Ilustrasi.
Ilustrasi.
Kisah Cinta Instan Sugar Daddy dan Sugar Baby

Purel SMA Bongkar Hubungannya dengan Sugar Daddy

Ngopibareng.id Ngopi BEBAS 06 July 2018 14:08 WIB
“Hubungan antara sugar daddy dengan sugar baby masuk dalam kategori prostitusi lantaran ujung-ujungnya duit.”

Ada banyak penjelasan soal sugar daddy, tapi intinya, sugar daddy adalah om-om yang punya hubungan dengan perempuan yang berusia jauh di bawahnya. Nah, si om-om ini suka memberi barang-barang atau kasih duit jajan ke perempuan yang disebut sugar baby.

Hubungan antara sugar daddy dan sugar baby sering kali disebut dengan sugar dating. Yakni hubungan di mana wanita lebih muda berpasangan dengan pria lebih tua yang bisa memenuhi kebutuhannya secara finansial, dengan imbalan wanita tersebut bersedia menjadi ‘teman’ romantis.

Topik ini berawal dari akun @iniunamekuu yang membagi pengalamannya jalin hubungan dengan seorang sugar daddy. Ia yang kala itu berusia 17 tahun berkenalan dengan seorang lelaki berusia 40an. Singkat cerita mereka akhirnya jalin hubungan dan sugar baby itu mengaku dapat duit dan beberapa tas mewah.

Kemewahan rupanya membuat sejumlah gadis remaja tertarik menjadi sugar baby. Alysa misalnya. Gadis 19 tahun ini bercerita mengenai awal mula ia menjadi sugar baby, yaitu pada saat ia masih kelas 10 SMA dan masih berusia 17 tahun. Itu semua berawal dari hobinya clubbing.

“Awalnya kenal dari klub. Biasanya clubbing pakai biaya dari orangtua. Karena sudah bandel dari awalnya jadi sekalian aja diterusin. Ada tawaran jadi sugar baby. Bayaran Rp 15 juta karena om-nya main sama anak SMA. Bodohnya, itu duit kecil banget padahal bisa dapat duit lebih gede lagi,” cerita Alysa.

IlustrasiIlustrasi.

Alysa mengaku dirinya sudah dua tahun belakangan ini menjadi sugar baby. Menurutnya, profesi tersebut gampang-gampang susah. Ada beberapa syarat seperti, harus selalu menepati janji, selalu ada saat dibutuhkan, dan bebas mau melakukan apa saja ke satu sama lain.

“Ada sistemnya habis main udahan atau kontrak. Kalau kontrak ya jadi simpanan. Misalnya dikontrak 3 bulan, enggak semuanya harus making love. Paling cuma sebulan tidur bareng, selebihnya cuma nemenin makan, jalan, clubbing gitu. Pernah ngambil yang kontrak pacaran itu. Selama kontrak kita enggak boleh jalan sama cowok lain,” kisahnya.

Namun, ternyata harta tak selalu menjadi tujuan akhir dari sugar baby. Seperi Riyana (20) misalkan. Dia merasa sudah di titik jenuh menjadi sugar baby.

“Awal-awalnya kepingin kayak teman-teman, nggak susah cuma nemenin aja dapat duit. Pernah dapat Rp 20 jutaan sama barang-barang kayak tas dan iPhone,” aku Riyana.

Kini, Riyana memilih mengakhiri perannya sebagai sugar baby dan bertaubat setelah hampir lima tahunan dia menjadi ‘simpanan’.

“Namanya uang panas, kayak dapat duit banyak tapi tetap aja cepet habisnya. Selain itu capek juga badan ngikutin maunya (sugar) daddy ya udah mutusin berhenti aja,” aku dia.

Pentingnya Peran Orangtua

Apa yang dialami Alysa dan Riyana hanya segelintir kisah yang dialami banyak sugar baby. Orang tua adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas perkembangan prilaku anak.

“Selain sugar daddy, salahin juga emak bapaknya, tuh anak kemana aja masa orangtua enggak tahu. Anak 18 tahun masih remaja dibawah perlindungan anak. Kalau ketahuan bisa ditangkap polisi terkena masalah pelecehan anak di bawah umur. Itu kan secara norma dan hukum salah,” kecam Psikolog Elizabeth Santoso.

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...