Prihadi Santoso Mundur dari PT Smelting

11 Feb 2019 18:50 Nasional

Direktur Senior PT Smelting Prihadi Santoso ternyata sudah mengundurkan diri sejak akhir tahun lalu.

"Betul, Pak Prihadi Santoso memang telah mundur dari PTS sejak 17 November 2018," kata Manager General Affair PT Smelting (PTS) Sapto Hadi di Jakarta, Senin 11 Februari 2019.

Ia menceritakan hal itu menjawab pertanyaan wartawan saat media gathering dengan manajemen PTS. Dalam kesempatan itu, perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga itu menyampaikan proyeksi produksi katoda tembaga tahun 2019.

"Sementara itu, Sapto juga menjelaskan bahwa PT Smelting adalah perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga di Gresik Jawa Timur dengan bahan baku konsentrat. Selama ini, semua bahan baku dipasok PT Freeport Indonesia dari tambangnya di Grasberg, Mimika."

Menurut Sapto, alasan Prihadi Santoso mengundurkan diri karena desakan keluarga. Usianya sudah 71 tahun.

"Beliau sudah terlibat dalam pendirian PTS sejak 22 tahun lalu. Namun yang utama ya alasan keluarga itu," tambahnya.

Seperti diketahui, nama Prihadi Santoso sempat disebut-sebut dalam persidangan kasus gratifikasi yang menimpa mantan Ketua Komisi VII DPR RI Eny Mulyani Saragih. Ia disebut sebagai salah satu pemberi gratifikasi terkait dengan impor copper slag.

Impor copper slag, tidak ada kaitannya sama sekali dengan PTS. Sebab, PTS merupakan penghasil produk samping copper slag selain katoda tembaga sebagai produk utamanya.

Selama ini, PTS juga tidak punya rencana untuk mengimpor bahan baku semen pengganti pasir besi ini.

"Jadi PTS tidak punya kepentingan terhadap impor copper slag," tambahnya.

KOMIT JAGA PRODUKSI

Sementara itu, Sapto juga menjelaskan bahwa PT Smelting adalah perusahaan peleburan dan pemurnian tembaga di Gresik Jawa Timur dengan bahan baku konsentrat. Selama ini, semua bahan baku dipasok PT Freeport Indonesia dari tambangnya di Grasberg, Mimika.

Pada tahun 2019, lanjutnya, produksi tambang PT Freeport berkomitmen memasok konsentrat tembaga kepada PT Smelting. Meskipun PTFI mengumumkan adanya penurunan produksi dikarenakan peralihan metode pertambangan dari penambangan terbuka menjadi penambangan bawah tanah.

"Namun demikian, penurunan produksi tambang PT Freeport ini tak akan berpengaruh terhadap produksi PT Smelting," katanya.

Mengapa bisa demikian? Sebab, PT Freeport Indonesia sudah berkomitmen untuk memasok seluruh produksinya tahun 2019 ke PT Smelting yang memproyeksikan 1,1 juta ton konsentrat tembaga, yang akan menghasilkan 291 ribu ton produk utama katoda tembaga dgn tingkat kemurnian 99,99% dan produksi samping 1.04 juta ton Sulphuric Acid (Asam Sulfat) dan sekitar 805 ribu ton terak tembaga (copper slag)

"Dengan proyeksi produksi seperti itu, PTS masih tetap bisa menjaga komitmen untuk memenuhi pasokan katoda tembaga terbaik ke pelanggannya, baik di dalam negeri maupun luar negeri," tuturnya.

PTS juga tetap mampu menjaga komitmen untuk mendukung program ketahanan pangan pemerintah melalui pasokan asam sulfat ke pabrik pupuk Petro Kimia Gresik. Juga berkomitmen kepada industri semen, beton, dan galangan Kapal yang memerlukan pasokan slag tembaga.

Selain itu, PTS juga akan tetap mampu menjaga kontribusinya dalam menjaga neraca perdagangan Jatim. Seperti diketahui, produk PT Smelting, selama ini menjadi kontributor terbesar kedua komoditas ekspor Jatim. (aa)

Reporter/Penulis : Arif Afandi
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini