Dari kanan ke kiri: Arif Afandi, KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jatim), Dr Mas'ud Said (Staf Ahli Gubernur), dan M Nuh (Ketua Dewan Riswt Jatim) dalam sebuah acara. (Foto Dok Ngopibareng.id)

Saat PSBB Surabaya, Ustad Kampung Perlu Perhatian Pemerintah

Surabaya 22 April 2020 05:03 WIB

Kementerian Kesehatan RI telah menyetujui penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar alias PSBB Surabaya dan sekitarnya. Lantas siapa saja yang perlu mendapatkan perhatian paket jaring pengaman sosial?

Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Surabaya Arif Afandi mengusulkan agar para ustad kampung ikut mendapat perhatian Pemerintah Kota Surabaya. Sebab, mereka juga pihak yang ikut terdampak perberlakuan PSBB Surabaya secara langsung.

Ustad kampung adalah mereka yang selama ini mengajar mengaji para anak-anak di masjid-masjid dan mushalla. Juga mereka yang dijadwalkan sejumlah masjid untuk menjadi imam dan khatib setiap Jumat sekaligus imam dan penceramah dalam salat taraweh selama bulan Ramadhan.

"Dengan diberlakukannya PSBB Surabaya, kegiatan jamaah di masjid, termasuk salat Jumat dan taraweh dianjurkan untuk ditiadakan. Umat muslim diharapkan beribadah di rumah masing-masing selama PSBB," kata Arif.

Padahal, lanjutnya, sebagian besar ustad kampung itu mengandalkan hidupnya sehari-hari dari bisyarah atau honor dari aktifitasnya sebagai ustad. Karena itu, mereka menjadi warga yang terdampak langsung atas kebijakan untuk memutus mata rantai pandemi Corona ini.

"Para ustad kampung itu tentu menjalankan perannya dengan penuh ikhlas. Namun demikian harus juga diperhatikan kehidupannya sehari-hari. Pasti mereka tidak akan protes ke pemerintah karena dianggap melanggar adab. Karena itu, pemerintahlah yang perlu memikirkan," kata mantan Wakil Walikota Surabaya ini.

Selain para ustad yang biasa menjadi imam dan khatib di masjod-masjid, para guru ngaji juga menjadi pihak terdampak. Mereka sebagian besar memperoleh honor dari iuran santri yang mengaji di masjid. Saat kegiatan belajar mengajar yang mengumpulkan banyak orang dilarang, mereka otomatis tak mendapatkan pemasukan.

Arif mengaku bahwa DMI Surabaya ikut memikirkan mereka dengan membagikan paket sembako hasil kerjasama dengan berbagai pihak. Namun demikian, sebagai lembaga masyarakat tidak akan punya kemampuan banyak seperti yang dimiliki pemerintah. Sampai dengan sekarang DMI Surabaya baru bisa membagikan 400 paket sembako sumbangan Gusdurian dan BEC Surabaya.

Lagi pula, tambah pria kelahiran Blitar ini, penerapan PSBB Surabaya dan sekitarnya ini bersamaan dengan bulan puasa. Para ustad Kampung dan guru ngaji di masjid-masjid juga perlu bisa menjalankan ibadah puasanya dengan tenang. Setidaknya kebutuhan sehari-hari untuk berbuka dan sahur selama menjalankan puasa wajib terpenuhi.

Penulis : Azhari

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Sep 2020 12:07 WIB

5 Fakta Pemberontakan PKI di Indonesia

Nasional

Berawal dari orang Belanda, PKI berkembang di Indonesia.

29 Sep 2020 11:41 WIB

1.540 WNI di Luar Negeri Positif Covid-19

Nasional

Tambahan kasus baru Covid-19 WNI di luar negeri sebanyak 8 orang.

29 Sep 2020 11:18 WIB

Gwyneth Paltrow Pose Telanjang

Gosip Artis

Gwyneth Paltrow merayakan ulang tahun dengan pose telanjang.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...