Sandiaga Buka Suara Soal Opsi Autopsi Petugas KPPS

15 May 2019 21:02 Politik
Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Salahuddin Uno menanggapi pertemuan antara DPR RI dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), yang membahas perihal banyaknya petugas penyelenggara Pemilu 2019 yang meninggal dunia. 
 
Hal itu diungkapkan Sandi saat bertakziah ke kediaman salah satu ketua KPPS Pemilu 2019 yang meninggal dunia, Noor Aida Hayati (68) di Jalan Ngagel Utara Gang 2, Surabaya, Rabu, 15 Mei 2019. 
 
Berdasarkan temuan Kemenkes, diketahui penyebab kematian para penyelenggara pemilu itu ditengarai karena faktor kelelahan dan usia yang lanjut. Menanggapi hal itu Sandi tak banyak komentar.
 
"Saya bukan ahli medis tidak sepantasnya saya berkomentar. Itu ranahnya para dokter," ujar Sandi.
 
Ia juga mengaku tak ingin mengintervensi lebih jauh terkait usulan para dokter soal opsi autopsi jenazah petugas KPPS. Sandi memilih menyerahkan kewenangan autopsi itu kepada pihak keluarga terlebih dahulu.
 
"Tentunya dengan seizin keluarga dan sesuai dengan apa yang ada disampaikan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) sudah saya terima surat edarannya," ujar Sandi.
 
Sandi hanya berharap, agar pemerintah ke depannya segera melakukan evaluasi pelaksanaan Pemilu. Menurutnya, pemilu di Indonesia bisa disiapkan dengan lebih baik, yakni dengan memperhatikan aspek kesehatan petugas KPPS-nya.
 
"Ini adalah musibah, lebih dari 600 (petugas yang meninggal dunia), kita (harus) pastikan penyelenggaraan pemilu ke depan lebih baik sehingga bisa dihindarkan," ucap Sandi.
 
Sementara itu, saat bertakziah ke kediaman mendiang Aida, Sandi mulanya berbincang dengan keluarga Aida. Tak lama setelah itu, pihak keluarga almarhumah mengajak Sandi untuk memanjatkan doa bersama. 
Usai doa bersama, Sandi mengaku mengapresiasi kinerja Aida selama bertugas pada penyelenggaraan Pemilu 2019. Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga menyematkan penghormatan kepada mendiang Aida. 

 

"Innalillahi wa innailaihi rojiun, kita baru saja bertakziah di kediaman Bapak Choirul Jaelani (suami Aida). Kami ingin menyampaikan bela sungkawa dari Pak Prabowo dan seluruh tim," kata Sandi. 

 

Bagi Sandi, almarhumah Aida adalah pejuang demokrasi. Sebab, meski Aida mengalami sakit tiga hari sebelum pemungutan suara, almarhumah diketahui tetap mempersiapkan semua kelengakapan Pemilu di TPS-nya.

 

"Almarhumah Ibu Choirul (Aida) sudah menjadi pejuang demokrasi, wafat tanggal 20 April, tentunya kita semua berdoa insya Allah Bu Choirul, Nur Aidah Hayati, husnul khotimah," katanya. 

 

Sementara itu, suami Aida, Choirul Jaelani (67) membenarkan kalau istrinya tidak sempat bertugas pada saat hari pemungutan suara Rabu 17 April 2019, lalu. 

 

Karena 3 hari sebelum penyelenggaraan pemilu, Aida tiba-tiba muntah darah dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sayangnya, setelah 7 hari dirawat nyawa Aida tak tertolong. 

 

"Menjelang pemilu itu muntah darah dan dibawa ke rumah sakit terdekat, tiga hari sebelum pemilu hari Minggu, 14 April 2019," kata Choirul. 

 

Choirul pun mengaku keluarganya kini telah mengikhlaskan kepergian Aida. Pasalnya, kata dia, istrinya itu sudah mengidap penyakit hepatitis B sejak 15 tahun lamanya.

 

"Kita menerima dengan ikhlas tawakkaltu alallah apa penyebabnya, apa itu, tidak penting. Yang penting takdir Allah, kita ikhlas itu kehendak Allah," pungkas Choirul. (frd)
Reporter/Penulis : Farid Rahman
Editor : Rizal A


Bagikan artikel ini