Ilustrasi muid (watyutink.com)

Salah Kelola, Niscaya Jokowi vs Rakyat

Kolom Erros Djarot 11 March 2020 17:19 WIB

Oleh:Erros Djarot

Menjelang dan saat berlangsungnya Pilpres 2019, terbelahnya rakyat dalam dua kubu yang saling berseberangan, terasakan begitu kental. Sangat gamblang pemisahannya, dan sangat mudah menandainya. 

Setiap kali Jokowi berkiprah, kelompok pendukung calon No.1 (Jokowi-Ma’ruf), langsung memberi dukungan. Tidak penting lagi salah atau benar, yang penting barisan rakyat pendukung calon No.1 setia buta memberikan dukungan.

Di sisi lain, rakyat pendukung pasangan calon No.2 (Prabowo-Sandi), dengan kualitas dan nada yang sama, menentang habis setiap kali kubu No.1 menawarkan gagasan. Pun begitu sebaliknya ketika Prabowo berkiprah. Pokoknya Prabowo YES, Jokowi NO! Yes dan No dalam kualitas seperti apa, tidak menjadi masalah yang penting. Pokoke Prabowo OK!

Para pendukung mulai galau, untuk tidak dikatakan linglung, terjadi pada saat Jokowi mengumumkan susunan anggota Kabinet barunya. Nama Prabowo masuk dalam jajaran para pembantu Presiden, sebagai menteri pertahanan. Para pendukung yang emosional, langsung terkulai lemas dan bergumam stress.."Lho jagoanku koq mau cuman jadi pembantu?’’ 

Sementara Prabowo menobelkan langkah politiknya dengan alasan demi kepentingan negara yang lebih besar. Sebagian besar elite partainya pun mengamininya.

Seketika pasar politik seperti lesu. Para pedagang dan penjaja politik mulai kehilangan target konsumen (captive) yang mulai kabur. Antara yang anti dan yang mendukung mulai tersadarkan oleh realita politik di tingkat elite.

Seperti kembali sadar bahwa yang namanya rakyat itu tidak lebih hanya onggokan manusia pelengkap penderita dan sekaligus pemberi legitimasi agar Pemilu terkesan demokratis. Artinya, setelah selesai Pemilu para elite pun bersikap…EGP (Emang Gue Pikirin)! 

Hikmahnya, lambat laun rakyat yang beberapa bulan lalu saling bersitegang dan diperhadap-hadapkan oleh para elite politik, perlahan mulai bangkit dalam kesadarannya. Mereka semakin sadar diperalat para elite yang tengah memperebutkan kursi kekuasaan. Rakyat pun yang semula tulus dan lepas bandrol membela jagoannya masing-masing, mulai muak dan mulai berhitung. 

Lingkaran perkawanan, peserta kumpulan arisan, kelompok alumni dan almamater berbagai institusi, tetangga dan anggota keluarga yang gara-gara pilihan 1 dan 2 sempat tercerai berai, belakangan mulai kembali rukun. Rasa kecele dan kecewa pun merupakan gelembungan massal dalam kehidupan rakyat. Atmosfernya sangat mewarnai nuansa pasar politik di negeri ini. Rakyat pun mulai mempertanyakan keseriusan dan kualitas para pemimpinnya.

Dampak apa yang dilahirkan dari situasi masgulnya hati rakyat ini? Salah satu yang sangat dirasakan, rakyat mulai kehilangan kepercayaan kepada para elite yang berhimbas kepada para pemimpin mereka. Ketika 1 (satu) dan 2 (dua) ternyata mereka rasakan tak ada bedanya kecuali membuat hidup semakin gak jelas, maka mayoritas mulai belajar dan memahami karakteristik para elite dan pemimpin mereka.

Antara harapan dan kenyataan yang semula tidak dipersoalkan, belakangan mulai dilihat, dirasakan, dan dinilai dengan ukuran dan takaran yang realistis dan obyektif.

Rakyat mulai melepaskan diri dari belenggu ‘sihir’ penguasa yang intens melontarkan angka-angka indah di bidang sosial-ekonomi. Rakyat mulai merasakan lonjakan dolar yang kian mengangkangi nilai rupiah. Penanganan wabah Corona yang masih menjadi teka-teki; apa iya sekecil ini jumlah korban yang jatuh?

Kecemasan masyarakat terhadap hadirnya kemauan pemerintah menggelindingkan Omnibus Law yang masih dipertanyakan pemihakannya; buat kepentingan rakyat dan negara, atau buat memuluskan keinginan kaum kapitalis penguasa perekonomian negeri ini? Misteri pemindahan ibu kota pun masih membuat sebagian besar rakyat geleng kepala tak melihat urgensinya; dan masih banyak lagi.

Perasaan resah ini lambat laun tentunya akan mengental dan akan bermetamorfosis ke dalam bentuk gelombang rakyat yang mulai sadar akan hak dan kewajibannya. Menjadi sadar bahwa barisan rakyat adalah kelompok manusia yang tak ada kaitan dan hubungan sama sekali dengan para elite dan penguasa. Realita mengajarkan mereka bahwa pasca Pemilu suara mereka sepenuhnya dikooptasi oleh partai yang di DPR maupun DPD. 

Para wakil rakyat di lembaga legislatif, lebih sebagai kepanjangan tangan partai yang bekerja mewakili kepentingan partai dan kelompoknya. Sementara suara rakyat diposisikan dan berada di ruang hampa udara tanpa saluran yang pasti dan berkepastian secara politik maupun hukum. Realita inilah yang mereka dapat dan rasakan secara nyata.

Atas realita ini, dipastikan mayoritas rakyat pendukung Prabowo, contohnya, yang dulu fanatik mendukungnya, sekarang mulai berhitung dan bahkan banyak yang langsung balik badan. Apakah secara ekstrim pula melompat pagar dan berbalik menjadi pendukung kebijakan politik Jokowi? Rasanya koq tidak juga. Kebanyakan dari mereka memilih untuk tidak menyukai keduanya ketimbang ikut salah satunya. 

Hal yang kurang lebih sama walau berbeda, terjadi pula di kalangan para pendukung Jokowi. Bedanya yang fanatik buta tetap tegak berdiri mendukung secara ‘blind faith’, pokoke…melu pakde! Sementara para pendukung yang sedikit saja menggunakan ukuran dan penilaian rasional obyektif, banyak yang memilih untuk mengambil jarak. Bahkan turut aktif melontarkan kritik lunak maupun tajam sebagai bentuk dukungan yang kritis 

Setelah menghilangnya figur Prabowo sebagai pemimpin rakyat yang bergerak di jalur oposisi, maka massa rakyat pun bergerak sendiri atas kesadaran dan maunya sendiri. Rakyat yang dulu diberi lebel pendukung 1 atau 2, belakang perlahan mengental sebagai satu entitas. Protes rakyat terhadap penguasa pun berubah bentuk menjadi komunitas rakyat yang bergerak beroposisi langsung kepada Jokowi.

Bila keluhan rakyat kian meroyan dan membesar, dan rakyat bergerombol turun ke jalanan menyuarakan ketidakpuasannya kepada pemerintah, maka yang terjadi adalah; Rakyat versus Jokowi!

Hal inilah yang perlu dijaga oleh para pembantu Presiden agar jangan sampai terjadi. Salah kelola dalam mengelola kekuasaan menjadi pintu masuk terbukanya kemungkinan terjadinya hal yang sangat tidak kita harapkan bersama.

Namun celakanya, mengamati kinerja Kabinet Jokowi jilid 2 ini, kemungkinan terjadinya Rakyat vs Jokowi malah semakin saja digiring realita mengarah untuk lebih mudah terjadi ketimbang sebaliknya. Inilah salah satu konsekuensi ketika Jokowi melakukan pengumpulan dan penumpukan kekuasaaan di satu tangan, tangan Jokowi, sendiri. Karena penguatan secara institusional dari institusi pendukung kekuasaannya, tidak dirasakan hadir melembaga.

Sementara berdasarkan fatsun politik, Jokowi akan kuat menggenggam kekuasaan yang menumpuk di tangannya, bila rakyat secara masif mendukungnya. Tapi bila yang mendukungnya hanyalah kumpulan para penjilat dan kaum oportunis yang ‘berdansa’ di sekelilingnya, cepat atau lambat ‘pintu’ itu akan ambrol, brodol, dan pasti jebol!

Agar tidak berlarut hingga hanyut larut menjadi carut marut, ada baiknya Pak Jokowi melakukan tinjauan, penilaian, kajian, dan ‘keker’ (teropong) ulang; siapa-siapa para pembantu dan manusia-manusia berlabel ‘liabelitas’ di lingkaran kekuasaannya maupun di lingkaran kehidupan istana! Langkah yang rasanya urgen ini, diperlukan agar tidak terjadi salah kelola kekuasaan oleh penguasa alias para pembantu Presiden yang rabun masalah!

Serigala berbulu domba memang tampak perkasa dan tampil mempesona, tapi taringnya tetap saja menyimpan bahaya. Tikus curut itu mungil, kecil, dan lucu; tapi hobinya mengerat dan menggerogoti barang merupakan ancaman tersendiri. Sementara Babi ngepet yang menurut cerita rakyat (tahyul) gak baik dipelihara, apa lagi di istana, harus segera dicegah masuk istana. Dan bila sudah ada berkeliaran di istana, harus segera diusir, sebelum hilang semua harta negara.

Untungnya, Pak Jokowi tidak suka jenis binatang yang bermasalah seperti itu. Hanya sayangnya, presiden gak mungkin melek 24 jam menjaga istana. Kalau ada kerabat yang hobi membawa atau menyelundupkannya, ya jangan dulu langsung menyalahkan Pakde. Kecuali Pakde sudah tau, tapi berlaga tidak tahu…itu gemblung namanya! Semoga tidak begitu...Naudzubillah min dzalik!    

*Dikutip sepenuhnya dari Watyutink.com.

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

04 Jul 2020 23:41 WIB

Musuhan dengan Krisdayanti, Lagu Baru Aurel Trending

Musik

Baru rilis lagu baru, Aurel Hermansyah trending di YouTube.

04 Jul 2020 23:20 WIB

Survei Reshuffle Menteri, Yasonna dan Terawan Teratas

Nasional

10 Menteri Jokowi disurvei reshuffle, Yasonna dan Terawan teratas.

04 Jul 2020 23:00 WIB

Sinopsis The Purge: Kerusuhan Fatal di Amerika

Film

Film The Purge menceritakan situasi negara Amerika Serikat di tahun 2022.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...