Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husain al-Khattabi al-Bakr. (Foto:Istimewa)
Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husain al-Khattabi al-Bakr. (Foto:Istimewa)

Rumi, Cinta-Ilahi Tanpa Sekat dan Lintas Zaman

Ngopibareng.id Ady Amar 06 September 2020 11:00 WIB

Oleh Ady Amar

"Rumi tidak saja bagai puncak gunung yang paling tinggi dalam bentangan luas perpuisian Sufi, melainkan juga karena dia benar-benar mampu membuktikan diri sebagai sumber inspirasi dan kebahagiaan yang tidak terlampaui oleh banyak penyair lainnya dalam kesusastraan dunia."-- A.J. Arberry

 

Cinta menurut pandangan Rumi, itu ketika Tuhan menampakkan kecantikan-Nya kepada alam. Saat alam masih berupa realitas potensial. Penampakan akan ciptaan-Nya itulah yang menjadikan diri jatuh cinta pada Tuhan.

Cinta dalam pandangan Rumi bersifat universal, tidak saja milik manusia atau makhluk hidup lainnya, tapi juga milik semesta, cinta semesta.

Tuhan mencipta dari ketidakmaujudan, dan itu bukanlah hakikat ketiadaan. Namun eksistensinya bergantung pada berkah-Nya. Menurut pandangan Rumi, sebelum Tuhan mencipta makhluknya, terlebih dulu menyisipkan cinta dalam ciptaan-Nya.

Jatidiri kita adalah Cahaya, cinta Ilahi adalah Matahari-Keagungan. Sinar-Nya adalah firman. Dan makhluk adalah bayang-bayang-Nya.

Kekuatan cinta itu menimbulkan basik kreativitas pada setiap makhluk-Nya. Dalam tasawuf, cinta (mahabbah) lebih dimaksudkan cinta kepada Tuhan. Rumi mengungkapkan itu dalam puisi-puisinya.

Rumi, Karya dan Jalan Spiritualnya

Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Husain al-Khattabi al-Bakr, lahir di Balkh, Afghanistan, tanggal 30 September 1207 M. Sang ayah, Bahauddin Walad Muhammad bin Husain, ulama terkemuka di Khurasan Raya, membawanya keluar dari kota Balkh, 1215. Memilih hijrah menghindari invasi pasukan Mongol. Asia Tengah kala itu amat mencekam.

Saat melintasi kota Nishapur, Iran, tanpa disengaja rombongan Bahauddin bertemu dengan penyair Sufi Persia terkemuka, Fariduddin Attar.

Entah firasat apa yang menjadikan Attar terkagum saat melihat bocah kecil Rumi, yang berjalan di belakang sang Ayah. Kala itu Rumi berumur 8 tahun. Muncullah kalimat keluar dari mulut Attar, "Telah datang laksana lautan, yang di belakangnya ikut laksana samudera."

Lautan yang dimaksudkan Attar, itu sang ayah, sedang samudera adalah sang anak, Rumi. Firasat Attar itu menjadi kenyataan, Rumi menjadi tokoh spiritual dan penyair besar. Sempat saat itu Attar menghadiahkan pada Rumi sebuah buku karyanya, Asran Namah.

Bahauddin melakukan perjalanan menuju Baghdad, Mekkah sekalian melakukan ibadah haji, lalu menuju Damaskus. Dan berakhir menetap di Konya, Anatolia (saat ini masuk wilayah Turki).

Ayah Rumi, Bahauddin, diterima pimpinan Anatolia Ala ud-Din Key-Qobad dengan terbuka dan penuh hormat. Bahkan dibangunkan madrasah cukup besar. Anatolia saat itu masuk wilayah kesultanan Seljuk Rum.

Rumi belajar di madrasah yang dipimpin ayahnya, juga belajar ilmu tasawuf pada sufi terkenal, Sayyed Burhanud-Din Muhaqqiq Termazi.

Setelah sang ayah meninggal, Rumi menggantikan posisi sang ayah sebagai guru agama. Pada usia 25 tahun Rumi sudah aktif berceramah, dan menjadi penceramah ulung.

Di tahun 1244 M, Rumi berjumpa dengan sufi musafir pengelana, Syamsuddin Tabrizi, atau yang lebih dikenal dengan nama, Syams e-Tabrizi. Pertemuan ini menjadi titik perubahan orientasi spiritual Rumi 180 derajat: dari seorang teolog dialektis menjadi penyair Sufi. Mereka menjadi sahabat yang amat dekat.

Itulah awal mula kepenyairan Rumi, dan makin menjadi-jadi saat sang sahabat itu meninggalkannya karena sebab tertentu. Kehilangan sahabat itu menjadikan Rumi larut dalam kesedihan teramat, yang lalu puluhan ribu sajak lahir darinya.

Sekitar 44.000 sajak dihasilkan, dan lalu dijadikan dua epik, yang kemudian dikenal sebagai Divan e-Shams-Tabrizi: sajak Ghazal perpaduan puisi mistis dan cinta. Persembahan pada sahabatnya, Syams e-Tabrizi.

Selamat tinggal hanya untuk mereka yang suka dengan mata mereka. Karena bagi mereka yang suka dengan hati dan jiwa tidak ada hal seperti pemisah.

Sedang 25.000 sajak lainnya dikumpulkan dalam kitab tersendiri, dan dianggap masterpiece karya Rumi, Matsnawi Ma'nawi, sajak-sajak tentang kebijaksanaan.

Matsnawi merupakan kompilasi sajak terdiri dari enam jilid, yang ditulis dalam gaya didaktis. Syair-syair yang ditulisnya bagian dari dakwahnya, sekaligus sebagai sarana hiburan bagi pembacanya. Konon Matsnawi itu diselesaikan dalam waktu 43 tahun.

Profesor Nicholson, pada Pengantar Diwan of Shams of Tabriz, menyentil Matsnawi, dengan mengatakan, "Matsnawi, mengandung kekayaan puisi yang mencerahkan. Namun demikian, pembacanya mesti menempuh jalan apologi, dialog, dan tafsiran nash-nash Qur'ani, ragam kepelikan metafisis dan petuah-petuah moral, sebelum mereka sampai pada kesempatan menikmati bagian dari kidung indah menawan."

Matsnawi tidak sekadar puisi, tapi lebih dari itu, mengandung gagasan, bentuk yang khas, dan dihadirkan dengan tiada padanan serupa dari karya-karya lainnya.

Matsnawi disebut sebagai karya Sastra Sufi terbesar yang pernah hadir. Pantaslah jika di tahun 2007 yang lalu, Rumi dinobatkan sebagai "the most popular poet in America"; penyair paling populer di Amerika, bahkan dibandingkan Shakespeare.

Di samping Matsnawi Ma'nawi, ada pula karya Rumi lainnya, kumpulan ceramah-ceramah, pelajaran yang diberikan pada murid-murid dan pendengar ceramahnya, Fihi Ma Fihi. Sebuah manuskrip luar biasa yang memang tidak sepopuler Matsnawi, tapi dianggap sebagai karya mempesona: diskusi-diskusi spiritual untuk menghidupkan dan membawa pembahasan kepada berbagai macam corak manusia lintas zaman.

Prof A.J. Arberry menerjemahkan Fihi Ma Fihi itu ke dalam bahasa Inggris Discourses of Rumi (Fihi Ma Fihi), yang disunting dan diberi pengantar oleh Doug Marman. (Edisi Indonesia, Fihi Ma Fihi, "Inilah Apa yang Sesungguhnya", penerbit Risalah Gusti, 2004).

Doug Marman dalam pengantar edisi Inggris itu secara fair menyampaikan beberapa bagian yang "dihilangkan" Arberry. Dalam pengantarnya itu, ia sampaikan beberapa hal, di antaranya, Jika Anda berharap membandingkan manuskrip asli wacana-wacana Rumi dengan buku yang ada di tangan Anda ini (edisi Inggris), perubahan pertama yang barangkali Anda catat adalah hilangnya frase-frase seperti, "Semoga Allah memberkatinya dan memberinya kedamaian" pada setiap nama bila seorang Nabi atau wali disebut... Juga Rumi mengutip ayat-ayat al-Qur'an dengan kutipan-kutipan yang begitu sering. Itu pun tidak akan ditemui dalam buku edisi Arberry ini.

