Pose meyakinkan dari sebagian para pengelola susu sapi dari lereng Gunung Wilis di depan armada pengangkut susu. foto:widikamidi

Raja Susu dari Lereng Wilis

Feature 20 July 2018 10:30 WIB

Susu. Ehem... nyaris semua orang suka susu. Yang “asli” maupun “palsu”. Tidak yang gede tidak yang cilik. Maksudnya baik yang dewasa atau anak-anak. Sebab itu ketika BPOM merilis ada susu kaleng bukan susu tapi disebut susu atensi masyarakat Indonesia sungguh bukan main. Ruame dan sueru! Ini tidak membahas itu, tetapi membahas raja susu dari lereng Gunung Wilis. Apa ada? Ada dong... coba simak laporan ngopibareng.id ini.      

__________________

Tulungagung. Persisnya Kabupaten Tulungagung. Kapan lalu Kabupaten ini tiba-tiba top cukup luar biasa, sebab jadi headline news hampir semua media di Indonesia. Bupatinya kena OTT KPK.

Sekarang pun dia masih jadi tahanan di markas KPK di Jakarta. Hebatnya, meski jadi tahanan KPK, Bupati Syahri Mulyo ini menang dramatis saat Pemilukada beberapa saat lalu. Ini fenomena betul, tapi tulisan ini sedang tidak membahas fenomena ini. Tulisan ini akan membahas si Raja Susu dari Lereng Wilis.      

Di luar Bupatinya yang kena OTT KPK, sejak lama Kabupaten Tulungagung menjadi langganan penerima penghargaan. Prestasi yang kerap diraih itu utamanya di bidang koperasi dan UMKM. Nah, salah satu koperasi yang moncer itu adalah Koperasi Tani Jasa Tirta. Dia ini adalah Koperasi Produsen di Jawa Timut dan tingkat nasional untuk jenis Koperasi Kelompok Pemasaran.

Cobalah bertanya, lalu sebut nama Koptan Jasa Tirta di Tulungagung ini, yakinlah orang yang ditanya itu akan gelengkan kepalanya. Gelengan kepala itu tandanya tidak tahu. Dan memang orang-orang yang ditanya itu benar-benar tidak tahu. Tapi cobalah kalimat pertanyaannya diubah sedikit, sebut kata susu atau koperasi susu, maka senyum dan telunjuk orang yang ditanya itu akan menunjuk ke arah jalan menuju lereng Gunung Wilis. Ya, disanalah, di lereng Gunung Wilis itu, Koptan Jasa Tirta berada.

Dari kota Tulugagung jaraknya sekitar 35 Km, dan sayangnya tidak ada angkutan umum menuju ke sana. Angkutan menuju ke daerah lereng gunung itu, andai tidak membawa kendaraan sendiri, angkutan andalannya adalah ojek. Perlu merogoh kocek agak dalam hingga 60 ribu rupiah untuk sampai di Desa Sendang, di Kecamatan Sendang itu.  

Nebeng

Koptan Jasa Tirta ini dicetuskan oleh 58 orang di tahun 1998 lalu.  Mereka awalnya adalah kelompok HIPA, Himpunan Petani Pemakai Air. Sebagai HIPA kelompok ini mempunyai modal 31 juta, tapi modal tersebut tidak jelas dan macet di antara anggotanya. Modal macet itu juga sulit ditagih karena tidak ada kekuatan untuk melakukan penagihan.

Dari serangkaian rapat-rapat  kelompok akhirnya disepakati untuk membentuk koperasi yang berbadan hukum. Tujuan utamanya adalah menagih utang-utang anggota HIPA itu. Setelah terbentuk koperasi bingung juga karena tak punya meja dan kursi. Lalu ada anggota sekaligus ketua pengurusnya mengusulkan agar nebeng saja di rumahnya. Jadilah Sugito selain pemilik rumah juga nahkoda koperasi baru ini.

Siap memerah susu fotoistimewakampungsusu Siap memerah susu... foto:istimewa/kampungsusu

Selain Sugito ada juga pengurus lain, sekretaris dipegang Juwadi Siswoyo, bendaharanya Pak Suyanto, didapuk pengawas adalah Sutrisno dan Yayuk Wiji Rahayu, sedang posisi manajer dipegang Miskamto. Karena keseriusan para bekas kelompok HIPA itu koperasi ini memiliki progres bagus.  

Anggota koperasi lantas mengumpulkan modal sendiri. Anggota diwajibkan iuran pokok 25 ribu rupiah dan iuran wajib 500 ribu rupiah, dan harus dibayar lunas setahun. Jadi modal awal kelompok ini 31 ribu rupiah kali 58 orang. Modal ini kemudian diputar untuk kegiatan simpan pinjam dan beberapa kegiatan untuk manaikkan kesejahteraan anggota.

Bisnis awalnya adalah membantu melayani pakan ternak untuk para peternak sapi perah. Pengurus dan anggota bahu membahu mencari gamblong untuk kemudian dijual ke peternak. Ternyata bisnis pakan ternak tak semudah yang dikira. Penagihan ke peternak sama sulitnya seperti menagih piutang HIPA.

Kesulitan ini akhirnya justru memunculkan gagasan berani untuk membeli susu milik peternak.  Sembari membeli susu bisa juga menagih utang pakan ternak. Gagasan membeli susu peternak itu berjalan mulus setelah pengurus Koptan Jasa Tirta berhasil menjalin kerjasama dengan KSU Rukun Santoso yang diketahui Haji Masngut Imam Santoso di Blitar. Sejak saat itu mulailah susu peternak dari Desa Sendang dipasarkan ke pabrik Susu Bendera di Jakarta.

