Ratokid, Permainan Buatan Mahasiswa Ubaya Untuk Cegah Penculikan

15 Jan 2019 20:40 Teknologi & Inovasi

Mahasiswa Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (Ubaya), Shindy Arista, berhasil menciptakan permainan anak yang diberi nama Ratokid.

Sebagai tugas akhir, permainan yang terbuat dari bahan plastik ini diciptakan untuk pembelajaran preventif kepada anak dari upaya penculikan.

"Naiknya jumlah kasus penculikan anak setiap tahunnya menginspirasi saya untuk bagaimana caranya memberikan pendidikan terhadap anak dari upaya penculikan. Nah dari sini, saya terdorong membuat sesuatu sebagai pembelajaran anak-anak untuk mencegah kasus penculikan," ujar Shindy Arista, Selasa, 15 Januari 2019.

Dijelaskan Shindy, Ratokid terdiri dari dua kata yaitu rapitore (penculik) dari bahasa Italia dan Kind (Anak) dari bahasa Jerman.

Permainan ini penuh warna yang membuat anak-anak tertarik untuk mencoba permainan, serta anak tidak mudah bosan untuk memainkannya. Usia anak yang menjadi sasaran permainan ratokid adalah usia 5-8 tahun.

"Ada tiga set dalam permainan ini yaitu sekolah, rumah dan taman bermain. Cara bermainnya pun beda-beda serta memiliki pion yang berbeda pula," kata perempuan kelahiran Surabaya, 29 September 1997 lalu.

Menurut Shindy, proses pembuatan Ratokid membutuhkan waktu 1 tahun sejak tahun 2018, dari proses mencari data sampai desain permainan.

Shindy Arista saat memberikan arahan pada anakanak tentang permainan Ratokid
Shindy Arista saat memberikan arahan pada anak-anak tentang permainan Ratokid

"Saya melakukan survei ke beberapa sekolah mengenai edukasi pencegahan penculikan yang diberikan ke murid juga sudah wawancara dengan beberapa orang tua. Ternyata belum banyak sekolah yang memberi pengajaran khusus agar anak paham betul kasus penculikan atau menghindari orang asing, kalau pun ada itu lisan saja," kata Shindy.

Permainan ini dimainkan dengan cara, pemain memilih set lokasi dari level 1-20 yang ingin dimainkan. Kemudian tiap pemain mendapatkan karakter yang bisa menampilkan foto wajahnya (foto anak) pada pion bertopi biru atau merah muda. Sedangkan karakter orang yang tidak dikenal bisa menggunakan foto siapa saja menggunakan pion topi berwarna hitam. 

Pemain harus memasang pola jalan agar karakternya sampai ke rumah dengam menghindari orang yang tak dikenal. Setelah sampai berhasil mencapai rumah, pendamping akan memberikan pemahaman ke anak-anak mengenai situasi yang mereka telah mainkan sebelumnya. 

"Jadi permainan ini mengajarkan dan mengenalkan anak bagaimana jika mereka berada pada posisi rawan penculikan. Agar mereka tahu hanya boleh ikut dengan orang yang dikenal saja. Dengan ini harapan saya Ratokid bisa membuat anak-anak paham untuk menghindari orang asing," kata Shindy.

Dosen pendamping, Wyna Herdiana, memberikan apresiasi terhadap inovasi Ratokid. Menurutnya anak-anak sekarang lebih senang proses mempelajaran dan pemahaman yang visual dari pada lisan. 

 

"Ini bagus menurut saya, karena anak-anak sekarang lebih senang belajar visual daripada lisan saja. Melalui permainan ini dapat melatih motorik anak, meningkatkan pola pikir saat menyusun track menuju ke rumah, dan meningkatkan sosialisasi dengan teman ataupun orang tua," katanya. (pts)

Reporter/Penulis : Pita Sari
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini