Sanitasi Buruk, IPAL Komunal Diperbanyak

09 Jan 2019 19:35 Jawa Timur

Buruknya sanitasi rumah tangga berupa pembuangan air limbah WC, dapur, hingga kamar mandi masih menghiasi Kota Probolinggo. Padahal, buruknya sanitasi memicu tumbuh-kembang anak menjadi mengerdil (stunting).

Karena air bersih dan sanitasi menjadi layanan dasar, Pemkot Probolinggo pun berusaha membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal.

"Sanitasi di Indonesia terburuk di dunia, nomor dua setelah India. Di Kota Probolinggo kami berusaha membenahi sanitasi dengan membangun IPAL komunal," ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Probolinggo, Amin Fredy, Rabu, 9 Januari 2019.

Dikatakan akhir-akhir ini kasus stunting bermunculan di sejumlah daerah di Indonesia. Tidak terkecuali di Kota Probolinggo. “Salah satu penyebab stunting adalah sanitasi yang kurang baik. Di mana bakteri dari air tinja mencemari air minum," ujar Amin.

“Pembangunan IPAL Komunal ini menggunakan sistem sanitasi berbasis masyarakat (Sanimas). Yakni direncanakan, dilaksanakan dan diawasi sendiri oleh masyarakat. Harapannya, masyarakat memiliki kepedulian untuk merawat IPAL Komunal yang terbangun," ungkap Amin.

Sejak 2011, kata Amin, kegiatan sanitasi masyarakat (Sanimas) dimulai digelindingkan Dinas Pekerjaan Umum (kini Dinas PUPR) dengan dana DAK dan Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas) dengan dana USRI untuk membangun 19 unit IPAL komunal dengan cakupan 1.336 kepala keluarga (KK).

Tahun 2017 dibangun 6 IPAL komunal yang melayani total 354 KK. Rinciannya, 1 IPAL komunal dari Sanimas APBN di Kelurahan Pakistaji untuk 55 KK; 5 IPAL komunal dari Sanimas DAK untuk 299 KK di Kelurahan Kademangan (54 KK), Pilang (64 KK), Kedunggaleng (61 KK), Jati (50 KK) dan Sumbertaman (70 KK).

Nah, saat ini, air minum dan sanitasi telah ditetapkan sebagai urusan wajib pelayanan dasar bidang pekerjaan umum. Lantaran itu, diharapkan pemda mengalokasikan DAK untuk ikut mendanai pembangunan sanitasi.

“Oleh karena itu, tahun 2018 terlaksana 8 paket yang mencakup 533 KK. Sebanyak 5 paket memakai DAK dan 3 paket dari DAU. Masing-masing paket senilai Rp 400 juta,” jelas Amin lagi.

Hal senada diungkapkan Wali Kota Rukmini saat peresmian IPAL komunal di Kelurahan Kedungasem, Selasa, 8 Januari 2019. “Dengan IPAL Komunal maka seluruh air limbah dari rumah yang tersambung akan diolah di IPAL, baik itu air limbah WC, dapur maupun kamar mandi. Dengan demikian diharapkan lingkungan akan bersih dan sehat, got menjadi bersih karena hanya dialiri air hujan,” ujar walikota.

 

Dalam jangka panjang, kata wali kota, air tanah diharapkan akan membaik karena tidak ada lagi air limbah yang diresapkan ke tanah. “Masyarakat sekitar menjadi lebih sehat. Kalau sehat akan mengurangi biaya berobat dan mengurangi antrean di puskesmas dan rumah sakit,” katanya. (isa)

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini