Resep Panjang Usia Pendiri Satria Nusantara

12 Mar 2019 11:14 Arif Afandi

Sudah difasilitasi segalanya, masih mendapat ilmu yang berguna. Ini yang saya alami pekan ini. Bersama sejumlah teman seangkatan saat kuliah di UGM. Kami mendapat ilmu cara berumur panjang dan sehat dari suhunya. Bahkan suhunya suhu.

Ceritanya begini. Setiap tahun, kami memang menggelar reuni angkatan 1983 Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM. Mereka datang dari berbagai daerah. Tempatnya hampir selalu di Jogjakarta. Sambil bernostalgia di masa mahasiswa. 

Tapi tahun ini paling istimewa. Kali ini dijamu teman yang suaminya ahli ilmu pernafasan yang sekaligus pendiri perguruan Satria Nusantara. Kami beruntung berkesempatan nganyari --menjadi pengunjung pertama-- pedepokan Satria Nusantara di Pakem Jogjakarta.

Padepokan itu di bangun di atas tanah 6 ribu meter. Ada lima bangunan utama dalam bentuk limasan Jogja. Satu pendopo, satu rumah utama, dua tempat penginapan, dan satu bangunan musholla. 

Di depan ada taman rumput yang luas. Di belakang ada kolam dan sungai mengalirkan air yang jernih. Gemericik air selalu terdengar membuat suasana terasa asri. Ditambah udara dingin kaki Gunung Merapi.

Cukup? Belum. Di sore itu, kelas khusus langsung digelar. Pematerinya istimewa. Suhunya suhu alias ahlinya ahli Satria Nusantara. Maryanto Satria Nusantara namanya. Pendiri sekaligus guru besar perguruan itu.

Kali ini, murid khususnya para mantan mahasiswa berusia berkepala lima. Rata-rata berusia 55 tahun. Ada kelas presentasi. Menjelaskan dasar-dasar pengetahuan tentang usia dan kesehatan manusia.

"Pada dasarnya potensi usia manusia itu empat kali masa pertumbuhannya. Kalau masa pertumbuhan 20 tahun, maka teorinya orang bisa hidup sampai 120 tahun. Soalnya bagaimana kita bisa panjang usia dalam keadaan sehat bugar," kata Maryanto.

Ia lebih suka merujuk WHO untuk mengkategorikan umur manusia. Lembaga tersebut membagi usia 0-17 sebagai anak-anak, 18-65 pemuda, 66-79 setengah baya, 80-99 manusia usia lanjut, dan 100 tahun ke atas disebut dengan orang panjang umur. 

Ia juga punya teori tentang penyebab kematian manusia. Pertama karena tua. Kedua karena rusaknya sistem akibat kecelakaan maupun ulah sendiri. Untuk yang pertama, penting sekali mati tua dalam keadaan sehat.

Menurut Maryanto, orang yang mati karena tua disebabkan jatah denyut jantung yang diberikan Tuhan sudah habis. Tuhan telah menentukan jumlah denyut jantung manusia saat nyawa ditiupkan. Sekian miliar kali berdenyut. Seperti kuota pulsa. Semakin sering denyutnya, maka semakin cepat habis pulsanya.

Nah bagaimana denyut jantung bisa cepat habis? Ketika jantung harus bekerja keras memompa darah ke seluruh tubuh. Jika saluran darah tidak lancar maka jantung bekerja lebih berat dan jantung berdetak lebih cepat. Ia harus kerja keras menyemburkan darah ke seluruh organ badan.

Olah raga punya fungsinya. Untuk melancarkan aliran darah. Membuat kerja jantung tak begitu keras. Menghilangkan radikal bebas dalam tubuh akibat makanan yang dikonsumsinya. Membikin denyut jantung tak begitu cepat seperti orang takut diburu setan.

Dia menegaskan bahwa hidup itu harus bergerak. Ia lantas mengutip urutan kematian hasil penelitian Cambridge University. Disebutkan, secara berurutan orang mati karena gemuk malas bergerak, normal malas bergerak, gemuk rajin bergerak, dan normal rajin bergerak.

Maryanto melalui Satria Nusantara telah mengabdikan dirinya untuk berikhitiar memperpanjang usia manusia lewat gerak. Tentu sesuai jatah pulsa denyut jantung yang diberikan oleh yang kuasa. Melalui ilmu pernafasan, ia menjadikan jatah denyut jantung digunakan secara efisien.

Ia tak hanya berteori. Pria berusia 56 tahun ini telah membuktikan sendiri. Ia pernah menjadi juara kedua lari sepanjang 320 kilometer. Ia mampu mengalahkan pelari lain yang masih berusia 30-an tahun. Itu terjadi April tahun lalu dalam event Lomba Lari Lintas Sumbawa di Nusa Tengara Barat.

Lari sepanjang Surabaya-Jogjakarta dengan medan naik turun pegunungan dan panas terik di siang hari itu ditempuhnya selama 63 jam. Ia pun mencapai garis finis tanpa cidera, kram atau apapun. Maryanto mencapai finis dengan senyum, sementara yang lain tak bisa bergerak.

Tidak hanya itu. Sejak usia 52 tahun, ia membiasakan diri lari Jogjakarta-Kaliurang bolak-balik. Ia juga memamerkan kegiatanya mendaki gunung bersama istrinya di usia di atas kepala lima. Kegiatan yang biasa dihindari oleh orang-orang seusianya.

Bagi Maryanto, usia seharusnya tidak menjadi halangan untuk terus bergerak. Orang biasanya terkungkung dengan mindsetnya. Perasaan malas harus dilawan. Dia bilang, tubuh kalau dimanja akan lemah. Tapi kalau ditantang untuk terus bergerak akan tumbuh.

Pendiri dan guru besar seni pernafasan Satria Nusantara yang memiliki sejuta anggota ini juga menekankan pentingnya orang untuk selalu gembira. Olah raga menjadi salah satu instrumen untuk menciptakan kegembiraan. Selain juga menciptakan kebugaran.

Setelah sesi kelas dengan sejumlah pengetahuan tentang hidup sehat bugar, kami pun lantas mempraktikkan. Dipimpin langsung sang gurunya guru Maryanto, kumpulan pemuda usia 50-an itu melakukan senam pernafasan selama setengah jam. Di taman depan padepokan.

Ada yang ngos-ngosan. Ada yang mukanya merah padam. Ada yang kesulitan mencium lututnya sendiri karena lemak memenuhi perutnya. Tapi sebagian besar, esok harinya saling sambatan karena njarem kaki akibat tak pernah memaksa tubuhnya bergerak. (Arif Afandi)