Warga dari berbagai lintas agama di Surabaya dan Jakarta mengikuti doa bersama terkait insiden Mako Brimob, Kamis, 10 Mei 2018. Dalam kesempatan itu simpatisan mendoakan para anggota Polri yang gugur dalam insiden tersebut sekaligus mendukung Polri dalam memerangi kejahatan terorisme. (Foto: Antara)

Puluhan Warga Gelar Bela Sungkawa Tragedi Mako Brimob

11 May 2018 01:44

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Puluhan warga menyalakan lilin sebagai tanda ikut berduka atas gugurnya lima anggota polri saat kerusuhan di Rutan Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Mereka juga berdoa bersama di Monumen Perjuangan Polri Surabaya, Kamis, 10 Mei 2018 malam.

Sambil membawa pigura bergambar logo Polri bertulisan "Kami Bersama Polri," mereka menyalakan lilin dan meletakkannya di sekeliling pigura tersebut di kelilingi sejumlah tangkai mawar. Usai berdoa, bunga-bunga mawar itu kemudian diberikan kepada anggota polisi yang juga hadir.

Koordinator aksi di Surabaya, Kusnan mengatakan, turut sedih dengan insiden yang merenggut nyawa lima anggota polri. Menurutnya, teroris selama ini sudah keterlaluan dalam menjual nama agama islam, untuk merusak perdamaian.

"Surabaya tidak takut terhadap teroris. Kami hidup berdampingan meski berbeda agama. Perbedaan agama bukan alasan untuk bermusuhan. Bersama masyarakat dan polisi, kami akan lawan teroris. Kami mengutuk keras tindakan para teroris dan berharap mereka dihukum mati. Kami tidak takut, NKRI harga mati, dan teroris biadab," kata Kusnan.

Aksi dukungan itu diapresiasi oleh sejumlah anggota polisi yang hadir. Salah satunya, Kompol Lily Djafar anggota dari Polrestabes Surabaya mengatakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih atas kepedulian masyarakat.

Baginya, tugas kepolisian tidak akan berjalan dengan lancar, tanpa dukungan dari masyarakat. "Kami sangat berterima kasih dengan aksi simpatik dan doa bersama untuk anggota kami yang gugur saat bertugas. Tanpa dukungan masyarakat, tugas kami sebagai polisi juga bukan apa-apa," kata Lily.

Sementara itu aksi serupa juga dilakukan International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) di Jakarta. Mereka menyatakan lima sikap pasca kerusuhan di Rutan Mako Brimob Depok, Jawa Barat yang menyebabkan lima anggota Polri tewas.

"Pertama, mengapresiasi kinerja Polri dan menyatakan belasungkawa sebesar-besarnya terhadap tewasnya lima anggota Polri yang telah berjuang melawan terorisme sampai akhir hayat," kata Direktur INFID Sugeng Bahagijo melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Kamis, 10 Mei 2018.

Selain itu, lanjut Sugeng, mengutuk dan mengecam tindakan ekstremisme-kekerasan dan terorisme yang sampai saat ini masih riil menjadi ancaman di negeri ini.

"Oleh karenanya pemerintah harus tegas menindak pelaku terorisme dan melindungi warga dari ancaman kelompok teroris serta ideologinya yang tidak hanya disebarkan di dunia nyata tetapi juga di dunia maya dan menyasar anak muda," ucap Sugeng.

Kemudian ketiga, pihaknya mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk menanggulangi terorisme dari hulu ke hilir secara komprehensif, efektif, dan strategis.

Menurutnya, pemerintah harus memiliki kebijakan dari mulai pencegahan sampai dengan rehabilitasi yang bertujuan menanggulangi ekstremisme-kekerasan dan terorisme yang sesuai dengan prinsip-prinsip HAM dan demokrasi.

"Pemerintah harus melindungi negeri dari bahaya ekstremisme-kekerasan dan terorisme, termasuk di tubuh pemerintahan itu sendiri serta termasuk penyalahgunaan fasilitas pemerintah sebagai medium penyebaran gagasan-gagasan ekstrem," tuturnya.

Keempat, mengimbau pemerintah dan masyarakat sipil untuk tidak meremehkan bahaya dari ideologi ekstremisme-kekerasan dan terorisme, terutama pengaruhnya terhadap anak muda sebagai calon pemimpin di masa depan.

"Oleh karena itu perlu adanya sinergi dari pemerintah dan masyarakat sipil untuk memperkuat upaya-upaya penanggulangan ekstremisme-kekerasan dan terorisme di Indonesia," ungkap Sugeng.

Terakhir, INFID mendorong pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk memiliki Rencana Aksi Nasional dan Rencana Aksi Daerah terkait penanggulangan ekstremisme-kekerasan dan terorisme dari hulu ke hilir yang bersifat partisipatif, inklusif serta berdasarkan prinsip HAM dan demokrasi. (ant/wit)