Robohnya Jakarta Kita

10 May 2019 03:34 Ajar Edi
Ujar Ajar

Presiden Joko Widodo (Jokowi) bikin ramai lagi. Saat semuanya lagi heboh menanti hasil Pemilu, dia memilih membikin perdebatan baru. Dia ingin memindah ibu kota kita. 

Sepertinya, Kalimantan jadi tujuannya. Pertama, dia mampir di Bukit Soeharto di Kab Kutai Kartanegara, Kaltim. Lantas, melawat ke Kawasan Segitiga Kalteng, titik tengah antara Kota Palangka Raya, Kab Katingan, dan Kab Gunung Mas.

Banyak yang bertanya, kenapa isu ini dimunculkan sekarang? Apakah hanya untuk menggeser isu pemilu saja? Mungkin. 

Atau, Pak Jokowi ingin menyindir Gubernur Anies Baswedan? Ini secara politik masuk akal. Maklum, sebelumnya publik ribut karena mantan Menteri Pendidikan ini dianggap gagal menangani banjir. Sekalian bisa juga mengeliminasinya sebagai pesaing Mbak Puan Maharani di 2024.

Ya, nanti kita tanya Pak Jokowi saja. Mana yang lebih tepat. Namun, dalam laman Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Selasa (7/5/2019), mantan Gubernur DKI Jakarta ini membagi pikirannya. Dia ingin menegaskan visi Indonesia ke depan. 

“Kita ingin memiliki juga pusat pemerintahan yang terpisah dengan pusat ekonomi, bisnis, perdagangan, (dan) jasa,” ungkap Pak Jokowi. Di matanya, inilah setapak awal menuju negara maju.

Pertanyaan nakal lain, jangan-jangan Pak Jokowi hanya ingin menyenangkan Ibu Megawati saja? Maklum, dia merejuvenasi hampir semua mimpi Bung Karno, bapaknya ibu Mega.

Dari perayaan Konferensi Asia Afrika, perhelatan Asian Games, meremajakan simpang susun Semanggi itu, hingga kini pemindahan ibu kota. Semua warisan Bung Karno.

Untuk menegaskan itu, Pak Jokowi merasa perlu mampir ke tiang batu pertama penanda pembangunan Kota Palangkaraya. Satu-satunya kota yang didesain Bung Karno sebagai calon ibu kota kita. “Tiang ini dipancangkan Bung Karno 62 tahun lampau, tak jauh dari pinggir Sungai Kahayan,” tulis mantan Wali kota Solo ini di media sosialnya.

Namun, mari kita pinggirkan dulu pertanyaan-pertanyaan yang agak ngawur itu. Mari kita ngobrol tentang ibu kota. Sebenarnya, apa dasar filosofis penentuan sebuah ibu kota negara?

Pertama, kata ibu kota (capital), lahir dari bahasa Latin capitalis, yang berarti "kepala". Jadi dia harus punya peran pengontrol serta simbol persatuan. Dia juga tuan rumah atas segala kuasa.

Kata ibu kota (capital), lahir dari bahasa Latin capitalis, yang berarti "kepala". Jadi dia harus punya peran pengontrol serta simbol persatuan. Dia juga tuan rumah atas segala kuasa.

Selain itu, dia punya jaring perekat atas nama persatuan. Karena alasan itu, banyak ibu kota dibangun di pusat negara. Di tengah-tengah. Dia harus dilihat sebagai representatif dan mudah diakses.

Yang didasari semangat ini ada beberapa contoh. Abuja, yang jadi ibukota resmi Nigeria pada tahun 1991. Dia dipilih karena secara geografis berada di tengah. Menandakan persatuan Nigeria, yang terbagi di sepanjang garis agama dan geografis.

Contoh berikutnya Brasilia, ibu kota Brasil. Letaknya di pedalaman. Dia penganti Kota Rio de Janeiro yang sebelumnya berada di pinggiran pantai. Brasilia resmi menjadi Ibu Kota Brasil pada tahun 1961. 

Kedua, pemindahan karena kompromi politik. Untuk ini, contohnya Washington D.C di Amerika Serikat. Dia dibangun tahun 1790. 

Saat itu, George Washington memilih tempat tepat di pinggir Sungai Potomac. Sebagai kompromi bagi negara bagian utara dan selatan. Sebelumnya Alexander Hamilton dari negara bagian utara serta Thomas Jefferson dan James Madison dari negara bagian selatan berebut lokasi ibu kota.

Lantas Canberra di Australia. Dia dipilih sebagai kompromi antara kota terbesar Sydney dan pesaingnya di selatan, Melbourne. Tak heran, banyak turis yang kaget, saat menemukan Canberra yang sepi itu. Walaupun sebagian menyukai karena sejuk.

Banyak ibu kota dibangun di pusat negara. Di tengah-tengah. Dia harus dilihat sebagai representatif dan mudah diakses.

Alasan ketiga, karena sejarah yang berkelindan. Dan pasti rumit. Contohnya adalah Berlin dan Bonn di Jerman. Juga Afrika Selatan.

Perdebatan muncul ketika Tembok Berlin runtuh pada tahun 1989. Jerman lantas bersatu lagi. Dimana mereka harus memutuskan ibukota.

Selama Perang Dingin, Bonn adalah ibu kota Jerman Barat. Sedangkan Berlin jadi ibu kota Jerman Timur. Namun, berdasarkan pemungutan suara di Bundestag pada 20 Juni 1991, Berlin keluar sebagai pemenang.

Yang lebih ruwet lagi adalah Afrika Selatan. Mereka memiliki tiga kota penting: Cape Town (legislatif), Pretoria (administrasi) dan Bloemfontein (peradilan). Walau sebenarnya masih ada satu lagi, tempat Mahkamah Konstitusi berada, yakni Johannesburg.

Pada tahun 1994, setelah apartheid berakhir, ada gerakan untuk menciptakan ibu kota baru. Membangun suasana dan semangat baru. Tapi sampai hari ini itu tidak terjadi. Dan tidak ada ibu kota negara yang disepakati.

Terakhir, pemindahan karena keinginan sang orang kuat. Contohnya adalah Astana. Inilah ibu kota Kazakhstan hasil ambisi Presiden Nursultan Nazarbayev.

Nah, kembali ke negara kita. Sepertinya, apa dasar yang paling pas untuk pemindahan itu? Lantas, pertanyaan berikutnya, untuk membangunnya pakai uang siapa? 

Ajar Edi, kolumnis Ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini