Rokat Tase, Ungkapan Syukur Nelayan Madura

25 Nov 2019 13:28 Feature

Pagi-pagi sekali pada Minggu kemarin, aktivitas di Pelabuhan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur sudah sangat sibuk.

Mereka akan menggelar Rokat Tase atau Petik Laut di tempat yang biasa digunakan untuk pelelangan ikan itu.

Kapal-kapal nelayan, baik ukuran besar maupun kecil, telah selesai disolek untuk menyambut hari itu. Berbagai kapal berjajar rapi di pinggir dermaga, menjadi tontonan warga.

Sementara itu, di darat ada miniatur kapal-kapal hias nelayan tersebut. Kata mereka, baik kapal hias sungguhan maupun kapal miniatur tersebut, akan diperlombakan dalam acara "Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir" yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Pemerintah Kabupaten Sumenep, dan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur.

Salah satu nelayan setempat, Bahran, mengatakan saat ini sebagai pertama kali Rokat Tase didanai pemerintah. Masyarakat setempat menyambut baik dukungan pemerintah untuk penyelenggaraan Rokat Tase.

Rokat Tase sudah menjadi tradisi masyarakat pesisir Madura sejak beratus-ratus tahun lalu, sebagai ungkapan mereka berterima kasih dan bersyukur kepada Tuhan atas kelimpahan ikan di laut.

Rokat Tase biasanya dlakukan setiap bulan enam atau tujuh, karena sebagai bulan-bulan ikan yang melimpah. Tahun ini, desa tersebut menyelenggarakan Rokat Tase dua kali, yang pertama pada Juni atau Juli, yang kedua pada November dengan dukungan pemerintah.

"Ini adalah tradisi dari nenek moyang kita untuk mengadakan selametan agar mendapat keberkatan saat mencari rejeki. Setiap tahun diadakan Rokat Tse untuk bersyukur. Jadi sebelum menangkap ikan, kami syukuran dahulu," kata dia.

Menurut Bahran, Rokat Tase yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat memiliki perbedaan dengan acara "Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir" ini.

Biasanya, Rokat Tase dilakukan dalam waktu lima hari berturut-turut, sedangkan saat ini gelaran hanya dilakukan satu hari.

Ada banyak kegiatan dalam lima hari itu, antara lain kontes sapi betina. Masyarakat Madura akan memperlombakan sapi betina miliknya bak kontes kecantikan ratu dunia.

"Di kontes itu akan dilihat sapi betina mana yang paling cantik, ya dari kebersihannya, aksesoris yang dipakai sapi, bobotnya, dan juga cara berjalannya," kata dia.

Masyarakat berkumpul di dermaga Pelabuhan Pasongsongan Kabupaten Sumenep untuk menyaksikan  upacara adat para nelayan yaitu Rokat Tase hari Minggu kemarin FotoKabarMadura
Masyarakat berkumpul di dermaga Pelabuhan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep untuk menyaksikan upacara adat para nelayan yaitu Rokat Tase, hari Minggu kemarin. (Foto:KabarMadura)

Pada hari lain, akan digelar acara Tayuban, yang merupakan acara tari-tarian dengan nyanyian oleh sinden. Ini adalah salah satu acara yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat.

Pementasan ketoprak juga menjadi acara yang diidolakan oleh masyarakat. Pada malam pementasan ketoprak itu, masyarakat, baik tua maupun muda akan mendatangi tempat acara.

Setelah acara seni, malam berikutnya akan ada pembacaan Al Quran dan juga pengajian. Barulah pada hari terakhir Rokat Tase diisi dengan menghiasi kapal dan melarung sesaji di tengah laut.

Sesaji seperti kepala kambing hitam, tumpeng, dan rengginang akan dibawa mereka dengan menggunakan kapal hias untuk ditenggelamkan di laut.

Menurut dia, ritual ini maksudnya agar masyarakat terhindar dari malapetaka dan beroleh berkah saat mencari ikan.


Bahran mengatakan setiap tahun, Rokat Tase digelar dengan menggunakan dana iuran para nelayan hingga pedagang ikan. Di desa tersebut ada 75 kapal besar dan 35 kapal kecil.

"Biasanya kita swadaya, urunan semua. Kalau kapal besar iurannya Rp1 juta, kalau kapal kecil Rp250 ribu. Kalau pedagang ikan lain lagi," kata bapak yang sudah melaut selama 15 tahun tersebut.

Bahran yang juga pemilik kapal besar dengan nama Zamzam Predator itu, menyebut untuk menghias kapal, satu kapal besar bisa menghabiskan dana sekitar Rp10 hingga Rp15 juta.

                                                                 Bukan biasa
Pada November, sebenarnya bukanlah waktu yang biasa untuk dilakukan Rokat Tase. Kali ini, pergelaran Rokat Tase lebih seperti festival yang digelar bersama pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.

Menurut Wakil Bupati Sumenep Achmad Fauzi, kegiatan itu salah satu program pemerintah setempat untuk menjadikan tradisi masyarakat menjadi daya tarik wisata.

Sudah tiga tahun belakangan ini, mereka mendukung kegiatan Rokat Tase. Pemerintah daerah setempat menggilir desa-desa di Sumenep untuk menggelar festival yang diberi nama "Gelar Tradisi Masyarakat Pesisir" itu.



Selain acara yang digelar hanya sehari, tak ada sesaji yang dilarung dalam kegiatan itu, sedangkan di Desa Pasongsongan mereka mengganti sesaji dengan menabur benih ikan kakap.

Meski mengganti larungan sesaji dengan melepas benih ikan ke laut, inti kegiatan yaitu wujud syukur, tetap sama.

"Ini kan tradisi untuk bersyukur. Rasa syukur dan meminta keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa sudah kita panjatkan melalui doa bersama tadi," kata dia.

Pelepasan 2.000 benih ikan kakap di laut itu juga simbol untuk mengajak para nelayan menjaga kelestarian ekosistem laut.

"Kami berharap para nelayan menangkap ikan yang besar-besar saja, sementara itu ikan yang kecil-kecil dilepas saja dulu," kata dia.

Achmad berharap festival tersebut dapat menyadarkan masyarakat bahwa betapa penting potensi maritim Sumenep dalam mengangkat harkat martabat nelayan di daerah itu.

Festival itu juga diharapkan dapat meningkatkan kelestarian lingkungan dan tradisi budaya Rokat Tasek yang sudah memadukan budaya lokal dengan nuansa Islam.

                                                                Dikenalkan
Direktur Kepercayaan dan Tradisi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Christiyati Ariani mengatakan kegiatan budaya dan tradisi masyarakat pesisir meski dikenalkan kepada masyarakat luas.

Dia menyayangkan budaya pesisir masyarakat Indonesia tidak begitu dikenal dibandingkan dengan budaya masyarakat agraris.

Padahal, panjang pantai Indonesia yang lebih dari 95 ribu kilometer dan memilik 17 ribu lebih pulau dengan sumber daya alam yang beragam.

"Saya rasa masalah kita lebih mendasar dari itu, yaitu terpisahnya laut dan dunia maritim dari kebudayaan kita. Sikap memunggungi laut terjadi karena berbagai perubahan penting dalam sejarah yang membalik arus kebudayaan kita," kata dia.

Oleh sebab itu, pengenalan tradisi kepada masyarakat inilah modal bagi ketahanan budaya yang dapat memperkukuh kesatuan bangsa serta memperkuat karakter dan jati diri bangsa.

Hampir semua pesisir di Indonesia memiliki budaya Petik Laut.

Oleh karena hidup sebagai nelayan sebagai salah satu pekerjaan yang memiliki risiko tinggi, sehingga nelayan merasa perlu melakukan hubungan yang baik dengan pencipta alam agar memperoleh keselamatan selama melakukan penangkapan ikan.

Pelaksanaan Rokat Tase, selain sebagai ungkapan permohonan nelayan untuk memperoleh keselamatan dalam mencari penghidupan di laut, juga perwujudan syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas berlimpah tangkapan ikan.

Selain itu, upaya memelihara pengetahuan dan praktik lokal sebagai penjaga keharmonisan antara alam dan aktivitas manusia. (antara)

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini