Gus Dur dalam lukisan Nabila Gayatri. (Foto: Istimewa)

Saat-Saat Gus Dur Meninggalkan Istana, Ini Faktanya

19 Jan 2021 04:24

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Masih saja ada orang mengenang KH Abdurrahman Wahid. Gus Dur selalu dirindukan. Karena itu, Haul Gus Dur antara lain untuk mengenang sekaligus mencari obat rindu untuk mengenangnya.

KH Husein Muhammad, salah seorang sahabat Gus Dur menyampaikan sejumlah catatan akan kesaksiannya atas Gus Dur:

“Bila kalian menginginkan kebahagiaan, carilah kedamaian”.

Bila musim Haul Gus Dur tiba, ingatanku tentang Gus Dur meninggalkan istana menyembul lagi bersama dengan sejuta kenangan yang lain bersama beliau.

Pada Minggu 25 Juli 2001 pagi-pagi sekali aku berangkat ke Jakarta, setelah mendengar kabar bahwa Presiden Gus Dur akan meninggalkan istana untuk selanjutnya terbang ke luar negeri (Amerika) untuk berobat. Dari stasiun Gambir aku langsung menuju istana Negara, tempat tinggal Gus Dur dan keluarganya selama menjadi Presiden.

Aku acap datang ke sana sebelumnya jika diperlukan. Beberapa kali aku menginap di kamar di Istana Merdeka. Di pintu masuk aku melihat sudah banyak orang, teman-teman dan para pecinta Gus Dur, yang antri masuk ke istana. Akupun ikut antri. Begitu tiba di teras aku langsung memasuki kamar tidur Gus Dur.

Di situ aku menemui Ibu Sinta sedang duduk di atas tempat tidur, dengan dandanan yang sudah rapi dan siap berangkat. Aku menyalami dan mendoakan kesehatannya, lalu keluar lagi. Di kamar itu aku sempat melihat kardus-kardus besar yang sudah dikemas rapih. Aku tak bertanya apa isinya.

Gus Dur di ruang lain sedang bincang dengan adiknya dan yang lain. Di luar kamar, telah berkumpul para sahabat dan para pegawai istana. Mereka berdiri dan berbaris melingkar. Wajah-wajah mereka tampak lesu. Mataku dan mata mereka mengembang air dan tanpa terasa menetes satu-satu. Istana bagai banjir air mata. Gus Dur dan ibu keluar, lalu menyalami mereka satu-satu.

Setiap orang mencium tangannya dengan dada yang berdegup. Aku menyalaminya. Sambil tangan masih saling menggenggam, Gus Dur seakan-akan mengatakan kepadaku : “Aku akan turun dari tahta ini dan meninggalkan istana ini karena keberadaanku di sini menimbulkan perpecahan bangsa. Aku bersedia tidak memiliki dunia ini, bila kalian menginginkannya, karena hatiku luas, seluas samudera, dan aku yakin bahwa Tuhan akan menunjukkan kebaikan dan memberikan kebahagiaan kepadaku.

Aku katakan kepadamu : “bila kalian menginginkan kebahagiaan, carilah kedamaian”. Lalu Gus Dur meninggalkan kami menuju mobil sedan. Aku melihat dari belakang, mobil itu tak lagi berplat merah nomor RI 1. Selamat Jalan Gus Dur. Aku selalu mencintaimu. Tanganku melambai-lambai lalu jatuh, lunglai, tak berdaya.

Demikian kesaksian KH Husein Muhammad. Berbeda dengan itu, Hodri Ariev menyampaikan catatan:

Gus Dur, telah mengajarkan yang harus menjadi prioritas.. sungguh butuh dada seluas samudera untuk menampun kebaikan, kedamaian, kebahagiaan untuk semua orang. Samudera luas itu berhadapan dengan genangan sempit berlumpur yang beberapa di antaranya mengotori perjalanan bangsa.

Gus Dur, untukmu seutuhnya: al-Fatihah...!