Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir. (Foto: Istimewa)

Risalah Kehidupan, Di Tengah Krisis Islam Beri Solusi

29 Oct 2020 16:20

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Apa yang dapat diberikan kaum Muslim ketika umat manusia tengah dilanda krisis kehidupan? Apakah memberi solusi atau malah menambah rumit masalah. Tentu, yang terakhir tidak menjadi pilihan karena sejatinya islam sebagai agama selalu memberi jalan keluar!

Kehadiran Islam untuk menjadi rahmat bagi semesta kehidupan: “Kami tidak mengutus engkau Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam” (QS al-Anbiya: 107).

"Al-Quran dan Hadis Nabi mengandung ajaran perintah, larangan, dan petunjuk-petunjuk yang sangat kaya dan mencerahkan dalam memberi solusi bagi kehidupan umat manusia yang membawa segala kebaikan," tutur Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir

Namun, tidak jarang sebagian kaum Muslim gagal memahami dan mengimplementasikan nilai luhur dan kesempurnaan ajaran Islam yang rahmatan lil-‘alamin itu. Menurut Muhammad Abduh, al-Islamu mahjuubun bil muslimin, bahwa Islam tertutup oleh kaum Muslim.

Islam sebagai jalan terang sering diselimuti gelap karena pemahaman umatnya yang jumud, kaku, sempit, dan bias atas ajaran yang sempurna dan menyeluruh itu.

"Islam sebatas dipahami kulit luar minus isi dan fungsi yang mencerahkan kehidupan. Apalagi, ketika Islam dipahami oleh umatnya yang tidak berbasis ilmu dengan beragama sebatas rasa dan kebiasaan," kata Haedar Nashir.

Tatkala Islam memberi jalan kemudahan, umatnya membuatnya menjadi sulit. Padahal, ajaran Allah yang paripurna ini ditegaskan sebagai “hudan lil-nas” atau jalan terang bagi kehidupan. Nabi Muhammad membuktikan risalah Allah itu dalam sunahnya yang melintasi zaman.

Sementara, para ulama sebagai pewaris Nabi banyak memberi khazanah Islam yang kaya dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Bangun Peradaban

Islam dihadirkan li-shalahil ‘ibaad dunya-hum wa ukhra-hum, untuk kesematan dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Islam adalah risalah bagi kehidupan umat manusia sepanjang masa dan keadaan. Karenanya, agama yang dibawa Nabi akhir zaman ini mengandung seluruh aspek kehidupan sehingga bukan agama ”millenari” atau tempat pelarian orang-orang jabariyah yang ingin menjauhi dunia.

Islam tidak mengajarkan umatnya asyik-masyuk dalam urusan spiritual dengan mengabaikan urusan kehidupan di dunia. Ketika Muhammad dilanda ‘am al-hazm atau tahun kesedihan karena ditinggal kematian Khadijah dan Abu Thalib di tengah teror kaum Quraisy, Nabi diisrakan dan dimi'rajkan Allah. Dia diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha serta dinaikkan sampai ke Aras tertinggi untuk menghadap Allah.

Siapa yang tidak bahagia menghadap Allah di Sidrat al-Muntaha? Konon para sufi, seperti al-Hallaj dan Siti Jenar, mendambakan perjalanan ruhaniah tertinggi itu dalam “wihdat al-wujud” atau “Manunggaling Kawula Gusti”. Suatu paham sufisme yang ghuluw (ekstrem) dan banyak tidak sejalan dengan umumnya akidah kaum Muslimun.

Risalah Muhammad tidak untuk urusan spiritual yang egositik itu. Dari Sidrat al-Muntaha itulah Muhammad kembali lagi ke Makkah dengan membawa perintah shalat.

Nabi hadir kembali ke bumi tempat menyebarkan risalah rahmatan lil-‘alamin. Risalah yang membawa dirinya harus berhadapan dengan kepongahan kaum Quraisy dan bangsa Arab yang jahiliyah, hingga menuntutnya untuk hijrah ke Yasrib untuk membuka jalan baru mewujudkan risalah Islam.

Di kawasan Yasrib yang masih dusun itulah Nabi membangun tatanan dunia baru. Nabi persatukan kaum Muslimun dengan kaum Nasrani dan Yahudi dalam hidup kemajemukan melalui Piagam Madinah yang inklusif.

Nabi bersama para sahabat dan kaum Muslimun membangun fondasi akhlak dengan keadaban luhur, berniaga dengan halal dan baik, memuliakan laki-laki dan perempuan dalam martabat sama, mengajarkan perdamaian, menyelesaikan masalah tanpa pertumpahan darah, dan membangun peradaban maju.

Di Yasrib itulah selama sekitar 13 tahun dibangun tatanan kehidupan al-Madinah al-Munawwarah. Kota peradaban yang cerah-mencerahkan. Dari Madinah itu pula pasca-Nabi, Islam meluas dan membangun peradaban berkemajuan yang melintasi ruang dan waktu ke puncak zaman keemasan.

Lahirlah peradaban Islam yang mengglobal dan modern tatkala Barat masih dalam era kegelapan. Itulah jejak risalah Islam yang melahirkan peradaban utama bagi kehidupan semesta!