Makam isteri Gus miekNgalab Barokah Gus Miek, Makam Nyai Lilik pun Diserbu Peziarah

09 Oct 2019 21:29 Jawa Timur

Meninggalnya Nyai Lilik Suyati tiga hari lalu, memang menjadi perhatian umat Islam, khususnya warga Nahdliyin. Makam KH Hamim Thohari (Gus Miek) yang terletak di Dusun Tambak Desa Ngadi Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri, kini banyak didatangi peziarah. Mereka ngalab barokah (berharap berkah), datang dari berbagai daerah di Jawa Timur. Diperkirakan, setiap hari jumlah peziarah mencapai ribuan pengunjung.

"Pengunjung paling banyak datang pada waktu selesai waktu Ashar hingga malam hari. Mereka datang silih berganti, ribuan. Menggunakan mobil pribadi, kendaraan roda dua maupun minibus," kata Kasanan, petugas keamanan makam, Rabu 9 Oktober 2019.

Pengunjung datang dari berbagai daerah, ada dari Surabaya, Pasuruan, Jember, Banyuwangi atau pun sekitar Kediri saja. Selain berziarah ke makam Gus Miek, para peziarah pun menyempatkan berdoa di makam Nyai Lilik Suyati yang bersebelahan dengan makam Gus Miek. Menurut Kasanan, para peziarah datang ke makam Nyai Lilik Suyati sebatas kirim doa, dan sema'an Al-Qur'an.

Jika sebelum Nyai Lilik Suyati wafat, jumlah peziarah yang datang hanya kisaran ratusan per hari. Dalam catatan ngopibareng.id, sebelum meninggal, Gus Miek memiliki ide untuk membangun ruang makam. Bangunan makam tersebut nantinya bisa ditempati 41 ulama se-Jawa Timur.

"Gus Miek mempunyai ide. Mengumpulkan ulama se-Jawa Timur nanti 41 ulama di sini. Para ulama itu berasal dari Jember, Banyuwangi bahkan Bali sekali pun. Kalau sekarang kira-kira kurang lebih sudah ada 30 ulama," tutur Kasanan.

Peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur kunjungi makam istri Gus Miek Nyai Lilik Suyati Foto Fendingopibarengid
Peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur kunjungi makam istri Gus Miek, Nyai Lilik Suyati. (Foto: Fendi/ngopibareng.id)

Sebanyak 30 Ulama se-Jawa Timur telah dimakamkan itu, antara lain, termasuk Gus Miek, Kiai Achmad Siddiq Jember (Rais Am PBNU, 1984-1990), Kiai Yasin Yusuf al-Balitari (juru dakwah terkenal asal Blitar), Mbah Dahnan Trenggalek, dan ulama lainnya. Ruang bangunan makam ini mulai dibangun setelah Gus Miek meninggal dunia pada 5 Juni 1993.

"Diusahakan di sini harus bersih dari orang meminta-minta alias pengemis. Oleh petugas keamanan dan warga lingkungan sekitar jika ada orang yang meminta-minta itu dilarang. Sebab, jika diperbolehkan khawatir nanti malah membawa teman untuk diajak ke sini. Bahkan, jika ditemukan, mereka nanti akan dipulangkan dan diberi bekal," kata lelaki yang telah 20 tahun lebih bertugas di sini.

Peraturan ini diterapkan dengan maksud agar tidak mengganggu kekhusyukan peziarah yang sedang berdoa.

Saat pemakaman Nyai Lilik Suyati, semua anak Gus Miek datang. Mereka adalah H Agus Tajuddin, H Agus Sabuth Panoto Projo, dan lainya.

Putera kedua Gus Miek, Gus Sabuth (panggilan akrab H Agus Sabuth Panoto Projo) yang kini melanjutkan perjuangan dalam semaan Al- Quran Jatiku Mantab.

Semasa hidupnya Nyai Lilik Suyati juga sering kali berziarah ke makam suaminya, Gus Miek.

Ramainya peziarah yang berkunjung, tentu membawa dampak positif menopang perekonomian warga sekitar. Misalnya dengan membuka lahan tempat parkir, serta warung jualan makanan dan minuman.

"Sekarang ada tempat parkir. Bila satu saja, nggak mumpuni. Tidak cukup. Sekarang ada dua tempat parkir," kata Kasanan.

Jumlah orang yang datang ke makam Gus Miek, bisa semakin bertambah banyak terutama pada saat malam Jumat Kliwon. Di tempat itu, para peziarah menunaikan kegiatan berdzikir yang melibatkan jamaah Dzikrul Ghofilin dipimpin putra Gus Meik, Gus Sabuth. 

Suasana makam Nyai Lilik Suyati di kompleks Makam Auliya Dusun Tambak Ploso Mojo Kediri Foto Fendhyngopibarengid
Suasana makam Nyai Lilik Suyati, di kompleks Makam Auliya, Dusun Tambak, Ploso Mojo Kediri. (Foto: Fendhy/ngopibareng.id)
Penulis : Fendhy Plesmana
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini