Romo Antonius Benny Susetyo, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). (Foto: Istimewa)

Romo Benny: Imlek Momentum Merajut Persaudaraan Sejati

Nasional 25 January 2020 14:25 WIB

Romo Antonius Benny Susetyo mengingatkan, Perayaan Imlek merupakan momentum penting merajut persaudaran sejati. Karena, menurutnya, tradisi Imlek menjadi bagian kebudayan Nusantara dan berakar pada tradisi.

“Perayaan Imlek menjadi sprit kita mewujudkkan nilai gotong-royong dalam menghadapi era persaingan global,” tutur Romo Benny, pada ngopibareng.id, Sabtu 25 Januari 2020.

“Era persaingan begitu cepat bagi bangsa unggul, dalam mengolah keragaman menjadi nilai tambah ekonomi bangsa akan cepat sejahtera,” kata Romo Benny, Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Romo Benny, di antara tokoh agamawan yang cukup dengan KH Abdurrahman Wahid. Ia pun menyaksikan Gus Dur ketika menjalin komunikasi dengan semua elemen masyarakat, termasuk di antara masyarakat Tionghoa yang didiskrimasi di masa rezim Soeharto. Semasa menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur membuka krans demokrasi bagi terbukanya perayaan Imlek di Indonesia. Itulah bagian dari ekspresi kebudayaan yang terus berkembang di tengah masyarakat Indonesia.

Kini, menurut anggota Gerakan Suluh Kebangsaan ini, saatnya kekuatan sprit keragaman etnis, budaya, agama, tradisi harusnya menjadi aset budaya yang mampu mengerakkan kekuatan ekonomi.

“Komodifikasi keragaman menjadi kekuatan ekonomi dalam mewujudkan sila kelima Keadilan Sosial. Keadilan sosial akan terwujud bila ada kesadaran bersama untuk menggolah aset budaya luhur tanah, air, bumi diwujudkan dengan sprit untuk berbagi,” kata tokoh kelahiran Malang 10 Oktober 1968 ini.

Dalam pandangannya, setiap peringatan hari-hari besar keagamaan di Indonesia memberikan semangat bagi kehidupan di masyarakat.

“Spirit hari besar Lebaran, Natal, Imlek, Galungan, Waisak mengajak setiap insan manusia untuk hidup bersama dan saling berbagi kebahagian,” kata Alumni Pasca-Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana Malang, 1996 ini.

Sebelumnya, Romo Benny mengingatkan, pasca berakhirnya Orde Baru, bangsa ini telah merayakan kembali kebebasan berekspresi melalui reformasi setelah lama terkungkung dalam dominasi dan hegemoni negara. Namun kebebasan yang terjadi justru dimaknai berlebihan oleh sebagian orang.

Kebebasan berekspresi sejatinya juga menghargai hak dasar orang lain. Sedangkan kebebasan yang berlebihan saat ini justru melahirkan intoleransi yang tidak bisa menerima perbedaan itu. Dan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia tentunya bisa dijadikan sebagai acuan dan senjata ampuh bagi masyarakat Indonesia untuk melawan intoleransi itu.

“Jadi kita harus mengembalikan kembali Pancasila sebagai alat, sebagai ideologi bangsa. Pancasila itu harus menjadi acuan dari cara berifikir, bertindak, bernalar, berelasi semua anak-anak bangsa itu agar tidak terjadi yang namanya intoleransi,” ujarnya.

Dengan memagang teguh pada Pancasila itulah Benny meminta seluruh elemen masyarakat untuk terus bersatu melawan dan menolak adanya intoleransi yang terjadi disekitarnya. Dimana intoleransi itu sendiri kalau dibiarkan berkembang di masyarakat justru dapat menghancurkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini.

“Masyarakat harus berani menolak penyebaran kebencian yang menyebarkan bibit-bibit permusuhan yang bisa merusak persatuan bangsa. Biasanya intoleransi itu muncul dari ujaran kebencian. Kalau itu terjadi masyarakat harus laporkan hal itu kepada pihak berwajib ketika konten-kontennya berisi ujaran kebencian tersebut muncul. Jangan didiamkan,” kata Romo Benny.

Lebih lanjut Benny mengungkapkan bahwa penanaman nilai-nilai Pancasila itu dapat menjadi acuan hidup sehari-hari di masyarakat sangat penting untuk menghindarkan bangsa ini dari intoleransi.

"Harus ada pendidikan nilai-nilai Pancasila, baik di dalam pendidikan nilai-nilai sekolah, nilai keluarga, nilai masyarakat. Karena sejatinya itu adalah tradisi yang telah lama ada di masyarakat indonesia, seperti saling respect, kemudian gotong royong serta guyub rukun bersaudara. Jadikan itu sebagai acuan hidup di masyarakat,” jelas Romo Benny.

Oleh karena itu, menurut Benny, perlu peran serta pemerintah dan pejabat terkait untuk memberikan contoh keteladan kepada masyarakat dalam menjalankan Pancasila dalam kehidupan sehari-harinya.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

14 Aug 2020 11:40 WIB

Presiden Jokowi Sindir Media Jangan Hanya Kejar Click dan Like

Nasional

Semestinya, media tidak dikendalikan teknologi.

14 Aug 2020 11:20 WIB

Naskah Pidato Presiden Joko Widodo dalam Sidang Tahunan MPR 2020

Nasional

Berbagai terobosan disampaikan presiden dalam menghadapi pandemi covid-19.

14 Aug 2020 11:03 WIB

Presiden Ajak Momentum Krisis untuk Kejar Ketertinggalan

Nasional

Presiden ajak bangsa membajak momentum krisis ini raih cita-cita.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...