Puluhan Ribu Massa Padati Dolly Mengaji, Gus Miftah Jadi Idola

10 Oct 2019 00:02 Reportase

Acara Gang Dolly Ngaji dan Shalawatan dalam semarak Hari Santri Nasional 2019 di Surabaya berjalan meriah. Puluhan ribu orang hadir di acara yang bertempat di pojok pertigaan Gang Doly, Putat Jaya, Surabaya tersebut.

Mereka berasal dari kalangan santri, warga sekitar dan penggemar Gus Miftah. Wakil Wali Kota Surabaya, Whisnu Sakti Buana, hadir di antara para tokoh masyarakat dan kiai di kegiatan tersebut.

Gus Miftah Maulana Habiburrahman dari Jogjakarta yang populer berdakwah di dunia malam, diskotek dan tempat-tempat lokasi pelacuran menjadi penceramahnya.

Kali ini, Gus Miftah hadir di bekas kompleks lokalisasi Dolly, pada Rabu 9 Oktober 2019. Acara digelar Lembaga Kesejahteraan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKK NU) Jawa Timur, dimeriahkan juga Gus Wahid bersama komunitas Shalawat Ahbabul Musthofa.

Acara dibuka oleh pengajian dan ceramah agama dari Gus Wahid. Acara semakin meriah saat Gus Miftah datang ke lokasi sekitar pukul 22.00 WIB. Menggunakan pakaian loreng, dan sarung, Gus Miftah menjadi primadona.

Bahkan, saat mau memulai acara, backdrop panggung yang bergambar acara tersebut harus dirobek panitia yang berasal dari LKKNU Jatim didukung Barisan Ansor Serbaguna (Banser) demi kerumunan penonton di belakang panggung yang ingin menyaksikan.

Para pengunjung mendengarkan ceramah Gus Miftah dalam Acara Gang Dolly Ngaji dan Shalawatan Foto faiqngopibarengid
Para pengunjung mendengarkan ceramah Gus Miftah dalam Acara Gang Dolly Ngaji dan Shalawatan. (Foto: faiq/ngopibareng.id)

Seperti biasa, Gus Miftah memberi ceramah yang ringan, dengan sedikit celotehan yang membuat hadirin tertawa meski telah larut malam.

Gus Miiftah bercerita, dirinya terakhir kali mendatangi Dolly sekitar sembilan tahun lalu alias tahun 2010.

"Saya ingat waktu itu Dolly masih buka. Lalu beberapa tahun kemudian saya dengar kabar loalisasi di sini mau ditutup," ucap Gus Miftah.

Gus Miftah mengaku, sebelum tahun 2010, ia juga pernah mendatangi Dolly dan membacakan ayat kepada para PSK di lokalisasi yang ditutup pada 2014 tersebut.

"Ayat merupakan bentuk kasih sayang dari Allah kepada pendosa. Sekitar 15 tahun lalu saya pernah membacakan ayat ke Mbak-mbak di sini (purel dan germo)," kenang Gus Miftah.

Gus Miftah menjelaskan , Allah memanggil para pendosa bukan dengan panggilan wahai maksiat.

"Tetapi, Allah memanggil pendosa dengan bahasa, hei hambaku. Hal itu untuk menujukkan kedekatan Allah kepada pendosa. Maka dari itu saya mengatakan, jangan pernah menghina pendosa seolah-olah kita gak pernah berbuat dosa," ujar Gus berambut gondrong tersebut yang diikuti teriakan penonton 'Kiaine los, jamaah e ora rewel dadi pengajiane los ora rewel'.

Gus Miftah terkenal sering pengajian di tempat-tempat hiburan mengatakan bahwa dirinya memiliki alasan akan hal tersebut. Menurutnya para pekerja malam (PSK) juga membutuhkan tetesan agama dari orang lain khususnya mereka pemuka agama.

"Lebih memalukan saat kita lihat kemaksiatan tapi kita diam dan tidak memberi solusi kepada mereka. Saat saya ditanya kenapa ingin pengajian di lokalisasi.

"Mereka butuh Allah seperti kita. Cukup bodimu bermaksiat jangan sampai hatimu. Mereka butuh tetesan agama dari kita, lebih baik tempat maksiat untuk ngaji daripada tempat ngaji untuk maksiat," tegasnya.

Pengunjung pengajian Gus Miftah mengeluelukan kehadiran sang juru dakwah Foto faiqngopibarengid
Pengunjung pengajian Gus Miftah mengelu-elukan kehadiran sang juru dakwah. (Foto: faiq/ngopibareng.id)
Massa yang setiap mendengar ceramah Gus Miftah di Gang Dolly Surabaya Foto faiqngopibarengid
Massa yang setiap mendengar ceramah Gus Miftah di Gang Dolly, Surabaya. (Foto: faiq/ngopibareng.id)
Penulis : Faiq Azmi
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini