Sadar Potensi Bencana, Ini Orientasi Amal Usaha Muhammadiyah

15 Aug 2019 22:14 Khazanah

Puncak Ekspedisi Destana Tsunami 2019 Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ditandai dengan upacara. Ketika itu, dihadiri Ketua BNPB di Letjen TNI Doni Monardo di lapangan Hotel Marbella Anyer, Serang, Banten pada Rabu 14 Agustus. Di antara peserta utama, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) alias Lembaga Penanggulangan Bencana Muhammadiyah.

MDMC yang mengirim satu tim dalam ekspedisi ini, melanjutkan ekspedisi dengan melaksanakan diskusi penyusunan rencana kontijensi tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa. Bertempat Politeknik Kesehatan Aisyiyah Banten di Serang diikuti para perwakilan dari MDMC PP, Wilayah dan daerah Muhammadiyah.

Wakil Ketua MDMC Rahmawati Husein dalam sambutannya menyampaikan bahwa tsunami meskipun frekuensinya rendah, tapi menyebabkan kerugian tertinggi.

"Delapan puluh persen bencana yang terjadi akhir-akhir ini masuk kategori bencana hidrometeorologi berupa puting beliung, banjir dan longsor, sementara tsunami hanya sedikit, namun korbannya justru terbanyak," katanya.

Penyusunan rencana kontijensi tsunami selatan Pulau Jawa ini menjadi langkah awal MDMC dalam menyiapkan antisipasi terhadap potensi ancaman tsunami yang akhir-akhir ini viral di media massa pasca-pernyataan Peneliti Balai Pengkajian Dinamika Pantai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko tentang potensi terjadinya gempa megathrust.

Seperti diketahui, banyak warga dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang terletak di zona merah tsunami sepanjang pantai selatan Jawa. Yogyakarta terutama di Bantul dan Kulonprogo menjadi daerah yang banyak terdapat AUM. Disusul Kebumen, Cilacap juga cukup banyak AUM di sana.

Sampel di Cilacap saja, terdapat 27 AUM di kota tersebut yang masuk zona merah dari TK ABA hingga gedung dakwah Muhammadiyah yang nilainya total milliaran. Belum lagi daerah lain.

Mengingat begitu banyak potensi kerugian yang akan diderita Muhammadiyah jika terjadi tsunami, maka tidak ada jalan lain selain mempersiapkan diri sebaik-baiknya guna meminimalisir kerugian jika gempa dan tsunami besar benar-benar terjadi.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini