ASAL INDONESIA: 'Ashal Yantu bin Jumri Bakri al-Banjari (kiri) menjadi Imam Masjidil Haram, Makkah. (foto: ist)

Santri Indonesia Jadi Imam Masjidil Haram, Ini Faktanya

09 Jun 2018 19:58

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Dan sudah ada presedennya orang Indonesia mengakui Makkah. Itu sangat wajar karena kita punya tradisi di situ baik sebagai imam, mufti, guru," kata Mastuki HS, Kabiro Humas Kementerian Agama RI.

Seorang santri asal Indonesia disebut menjadi imam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi. Ia bernama 'Ashal Yantu bin Jumri Bakri al-Banjari itu telah lolos standar uji kompetensi.

Dalam pelacakan ngopibareng.id, pemuda tersebut memang telah lama tinggal di Saudi, terlihat dari tempat kelahirannya, di Makkah pada 1997 / 1418. Ia berpendidikan, dengan berhasil meraih ijazah hafalan Al-Quran dg predikat "Excellent" dari Lembaga Hafalan Al-Quran tingkat kota Makkah.

Dalam standar kesantrian, ia mendapat kualitas baik dalam menamatkan bacaan dan hafalan Al-Quran serta masih rutin mereviewnya (setoran bacaan, dalam istilah pesantren) di bawah bimbingan Syekh Dr Hasan Bukhari, Imam Masjidil Haram. Bahkan, ia telah menamatkan bacaan Al-Quran riwayat Syu'bah bin 'Ashim Al-Kufi di bawah bimbingan Syekh tersebut.

Sehingga, pencapaiannya,  memiliki beberapa rekaman pribadi imamah shalat, tilawah dan tilawah pada acara-acara pembukaan Musabaqah Al-Quran yg dihadiri para syekh, ulama, dan tokoh. Ia pun berhasil meraih penghargaan Musabaqah Al-Quran, antara lain, di peringkat 1 MTQ tingkat kota Makkah, peringkat utama dengan predikat "excellent" pada Musabaqah Hifzil Quran di Masjid Al-Kuwaiti.

Kini, aktivitas sehari-harinya, ia mengajar hafalan, tahsin dan tilawah Al-Quran. Antara lain, di Masjid 'Asyur Bukhari Mekkah di bawah binaan Syekh Hasan Bukhari, dan mengajar mahasiswa luar negeri di masjid Fakultas Dakwah di bawah binaan Universitas Ummul Qura Makkah.

"Sebenarnya itu bukan imam Masjidil Haram. Jadi dia selama ini menjadi imam di masjid Birrul Walidain di kawasan Zaidi, Mekah," kata Kabiro Humas Kementerian Agama Mastuki HS, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Sabtu (9/6/2018).

Ini bukti videonya: 

Lama mukim di Makkah

Mastuki HS mendapatkan informasi 'Ashal memang dijadikan anak angkat atau murid salah satu imam Masjidil Haram Syekh Dr Hasan Bukhori. 'Ashal, yang lahir di Arab Saudi, sudah hafal Alquran sejak umur 15 tahun.

"Kalau dilihat videonya, kental sekali logatnya khas Arab dan umur 15 tahun sudah hafal Alquran. Dia lahir di sana, besar di sana, kemudian mendapatkan bimbingan beberapa syekh di Mekah, dan karena suaranya merdu beberapa kali mendapatkan kesempatan tampil di haflah-haflah, lomba-lomba," ujarnya.

Dia mengatakan banyak model uji kompetensi semacam ini di Mekah. Masjid-masjid di sana memang kerap menggelar uji kompetensi. Kegiatan yang diikuti 'Ashal cukup bergengsi karena dihadiri penguji yang salah satunya berasal dari imam Masjidil Haram. Mastuki melihat potensi 'Ashal yang nantinya bisa saja menjadi imam Masjidil Haram.

"Itu standar luar biasa tinggi dan melalui tahapan. Kalau dilihat umurnya 'Ashal ini kan baru 21 tahun, ya itu potensi yang sangat besar," tuturnya.

Mastuki mengatakan 'Ashal berasal dari komunitas suku Banjar yang bermukim di kawasan Zaidi, Mekah, Arab Saudi. Meski demikian, 'Ashal masih berkewarganegaraan Indonesia.

Dia mengatakan komunitas Banjar memang sangat dihormati orang Mekah. Banyak anak-anak komunitas Banjar yang lahir dan besar di sana. Hingga akhirnya mereka banyak yang menjadi imam masjid, pemberi fatwa (mufti), guru-guru, dan yang lainnya.

"Kalau dari Kandangan, Kalsel, itu memang ada perkampungan sendiri dan sangat dihormati orang Mekah. Karena komunitas Banjar itu sangat dikenal. Seperti Syeh Arsyad al-Banjari, Syekh Nafis al-Banjari besar di Mekah pada saat itu," ucap dia.

Mastuki menambahkan, di Saudi banyak komunitas suku lain dari Indonesia yang bermukim di sana. Beberapa di antaranya yakni Jawa (Al-Jawi), Banten (Al-Bantani), Mandailing (Al-Mandali), Padang (Al-Padangi), Bima (Al-Bima), dan lainnya.

"Dan sudah ada presedennya orang Indonesia mengakui Makkah. Itu sangat wajar karena kita punya tradisi di situ baik sebagai imam, mufti, guru," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, ada tiga orang yang pernah menjadi imam di masjid yang jadi pusat ibadah umat Islam ini. Mereka ialah Syekh Junaid al-Batawi, Syekh Muhammad Nawawi al-Jawi al-Bantani, dan Syikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. (adi)