Menurut penyunting, Doug Marman, karena kutipan-kutipan Rumi itu bagi pembaca buku ini (baca: Barat) akan membingungkan bagi mereka yang tidak mengenal al-Qur'an dengan baik. Itulah Barat, mengambil hanya yang diinginkannya, sesuai versinya. Namun demikian, buku terjemahan Arberry ini tetap mampu menangkap pesan-pesan Rumi dalam Fihi Ma Fihi dengan "sesungguhnya".

Barat membaca dan mengenal Sufi, hanya sebatas dan berhenti pada Sang Guru, dalam konteks ini, Rumi. Tidak melacak sumber utamanya, bahkan mengabaikan ungkapan-ungkapan Rumi, itu berlatar belakang apa, dan berasal dari mana. Bukan tidak mampu memasuki ruang yang lebih dalam, tapi Itu lebih pada upaya kesengajaan. Itu bisa dilihat dari terjemahan karya-karya Rumi di Barat, dimana Islam tampak tercerabut dari sajak-sajak populer Rumi sekalipun. Kontemplasi Rumi pada ajaran agamanya (sengaja) dinafikan.

Ajaran-ajaran Universal

Ajaran Sufi Rumi, lewat karya-karyanya, bersifat universal. Itu bisa dilihat dari Tujuh Nasihat Rumi: (1) Dalam kedermawanan, jadilah seperti sungai. (2) Dalam kebaikan atau ketulusan, jadilah seperti matahari. (3) Dalam pemberian maaf atas kesalahan orang lain, jadilah seperti malam. (4) Dalam kemarahan atau sikap temperamental, jadilah seperti mayat. (5) Dalam kesederhanaan atau kerendahan hati, jadilah seperti bumi. (6) Dalam toleransi, jadilah air laut. (7) Jadilah dirimu apa adanya.

Inilah ajaran universal, semua orang dari semua lapisan golongan, ras, dan agama bisa menjalankan dalam pergaulan keseharian. Ajaran-ajaran Rumi yang demikian, menyebabkan ajarannya bisa diikuti kalangan luas, tidak hanya tersekat pada satu agama saja (Islam).

Perlu disebut juga karya Rumi lainnya, Maktubat, berupa surat-surat Rumi. Juga hagiografi Manaqib al-Arifin. Manaqib adalah genre dalam sastra Arab, Persia bahkan Turki, yang secara luas mencakup karya biografi yang bersifat memuji atau memberi pujian, tentang kebajikan dan perilaku luar biasa dari individu bersangkutan.

Dua karya  Maulana Jalaluddin Rumi FotoIstimewa Dua karya Maulana Jalaluddin Rumi. (Foto:Istimewa)

Tarian Sufi (Whirling Dervishes)

Adalah David Fideler, doktor Filsafat dan Sejarah Sains, asal Pennsylvania, Amerika, yang mengatakan, "Puisi-puisi Rumi diliputi penuh rasa cinta terhadap Tuhan, (seolah) dapat menghentikan waktu di sekeliling pembacanya. Siapa pun yang menyelami dan mendalami puisi-puisinya, seakan-akan telah keluar dari dirinya dan meninggalkan sifat keduniawian.

"Ingatlah Tuhan sebanyak-banyaknya hingga kau terlupakan/_Biarkan penyeru dan Yang diseru masuk dalam seruan."

Maulana Jalaluddin Rumi, mengajarkan meditasi diri, yang dikenal dengan Tari Sufi (Sema). Biasa juga disebut Whirling Dervishes, tarian berputar-putar. Konon mulai dikenalkan pada murid-muridnya, sekitar lima belas tahun menjelang Rumi tutup usia. Inilah Tarekat Maulawiyah, kreasi Rumi, yang tidak saja hanya ada di Turki, tapi juga merambah ke beberapa negara Timur Tengah.

Tari Sufi, atau Sema, adalah tarian cipta dan kreasi dan inspirasi dari Rumi. Peneliti Rumi dari Monash University, Australia, Profesor Zaki Saritoprak, mengatakan bahwa tari sufi itu sejatinya merupakan paduan yang berasal dari tradisi, sejarah dan budaya Turki.

Tambahnya, Rumi berpandangan bahwa kondisi dasar semua yang ada di dunia adalah berputar. Tidak ada satu benda atau makhluk yang tidak berputar. Dan ini disebabkan perputaran elektron, proton, dan neutron dalam atom; sebuah partikel terkecil.

Dalam pandangan Rumi, perputaran partikel itu sama dengan perputaran jalan hidup manusia, dan perputaran bumi. Tarian Sufi yang didominasi gerakan berputar-putar, mengajak akal untuk menyatu dengan perputaran keseluruhan ciptaan. Penuh simbol, bahkan pakaian yang dikenakan, dan berputar ke arah kiri dalam Tari Sufi... itu pun simbol-simbol. Puncak dari simbol-simbol, itulah kefanaan.

Klaim atas Matsnawi Ma'nawi

Kekasih, beri aku kesempatan untuk selalu mengetahui bagaimana cara menyambut-Mu, dan sulutkanlah obor di tangan-Mu agar membakar habis rumah ke-ego-an di dalam diriku.

Di bulan Mei 2016, Iran dan Turki, dua negara ini sepakat mendaftarkan Matsnawi Ma'nawi sebagai warisan budaya milik bersama. Mendaftarkan pada United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO).

Mendengar itu, Afghanistan, lewat menteri luar negerinya Salahuddin Rabbani melakukan protes. Menanyakan langsung kebenaran berita itu pada menteri luar negeri Turki, Mevlut Covosoglu. Mendapat "protes" itu, Covosoglu berjanji akan mempertimbangkan dan merekomendasikan Afghanistan sebagai tempat kelahiran Rumi, dan akan turut mencantumkan dalam surat pengantar warisan budaya pada UNESCO itu. Pernyataan simpati Covosoglu itu tetap tidak menyurutkan protes masyarakat Afghanistan melalui daring.

Di bulan Juni itu pula para aktivis berkumpul di Kabul, memprotes klaim Iran dan Turki itu dengan pernyataan, "Rumi adalah pujangga kosmopolitan, dan aset semua orang tanpa lintas batas dan kebudayaan".

Suhrab Sirat, penyair Afghanistan paling populer menulis protes dengan catatan panjang, dan mengutip sebuah sajak dalam Matsnawi:

Aku berasal dari Balkh, Aku berasal dari Balkh, Aku berasal dari Balkh.
Sebuah dunia yang bersuka atas kepahitanku.

Rumi dan karya-karyanya seharusnya memang tidak "disekat" oleh klaim-klaim tertentu. Biarkan Rumi hadir tanpa sekat dan batas teritorial. Rumi miilik semua, milik Timur dan Barat sekaligus.

Rumi meninggal pada tanggal 17 Desember 1273 dengan penuh cinta-Ilahi. Dimakamkan di Mevlana Museum, Konya, Turki. Makamnya dikenal pula dengan sebutan Istana Kebun Mawar (Rose Garden).

Saat musim semi tiba, maka bermekaran bunga mawar warna warni dengan aroma semerbak harum menyambut para tamu yang berziarah. Mevlana dahulu pernah menjadi tempat sekolah para darwis. Tidak kurang 1,5 juta orang setiap tahun menziarahi makamnya.

Pada batu nisannya tertera tulisan, sebuah nasihat Rumi, untuk jadi renungan kita yang masih hidup;

Ketika kita mati, jangan cari pusara kita di bumi, tapi carilah di hati manusia.

Maulana Jalaluddin Rumi, meski jasadnya telah terkubur 800 tahun lalu, ia tetap hidup dalam universalitas cinta pada karya-karya puisinya, yang tak kering dibaca-direnungkan, bagai sumber mata air samudera... Wallahu a'lam*

*Ady Amar, penikmat dan pemerhati buku, tinggal di Surabaya.

Ady Amar penulis FotoIstimewaAdy Amar, penulis. (Foto:Istimewa)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

20 Oct 2020 09:15 WIB

Tipu Pencairan Dana Hibah Madrasah, KPK Gadungan Dibekuk Polisi

Kriminalitas

Tipu daya penyidik Tipikor Polda Jatim sekaligus anggota KPK gadungan.

20 Oct 2020 08:20 WIB

Diresmikan Jalan Presiden Joko Widodo Diresmikan di UEA

Internasional

Hubungan bilateral Indonesia-UEA semakin mesra

20 Oct 2020 07:31 WIB

Pemkot Surabaya Sampaikan Pesan 3M Lewat Seni Mural

Rek, Ojok Angel Tuturane

Pemkot Surabaya berharap warga terus terapkan protokol kesehatan.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...