Pasang dan surut bisnis jelas mewarnai kinerja calon raja susu ini. Pernah di tahun 2006 susu milik peternak anggota Koptan Jasa Tirta dihargai sangat rendah. Karena itu pengurus melakukan negosiasi ulang dengan KSU Rukun Santoso untuk mencari pemecahan. Beberapa opsi ditawarkan, di antaranya adalah harga susu dinaikkan atau akan menjual susu sendiri ke pabrik. Opsi yang disetujui KSU Rukun Santoso adalah menjual sendiri ke pabrik, hanya DO-nya tetap milik KSU Rukun Santoso.

Berhasil menjual susu sendiri, koperasi yang dulunya susah ini langsung menggeliat. Lalu memiliki 8 unit usaha, jumlah karyawannya meningkat pesat menjadi 64, 6 orang tenaga borongan, dan berhasil membukukan anggota senjumlah 1013 orang.

Nyaur Ngamek

Delapan unit usaha itu adalah pertokoan, simpan pinjam, makanan ternak, angkutan, unit susu, pupuk organik, radio, pembayaran rekening listrik dan telepon. Unit pertokoan dibagi dua, pertokoan khusus dan untuk masyarakat umum.

Pertokoan khusus adalah untuk anggota koperasi saja. Menyediakan  segala keperluan peternak hingga sembako. Mulai sepatu, skop kotoran ternak, sabun, pasta gigi, minyak goreng dan seterusnya.  Semua barang di pertokoan khusus ini bisa dikredit. Pembayarannya semuanya dengan sistem nyaur ngamek, yaitu penghasilan susu per bulan dipotong dengan besaran kredit barang.

Pertokoan yang kedua adalah model swalayan modern. Dikelola profesional dan tidak bisa utang. Sebab itu pembayaran harus tunai. Swalayan ini adalah untuk melayani masyarakat umum untuk itu letaknya juga tidak di lereng gunung untuk menjangkau konsumen yang lebih luas. Swalayan milik Koptan ini berada di Desa Ndono, beberapa kilometer menuju ke arah Kota Tulungagung.

Menurut Sukamto, unit simpan pinjam adalah unit yang maju paling pesat. Untuk kelas pegunungan perputaran piutangnya mencapai 2,1 miliar. Unit ini juga tidak hanya melayani peternak tetapi juga melayani umum. Dana yang sudah overload  membuat  kurang cepat berputar kalau hanya peternak yang melakukan simpam pinjam.

“Unit simpan pinjam ini awalnya menggunakan sistem mingguan, namun  kemudian dirubah menjadi bulanan. Sistem mingguan dihapus untuk merubah image bahwa koperasi manarik jasa yang tinggi. Ketika masih mingguan, kita sampai mempunyai karyawan penagihan yang dibekali sepeda motor untuk keliling gunung. Jumlahnya mencapai ada 12 unit,” terang Sukamto.

Untuk sistem keamanan juga mencontoh bank, yaitu peminjam harus disertai dengan jaminan. Sistem ini diterapkan untuk pengamanan keuangan koperasi dengan peminjam yang skala besar. Namun khusus untuk para pedagang volume kecil tetap tidak perlu menggunakan jaminan apapun.

Lalu unit susu sapi perah, ini berkembang besar. Sebutan raja susu berawal dari sini. Dulu hanya menjadi penyuplai susu untuk KSU Rukun Santoso di Blitar, karena itu harga sering tidak stabil dan merugikan anggota. Setelah berhasil menjual susu sendiri kapasitas produski naik pesat. Dari 1700 liter per hari menjadi 12.500 liter per hari.

Susu tidak hanya dipasarkan lewat KSU Rukun Santoso di Blitar tetapi juga lewat Gabungan Koperasi Susu Indonesia di Malang. Susu juga di pasarkan ke pabrik susu Bendera Jakarta, PT Greenfield dan  Garuda Food Gresik. Dengan Garuda Food malah menjalin kerjasama untuk pakan ternak.

Volume usaha susu kini mencapai 22,6 miliar rupiah.  Volume usaha ini menghasil pendapatan SHU sebesar 362,5 juta. Bagi masyarakat gunung, volume usaha senilai 22,6 miliar bukanlah nilai yang kecil. Volume usaha yang sudah membesar plus modal sendiri yang lebih dari cukup membuat raja susu dari lereng wilis   tidak banyak memanfaatkan penyertaan modal dari pihak ketiga. Kendati demikian untuk tetap menjalin kerjasama Koptan tetap berbuhungan dengan BUMN dan berbagai pihak swasta. BUMN misalnya Bank BRI, Bank BNI, Bank  Mandiri,  Bank Jatim,  juga LPDB. Pihak swasta misalnya Bank BCA, Bank Suadara, BPR Nusamba, BMT Arrahman dan BMT Amanah.

Untuk distribusi susu, selain memiliki angkutan sendiri tetap bermitra dengan KSU Rukun Santoso di Blitar. Sedangkan suplai pakan ternak ada berbagai mitra/ misalnya  PT Bumirejo di Lumajang, ada yang dari Jember dan Trengalek. Nah, benar-benar raja dan rasa susu kan... (idi/bersambung)

Penulis : Widi Kamidi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

03 Jul 2020 15:24 WIB

Bagi-bagi Susu Bayi di Tengah Pandemi

Surabaya

T.erkumpul 20 kilogram susu formula yang disumbang para donatur

27 Jun 2020 15:48 WIB

Viral, Video Suami Grebek Istri Sedang Cek In di Hotel

Hukum

Istri cek in di hoel bersama pria lain degan uang susu anaknya.

10 Jun 2020 19:49 WIB

Gugus Tugas Pasuruan Dapat Bantuan Susu Formula 3.600 Box

Ngopibareng Pasuruan

Susu ini akan didistribusikan ke anak para nakes dan balita stunting.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...