulis tak mampu bersaing harga dengan murahnya jenis kain batik cap dan batik printing bikinan pabrik.

Tak hanya keluarga Saji yang terpuruk, keluarga pembatik lain yang jumlahnya tak seberapa di Pacitan juga terpaksa menutup usahanya. Keluarga Saji, berikutnya, menopang hidup dengan mengolah tanah dan bercocok tanam. Menjadi petani lagi.

Namun, membatik bagaimana pun adalah warisan turun-temurun. Sungguh sayang warisan ini kalau ditinggalkan begitu saja. Di tahun 1980-an, keluarga Saji kembali bergelut dengan batik. Hanya bedanya, kalau dulu, membatik adalah membantu usaha orang tua, sedang saat itu usaha batik diwariskan kepadanya.

Pasangan Saji (Pak dan Bu Saji) yang saat itu merasa muda dan bertenaga kemudian merombak manajemen produksi batik turun-temurun tersebut. Ritme usaha juga dirombak sedemikian rupa sehingga produksi mampu berjalan secara kontinyu. Untuk membuat gebrakan, pertama-tama 10 orang pekerja direkrut. Semuanya adalah para tetangga di sekitar rumah. Mereka diajak membatik selesai bekerja di sawah atau setelah mengurus rumah tangganya.

Gebrakan tersebut ternyata membawa hasil yang lumayan. Sembari mengedarkan batik dari pasar ke pasar, Bu Saji mengaku menitipkan hasil batikannya ke toko-toko kain.  Tentu saja toko-toko yang mau dititipi kain batik.

Untuk motif-motif batik yang laku dipasaran kemudian dicoba dikembangkan. Pak Saji-lah yang kemudian kebagian tugas menjadi desainer dari karya-karya batik itu. Sembari memperkaya khasanah batik produksinya, dengan adanya motif-motif baru membuat pasar tidak jenuh dan bosan dengan batik.

Motif batik yang berhasil dikembangkan oleh keluarga Saji di antaranya motif lumbu, wahyu temurang, gringsing, latulip, pace, sekar, lung-lung ayu dan lainnya. Seiring munculnya tren batik dengan pewarna alam yang juga sering disebut indigo,  Batik Tulis Saji tak pelak turut ketiban berkah.

Motif-motif yang sudah berhasil dikembangkan dan berhasil mengundang minat masyarakat kemudian diproduksi dengan teknik pewarna alam. Meski kemudian harganya melambung tinggi ketimbang batik cap atau printing, batik tulis ini malahan justru menjadi terkenal dan diminati masyarakat.

Dari semula hanya mempekerjakan 10 orang, kini Batik Tulis Saji memiliki tak kurang dari 50 orang karyawan. Omzet usaha batiknya juga membengkak pesat, Mampu menembus angka di atas 100 juta rupiah per bulan. Sebuah omzet yang bukan main-main. 

Setelah sekian lama bergelut dengan batik warna alam, di Jawa Timur, Batik Tulis Saji cukup memiliki nama besar. Pasarnya pun juga kian melebar hingga keluar wilayah Pacitan yang terhimpit pegunungan. Pasar potensialnya di dalam negeri adalah Jogjakarta, Bandung, Jakarta, Pontianak. Sedangkan pasar luar negeri yang sudah menjadi pelanggannya adalah Singapura, Jepang, dan Amerika Serikat.

Tren batik warna alam yang kian diminati pasar, membuat keluarga Saji mulai meninggalkan pewarna batik dari bahan kimia. Saji mulai belajar dan rajin meramu sendiri bahan-bahan alam yang digunakan untuk pewarna batik.

Bahan-bahan alami yang diperlukan untuk meramu warna batik di antaranya adalah kulit pohon mangga, buah mohoni, buah ketapang, koncer, bluluk kelapa, daun suji, daun pandan, dan seterusnya. Bahan-bahan tersebut jika direbus dan diolah dengan cara tertentu akan menghasilkan warna-warni batik yang sangat bagus, tahan lama, aman serta ramah lingkungan.

Untuk satu potong kain Batik Tulis Saji warna alam, harga yang dipatok berkisar antara 400-600 ribu rupiah. Itupun juga masih tergantung dengan tingkat kerumitan motif batik yang diinginkan. Jika motif batik memiliki kerumitan yang tinggi, juga membutuhkan pewarnaan yang lebih banyak, harga jelas melewati patokan harga yang ditentukan. Sementara untuk batik dengan pewarna kimia, untuk harga per potong-nya jauh di bawah yang menggunakan warna alam, yaitu berkisar antara 100-250 ribu rupiah.

Menyadari segmentasi pasar batik, dan agar usaha turun-temurun itu tetap berjalan, keluarga Saji tetap mengakomodasi pasar. Bagi sebagian besar masyarakat Pacitan, harga kain batik warna alam boleh jadi adalah harga yang tak terbeli. Sebab itu, batik dengan harga terjangkau tetap diupayakan berproduksi untuk menjangkau pasar ekonomis. “Apalagi orang Pacitan tidak begitu menyukai batik amoh yang harganya teryata malah mahal,” pungkas Bu Saji masih diiringi dengan derai tawa meski kali ini sedikit terdegar pahit. (widikamidi/tulisan kedua/habis)


Reporter/Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini