Ilustrasi. Petani garam terus berproduksi meski hujan telah tiba.
Ilustrasi. Petani garam terus berproduksi meski hujan telah tiba.

Produksi Garam Pasuruan Tahun 2020 Capai 61 Persen

Ngopibareng.id Ngopibareng Pasuruan 07 November 2020 17:16 WIB

Produksi garam di Kabupaten Pasuruan terus berlanjut, meski musim hujan sudah turun. Target yang ingin dicapai untuk tahun ini mencapai 15.600 ton. Sementara produksi garam hingga bulan Oktober mencapai 9.600 ton.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Pasuruan, Slamet Nurhandoyo melalui Soegeng Subijanto selaku Kabid Usaha Perikanan mengatakan, petani tambak terus digenjot untuk terus memproduksi garam sesuai target yang diharapkan.

"Sekarang jumlah produksi garam sudah mencapai 61 persen dari target yang ditetapkan. Maka dari itu, produksi garam terus kita genjot dengan harapan bisa sesuai dengan apa yang kami harapkan," kata Soegeng, Sabtu, 7 November 2020.

Hanya saja, meski tetap dilanjutkan, proses produksi garam juga sempat terganggu lantaran turunnya hujan beberapa hari lalu.

"Di Pasuruan sempat hujan yang deras sekali hingga 8 jam. Itulah yang sangat berpengaruh terhadap penjemuran atau pengeringan garam itu sendiri. Tapi kalau ditanya apa masih produksi, ya masih banyak yang jalan," katanya.

Soegeng menjelaskan, untuk tahun 2020 ini, masa awal panen garam agak sedikit mundur. Hal itu disebabkan sampai akhir Juni ini masih masa peralihan dan belum memasuki musim kemarau. Sehingga produksi garam baru dimulai sejak Agustus lalu.

"Untuk produksi garam tahun ini memang mundur. Jika tahun lalu produksi garam sudah dimulai pada Mei –Juni, namun tahun ini produksi garam baru dimulai Agustus mendatang," katanya.

Biasanya produksi garam sendiri memang dimulai setelah Lebaran. Namun, imbas Pandemi Covid-19 membuat banyak pekerja yang biasanya dari luar daerah masih belum datang. Kata Soegeng, hal inilah yang membuat persiapan garam baru dimulai bulan agustus.

"Termasuk petambak biasanya baru mulai persiapan saat benar-benar tidak ada hujan. Dan ada kendala juga di pekerja tambak yang dari luar kota masih belum datang imbas corona," katanya.

Lanjut Soegeng, proses persiapan sampai produksi garam memang membutuhkan waktu yang lama. Baik itu persiapan lahan, perbaikan pematang, persiapan meja garam, sampai persiapan produksi seperti kincir angin dan pemasangan geoisolator.

Diketahui, tahun lalu produksi garam di Kabupaten Pasuruan sudah cukup bagus. Dari target sebesar 15.555 ton bisa realisasi mencapai 25.163 ton.

Sedangkan target tahun 2020 ini sebesar 15.600 ton. Menurut Soegeng, untuk produksi garam tahun ini memang ada tantangan. Selain kemarau basah, pengaruh anomali La Nina yang menyebabkan hujan bisa turun di bulan Oktober sampai November juga menghambat produksi garam.

"Jelas La Nina ini berpengaruh, tapi karena hujan masih bersifat lokal. Sehingga tambak garam masih bisa kering dan kami tetap optimis pada November adalah masa puncak panen garam," ujarnya.

Penulis : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Mar 2021 07:53 WIB

Artidjo Alkostar: Sebuah Kitab Keadilan

Hamid Basyaib

Artidjo sosok penegak hukum yang memiliki integritas tinggi dan sahaya.

01 Mar 2021 07:35 WIB

Soal Legalisasi Usaha Miras, Muhammadiyah: Itu Buah UU Ciptaker

Khazanah

Fenomena bangsa yang telah kehilangan arah

01 Mar 2021 07:29 WIB

Memanas dengan Iran, Joe Biden Akan Umumkan Sikap Terhadap Arab

Internasional

Terkait Putra Mahkota Raja Arab Saudi

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...