Profesor di Bidang Ekonomi Ketenagakerjaan, Devanto Shasta Pratomo saat ditemui di ruang Senat Lantai 2 Universitas Brawijaya (Theo/ngopibareng.id)

Atasi Pengangguran di Era Digital, Ini Tawaran Solusi Profesor UB

Pojok Unibraw 18 December 2019 09:43 WIB

Seorang dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang, Devanto Shasta Pratomo mengatakan, Indonesia harus menyelaraskan perkembangan di era ekonomi digital agar pengangguran di usia produktif tidak terus bertambah tinggi.

Berdasarkan data yang ia lansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2018, Indonesia termasuk negara dengan penduduk terpadat keempat di dunia, dengan populasi lebih dari 260 juta jiwa. Sensus Penduduk 2010 menunjukkan jumlah penduduk dalam kategori usia produktif jauh lebih besar dibandingkan penduduk dalam kategori tanggungan.

"Penduduk usia produktif jauh lebih banyak daripada usia tanggungan. Bonus demografi tidak berimplikasi terhadap ketenagakerjaan. Sehingga tugasnya adalah bagaimana memanfaatkan bonus demografi ini. Sehingga nanti tidak banyak pengangguran," tuturnya, saat ditemui di ruang Senat Lantai 2 UB, pada Selasa 17 Desember 2019.

Devanto mengatakan, memang angka pengangguran di Indonesia pada 2018, turun dua digit dibanding pada 2015. Namun, angka pengangguran itu masih lebih tinggi dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Filipina yang berada di kisaran 2 sampai 3 persen.

"Maka dari itu Indonesia harus menyelaraskan diri dengan ekonomi digital. Sebab kalau tidak ekonomi digital itu sifatnya destruktif," terangnya.

Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh oleh pemerintah yaitu, menggiring minat dan karakter dunia pendidikan yang ramah terhadap dunia digital.

"Contohnya seperti kurikulum yang ada sekarang ini, tidak hanya sebatas hard skill dan soft skill, namun juga ditambah dengan digital skill," ujar Devanto.

Selain dari segi pendidikan, pengembangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga perlu diarahkan ke dunia digital.

"Terakhir adalah pengembangan ekosistem yang ramah digital. Ini hraus bersinergi antara dunia usaha, pendidikan dan pemerintah. Kolaborasi ini diperlukan terutama dalam hal penelitian dan pengembangan, inovasi, serta upaya peningkatan nilai tambah," ucapnya.

Menurutnya Indonesia belum terlambat untuk mengantisipasi datangnya era ekonomi digital.

"Karena hampir semua negara di dunia juga mengalami hal yang sama dengan datangnya perubahan ekonomi digital yang mendadak," tuturnya.

Uraian di atas akan disampaikan oleh Devanto dalam orasi ilmiahnya yang berjudul "Momentum Bonus Demografi dan Tantangan Ketenagakerjaan di Era Ekonomi Digital" saat acara pengukuhannnya sebagai Profesor di Bidang Ketenagakerjaan pada Rabu 18 Desember 2018, hari ini, di Gedung Widyaloka, UB.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Feb 2020 15:05 WIB

Korban Perundungan Mulai Sekolah, Ganjar: Bebas Pilih Sekolahan

Nusantara

Siswi SMP korban perundungan di Purworejo kembali bersekolah.

25 Feb 2020 13:47 WIB

Sesar Progo Ancam Runtuhkan Candi Borobudur

Nusantara

Berdasarkan sejarah, Candi Borobudur beberapa kali diguncang gempa.

25 Feb 2020 13:40 WIB

Taman Krida akan Dijual, Wali Kota Malang: Kami Siap Mengelola

Jawa Timur

Manfaatkan Taman Krida Budaya untuk gelar even sampai sentra kuliner

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.