Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini usai menemui anak-anak bomber di RS Bhayangkara, Selasa, 12 Juni 2018. (foto: farid/ngopibareng.id)

Ini yang Dikatakan Risma Saat Pertama Kali Bertemu dengan Anak-anak Bomber

12 Jun 2018 13:05

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Kalau yang Ais (anak pelaku pengeboman Mapolres) itu sudah lama pengen ketemu sama aku, tapi waktu itu aku belum sreg," ujar Risma.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini akhirnya bertemu dengan anak-anak pelaku pengeboman di Mapolrestabes Surabaya yang selamat dan anak dari pelaku yang ditangkap beberapa titik di Surabaya dan Sidoarjo. Pertemuan ini merupakan kali pertama anak-anak itu bertemu dengan Risma, selama menjalani perawatan di RS Bhayangkara Surabaya.

Pertemuan itu berjalan tertutup di sebuah ruang perawatan khusus di RS Bhayangkara, selain Risma ada juga Kapolda Jatim, Irjen Pol Machfud Arifin, Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan,  Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI Nahar, dan beberapa tim medis juga psikolog dalam pertemuan itu.

Usai bertemu, Risma mengatakan, kondisi anak-anak itu dalam keadaan yang baik, namun, ada beberapa yang nemang masih dalam penanganan. Ia mengatakan salah satu anak bomber, sejak awal memang ingin sekali bertemu dengannya, namun baru pada hari ini, Selasa, 12 Juni 2018, dirinya merasa siap.

"Kalau yang Ais (anak pelaku pengeboman Mapolres) itu sudah lama pengen ketemu sama aku, tapi waktu itu aku belum sreg," ujar Risma.

Saat pertama kali bertemu Risma, Ais sempat merasa malu-malu. Namun ketika suasana sudah mencair, Risma mengatakan, anak itu banyak bercerita padanya. Salah satunya soal bakat pencak silat yang ada pada diri anak berumur 8 tahun itu.

"Ais tak kasih buku, Ais sudah ceria meskipun dia tangannya patah, dia cerita, dia juara pencak silat di Jatim," kata Risma.

Risma mengatakan, psikologis Ais dan anak-anak bomber lain itu sudah terpengaruh oleh pemahaman radikal. Jadi penanganannya harus secara khusus ditangani oleh tim psikolog yang bertandem pakar guru agama dari Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

"Sebab di awal, saat ditangani oleh psikolog anak-anak itu sempat mendebat, sehingga waktu itu saya diminta untuk nyarikan psikolog dan tandem dengan dosen agama dari UINSA, yang ngerti dalil. Jelasinnya juga menggunakan dalil, misalnya senyum, dalil baik hati, dalil terima kasih, jadi, melalui dalil anak-anak itu lebih bisa menerima," katanya.

Kapolrestabes Surabaya Kombespol Rudi Setiawan dan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, usai bertemu anak-anak Bomber Surabaya, Selasa, 12 Juni 2018. (foto: farid/ngopibareng.id)

Risma berharap, anak-anak itu bisa tumbuh normal, ia juga berpesan, jika mereka punya banyak teman dan banyak saudara itu bisa membahagiakan mereka. Sebab, berbuat baik akan membuat mereka bisa lebih bahagia. 

"Ais juga bilang dia pengen punya temen banyak dan main-main seperti temen-temen yang lain," kata Risma. 

Selanjutnya, Risma mengatakan, penanganan anak-anak itu akan diserahkan kepada Kementerian Sosial. Ketujuh anak itu yakni, 1 anak pelaku pengeboman di Polrestabes Surabaya, 3 anak dari Rusunawa Sidoarjo , dan 3 lagi adalah anak dari pelaku yang ditangkap di Manukan, Surabaya, bakal di temoatkan di tempat khusus, dan ditangani oleh tim ahli rehabilitasi anak. 

Pemkot Surabaya sendiri tak berani menangani tujuh anak itu terlebih dahulu. Sebab, muncul juga ancaman soal keamanan anak-anak.

"Itu nanti anak-anak di Kemensos, ini nanti diserahkan, terus terang juga berat. Nanti kita lihat perkembangannya, karena keluarganya, dari neneknya masih ada, kalau bisa setelah penanganan, kita kembalikan kekeluarganya," kata dia. 

Sementara itu, Direktur Direktorat Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos RI, Nahar, mengatakan pihaknya siap menerima anak-anak itu. Nantinya, kata dia, tujuh anak pelaku pengeboman ini akan menerima empat tahapan pelayanan. Yakni pendidikan, konseling, rehabilitasi sosial, dan pendampingan sosial. 

"Pendidikan itu, soal memberi pemahaman tentang bagaimana norma-norma yang berlaku, apakah seandainya ketika kita punya pemahaman yang berbeda itu kemudian itu dianggap benar atau perlu diperbandingkan dengan pemahaman yang lain," ujar Nahar. (frd)