Djaduk Ferianto. (Foto:Tribun)

#RIP Djaduk Ferianto, Kami Akan Selalu Mengenangmu

Tokoh 13 November 2019 12:01 WIB

Engkau sangat pantas dikenang. Dan kami beruntung mengenalmu. Bukan hanya suami, yang memiliki sejuta kenangan, tapi aku dan anak-anak pun akan selalu mengenangmu.

Engkau membuat dunia tertawa. Begitulah sejak lama kami mengenal putra Keluarga Maestro Tari alm. Pak Bagong Kusudiharjo yang lebih dulu aku kenal dari televisi karena karya tari-tariannya.

Tersirat bangga bisa mengenal dan bersahabat baik dengan putra-putra beliau. Persahabatan yang hingga kini meski telah terpisah jarak. Tetapi bagi kami, rasanya wajib bertemu meski sesaat, ketika berada di Jogja.

Kehangatan yang tanpa batas, rasanya beliau sudah seperti bagian keluarga yang wajib ditemui. Tidak hanya info kuliner yang selalu baru. Tetapi guyonan kelas tinggi maupun gojek kere a la Jogja juga kami rindukan selalu.

Mengenal Djaduk dan kakaknya, Butet Kertaradjasa serta istri dan anak-anaknya. Kami selalu berusaha hadir di event-event yang digagasnya: Ngayogjazz, Jazz Gunung atau pentas Gandrik. Meski harus memaksa terbang ke Jakarta atau berkereta ke Jogja. Bagi kami it's a must. Untuk apa?

Karena kami selalu rindu tawanya. Rindu tertawa bersama. Membahana. Di mana saja. Di angkringan atau lesehan atau di restoran.

Jazz ada sejak Jaman Diponegoro
Beberapa bulan lalu, saat mengantar Nizar, anak kami nomor tiga memasuki masa kuliah di ISI Yogyakarta, kami bertemu. Dan seperti biasa selalu banyak cerita dan tawa. Satu yang kuingat dengan baik. Rencana membuat "Museum Jazz" ala ala di event Ngayogjazz.

Beginilah Seniman Jogja yang bebas merdeka mengartikulasikan kreatifitas: "Jazz itu ada sejaK jaman Diponegoro. Kok bisa?

Jadi pada jaman dulu ke mana-mana naik kuda. Kesuwen! Lalu dibangunlah jalan kereta. Pangeran Diponegoro pun naik kereta. Bunyinya JAZZ JEZZ JAZZ".....әәә

Membahana meja kami. Mungkin membuat pengunjung lain iri. Apa siii yang membuat kami bisa tertawa demikian bahagia?

"Dirimu selalu membuat orang tertawa pak Djaduk. Semoga surgaNya pun akan meriah oleh tawamu"

Kenangan bersama Om Djaduk
Anak-anak kami pun punya kenangan manis bersamamu. Kami memang mengenalkan anak-anak pada sahabat-sahabat kami di Jogja. Dan mereka pun punya kenangan baik bersama Om Djaduk

Kata Nadia "Dulu pernah jemput Om Djaduk dari bandara. Terus sepanjang jalan Om Djaduk bikin musik pake mulut terus direkam huhu. Terus diajak makan rujak 70rb an di Rujak Cingur Peneleh.  Sedih sekarang udah pergi menghadap Sang Kuasa, sugeng tindak Om Djaduk"

Nadia mungkin yang paling banyak kenangannya. Karena sebenarnya sejak kecil sudah kami ajak, mengenal atmosfir Seni di Jogja.

"Keren banget om Djaduk. Aku amaze dengan ide ide dan karya karya beliau, bener bener orang keren and thanks God, Pa and Ma sudah sering ngajak srawung sama beliau."

Putri kami nomor dua menyusul kemudian menjadi mahasiswa di Jogja. Meski passion musiknya lebih ke musik jaman The Beatles ataupun musik elektronik jaman now. Toh bisa nyambung ketika diperkenalkan ke para seniman sekelas Djaduk n Butet Kertaradjasa.

Icha pernah ditugasi papanya mengantar Om Djaduk " naik mizzi berlima sempit-sempitan di belakang, kata om Djaduk "mobilmu tak pinjem dulu" terus minta dianterin beli charger di ibox, katanya "Kalau  papamu ga tau soal beginian"

Kemudian sering harus mengantar papanya nonton keroncong di Kota Gede. Atau antar ke Sewon Bantul bertemu mereka di Padepokan Bagong Kusudiharjo atau di Warung Mangut Mbah Marto.

Lalu si nomor tiga, Nizar pun ikut mendapat berkah nasihat Om Djaduk di awal kuliah. Diajari agar bisa mengumpulkan Tugas 500 SKETSA di Semester pertama. Dinasehati agar jadi mahasiswa yang teguh hati kuat iman "pokoknya ga boleh pacaran sampe hamil n ga boleh narkobaan...pokoke Ojo!!!..ga mau aku menerima mahasiswa model begitu".

Kami ingin, Nizar punya pengalaman dan ngangsu kawruh ke Om Djaduk dan Pak Butet. Agar terasah pengalaman menghandel pertunjukan dan rasa seninya. Mahasiswa jurusan seni ya harus menimba ilmu pada Seniman, apalagi punya previlege mengenal baik maestro seniman Jogja. Kesempatan berguru dan Belajar di luar kampus. Itu modal yang berharga.

Kata Nizar "Om Djaduk ngajarin saya banyak hal dalam seni, salah satu yang mendorong semangat saya setelah papa mama, ngebuka wawasan saya. Berkesan sekali"

Kemudian si Bungsu, Nabiel yang masih SMA. Yang juga punya passion handel pertunjukan, sebagai EO maupun Creative Director. Juga beruntung bertemu Om Djaduk, dan intens diajari cara Bargaining dengan Management Artist misalnya. Waktu itu sambil makan di warung pak Ellan Gresik, sebelum pentas Jazz Traffic di Grand City di mana Grup musik pimpinan Om Djaduk ikut perform di gelaran jazz besutan Stasiun Radio Suara Surabaya.
"Nyesal jg pada saat makan di pak Ellan, kita ga foto, keasyikan makan" kata Nabiel.

Aku cuma punya foto saat penampilan di panggung JazZ Traffic. "Charm nya Om Djaduk mungkin yang bikin kita keasyikan ngobrol jd lupa sama HP" kata Icha.

Kesedihan kami hari ini.mendengar kabar yang sangat mengejutkan. Umur adalah rahasia Tuhan. Sugeng tindak pak Djaduk Ferianto. Doa kami selalu. Tuhan memberi tempat terbaik bagimu, yang selalu membuat kami tertawa, menorehkan kebahagiaan dan ketulusan arti persahabatan yang haqiqi. (Tjahjani Retno Wilis)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

05 May 2020 20:46 WIB

Didi Kempot, Glenn Fredly, dan Djaduk; Kisah Tiga Musisi Legend

In Memoriam

Dalam waktu singkat kita kehilangan tiga musisi legend.

05 May 2020 10:38 WIB

Didi Kempot, Titip Salamku ke Djaduk ya!

Arif Afandi

Kematian mendadak Didi Kempot mengejutkan jagat seniman.

27 Feb 2020 08:32 WIB

Dialog Batin Ibadah Musikal Mengenang Djaduk

Feature

Djaduk Ferianto hidup lagi di 100 hari kematiannya. Dalam Ibadah Musikal.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...