Rais Am PBNU: Bangsa Rusak Akibat Kaum Pintar tak Bela Kebenaran

28 Apr 2019 12:17 Khazanah

Tantangan yang dihadapi dunia, termasuk para santri dan kaum santri, saat ini demikian lengkap. Karenanya dibutuhkan anak muda yang tidak semata menguasai pengetahuan dan keterampilan, juga menjunjung kebenaran. Rusaknya sebuah bangsa manakala mereka yang pintar tidak lagi membela kebenaran.

Rais Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Miftachul Akhyar mengungkapkan hal itu pada Forum Silaturahim Nasional atau Forsilatnas VIII Persatuan Profesional Muslim (PPM) Aswaja, Sabtu 27 April 2019. Kegiatan yang menghadirkan para pegiat media Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dari berbagai kota di tanah air tersebut berlangsung di Pesantren Miftachussunnah, Surabaya.

Menurut Kiai Miftah, panggilan akrabnya, ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah perintah membaca dan juga beriman.

“Ini memberikan pesan agar di samping kita pintar, juga benar,”  kata Kiai Miftah, sapaan akrabnya.

Karenanya, Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan Surabaya ini menyambut baik Forsilatnas yang  selalu ditempatkan di pesantren. “Jangan remehkan pesantren kecil, karena justru di sinilah ada taufik,” katanya.

"Kemampuan untuk mengikuti dan memenuhi seruan Allah atau taufik lebih mahal dibandingkan dengan banyaknya pengetahuan. Karenanya, lengkapi pengetahuan yang kalian miliki dengan taufik,” kata Kiai Miftachul Akhyar.

Dirinya mengingatkan bahwa "kemampuan untuk mengikuti dan memenuhi seruan Allah atau taufik lebih mahal dibandingkan  dengan banyaknya pengetahuan. Karenanya, lengkapi pengetahuan yang kalian miliki dengan taufik,” tegasnya.

Demikian pula Kiai Miftah mempersilakan peserta untuk  mengejar dan meraih sederet gelar dan titel kesarjanaan hingga  jabatan apa saja. “Namun ujung-ujungnya gunakan demi kemaslahatan umat,” ungkapnya.

Kiai yang pernah menjabat Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul  Ulama Jawa Timur ini juga mengingatkan kepada peserta tentang pesan yang disampaikan Syaikh Yusuf bin Yahya bahwa di akhir zaman akan ada sejumlah tanda.

“Akan datang masanya tipu daya,” katanya. Demikian pula orang benar tidak lagi dibenarkan. Mereka yang amanah dikatakan sebagai pengkhianat, lanjutnya.

Dengan demikian, kegiatan seperti Forsilatnas yang digelar di pesantren diharapkan agar memiliki nilai lebih. “Yaitu mendapatkan sentuhan keberkahan dan taufik dari Allah SWT,” jelasnya.

Di hadapan ratusan peserta, Kiai Miftah juga berharap forum ini akan melahirkan desain besar bagi NU menjelang usianya yang ke seratus tahun. “Juga strategi besar agar besarnya jumlah warga diimbangi dengan kesadaran untuk berbenah,” tandasnya.

Sejumlah narasumber mengisi kegiatan yang berlangsung hingga Minggu 28 April 2019. Di antaranya KH Lukman Hakim, Agus Zainal Arifin, Ustadz Muntaha, Fauzi Priambodo, Hakim Jayli, Ubaidillah Sadewo, Edi Kurniawan, dan Arif Afandi.

Pada hari terakhir, peserta yang merupakan utusan dari sejumlah pesantren dan kampus di tanah air tersebut juga mengikuti workshop yang dibagi menjadi tiga kelas keahlian. (adi)