SMP Praja Mukti, Nasibmu Nanti

07 Oct 2019 14:30 Feature

Matahari terik menyinari Kota Surabaya. Terlihat suhu di aplikasi cuaca mencapai 37 derajat celcius. Panas terik itu juga menyelimuti wilayah Kupang Segunting, tempat berdirinya Yayasan Pendidikan Praja Mukti. Sekolah yang sudah berdiri sejak 11 Januari 1975 itu terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang staf dan guru yang masih berada di sekolah lawas tersebut.

Melangkah masuk pagar yayasan itu, beberapa staf yang berada di teras gedung terlihat bingung dan takut. Ia mengira yang datang adalah staf dari Pemerintah Kota Surabaya, yang akan memberi tahu sesuatu yang membuat mereka marah, sedih, dan emosi. Mereka memang lagi sensitif soal rencana pembongkaran gedung sekolah mereka.

Perasaan takut dan bingung mereka akhirnya sirna, setelah melihat id card media. Senyuman malah menghiasi bibir dan pipi mereka.

"Saya kira Pemkot. Kalau media, langsung ke ruang informasi. Guru-guru ada di situ," ujar pria separuh baya yang tak mau disebutkan namanya.

Gedung kokoh bertingkat tiga masih terlihat melingkari tanah yang luasnya 470 meter persegi. Di sudut-sudut ruangan, masih terlihat bahwa sekolah itu masih ada kehidupan.

Ternyata, siang itu bukan hanya panas sinar matahari yang masuk ke dalam sekolah tersebut, namun juga panas emosi jiwa masuk ke dalam hati para pengurus dan karyawan yayasan tersebut.

Dengan kerudung bermotif, seorang wanita dengan sangat sopan bertanya soal keperluan datang. Awalnya dia, menolak untuk memberikan keterangan soal rencana pembongkaran sekolah. Dia malah menyarankan lebih baik langsung menghubungi kuasa hukum yang telah ditunjuk oleh yayasan.

Tak hilang akal, pertanyaan dialihkan soal nasib guru dan siswa, jika gedung sekolah itu akhirnya dibongkar oleh Pemkot Surabaya. Wajah perempuan berjilbab itu pun menjadi lebih ramah. Dengan senang hati, wanita berjilbab ini akhirnya mau bercerita nasib dirinya, rekan guru, siswa dan wali murid.

Lia Julita Rahmawati guru SMP Praja Mukti bercerita tentang nasib guru murid dan masa depan Praja Mukti Sesekali ia mengusap air mata dengan jilbabnya Foto Aliefngopibarengid
Lia Julita Rahmawati, guru SMP Praja Mukti bercerita tentang nasib guru, murid, dan masa depan Praja Mukti. Sesekali ia mengusap air mata dengan jilbabnya. (Foto: Alief/ngopibareng.id)

Wanita itu adalah satu satu guru di sekolah milik Yayasan Praja Mukti. Namanya Lia Julita Rahmawati. Perempuan berusia 38 tahun ini sehar-hari mengajar mata pelajaran matematika. Dengan wajah sedih, Lia mengaku bahwa ia dan para guru lainnya kaget bukan kepalang, bahkan cenderung panik saat mengetahui dari media, bahwa yayasan pendidikan yang sudah berdiri 44 tahun itu akan dijadikan Pemkot Surabaya sebagai lapangan olahraga.

"Wah kaget sekali. Perasaan itu kayak, jedaaaarrr... rasanya seperti mimpi di siang bolong. Sesuatu sebelumnya tidak pernah saya pikirkan," kata Lia kepada ngopibareng.id beberapa waktu lalu di SMP Praja Mukti usai ujian sekolah berakhir.

Saat bercerita, beberapa kali suara wanita berkerudung itu tercekat menahan emosi. Sedangkan matanya mulai sembab saat dia mulai bercerita. Sekuat tenaga dia mencoba untuk menahan tangis, namun akhirnya tak kuasa juga. Air mata pun menetes dari kelopak matanya saat menceritakan nasib sekolah tempat ia mengabdi selama 15 tahun ini.

Kecewa kepada Tri Rismaharini

Raut muka Lia kembali muram, kala membicarakan mengenai program-program pendidikan, yang disampaikan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Ia terlihat menahan tangis, emosi dan kecewa terhadap orang nomor satu di Surabaya itu. Lia mengatakan, awalnya dia sangat bangga dengan Risma. Bahkan ia tak segan menyebut Risma seperti ibu dia sendiri.

Namun hal itu berubah 180 derajat. Di mata Lia, kini Risma biasa saja. Sudah tak spesial lagi seperti dahulu saat Risma mengungkapkan gagasan dan program. Ia mengaku sakit hati, menangis, dan kecewa. Serasa diputus kekasih, saat Pemerintah Kota Surabaya, memberi pengumuman bahwa Praja Mukti akan dibongkar.

"Jleb gitu, sangat kecewa. Menangis hati ini ketika Pemkot umumkan itu. Kebanggaan saya selama ini sempat hilang. Tapi ya sekarang saya menata hati lagi, melihat dari sisi-sisi lain lagi. Tapi tetap ada kekecewaan dan rasanya sudah beda dengan dahulu," tuturnya dengan terisak.

Kekecewaan Lia bukan hanya karena sekolahnya dibongkar, namun juga alasan Pemkot yang akan menjadikan sebagai lapangan olah raga. Ia tak habis pikir dengan rencana itu. Padahal, selama ini, yayasan Praja Mukti menjadi salah satu penolong Pemkot untuk mendidik siswa-siswa yang tidak mampu.

"Kecewanya di situ. Ini dijadikan lapangan olah raga, saya itu sampai berpikir, apa iya Bu Risma seperti itu pikirannya. Sekolah dibongkar jadi lapangan olah raga. Ibaratnya, bodoh tak apa yang penting sehat. Sehat itu penting meski bodoh, tak masalah," kata Lia dengan menangis.

Keberatan Orang Tua

Tangisnya tak bisa tertahan lagi, saat ia bercerita soal nasib anak-anak didiknya, jika Pemkot Surabaya, benar-benar akan membongkar sekolahnya. Alasannya sederhana, Yayasan Praja Mukti, khususnya untuk jenjang SMP itu jadi tempat sekolah anak-anak keluarga kurang mampu.

"Kami terus berusaha untuk mewadahi anak-anak. Ya walau tidak sempurna ya. Tapi setidaknya, kami sudah 44 tahun berusaha untuk memfasilitasi semua kegiatan siswa Praja Mukti. Baik akademik maupun non akademik. Saya tak membayangkan nasib anak-anak ini saat mereka tahu, sekolahnya akan dibongkar untuk lapangan olah raga. Ya Allah, nangis hati saya," ujarnya dengan bibir gemetar.

Wanita muda dengan senyum manis itu mengatakan, saat ini, bukan hanya para tenaga pendidik yang berat hati dengan rencana Pemkot Surabaya, tetapi juga para wali murid Praja Mukti.

Ia mengaku, tak terhitung berapa banyak wali murid yang menghubunginya lewat pesan pendek, WhatsApp, sambungan telepon, maupun bertemu langsung, memohon-mohon agar sekolah tersebut tidak ditutup.

"Gini, para wali murid itu curhat, nangis ke saya. Bagaimana anak-anak kalau akhirnya ditutup, dibongkar sekolah ini. Meski katanya akan dipindahkan ke sekolah lain, para wali murid ini belum tentu mau. Oke, mungkin sekolah negeri akan gratis. Tapi pengakuan beberapa orang tua yang sudah merasakan, meski gratis di negeri, tapi masih ada yang bayar-bayar, dan itu membebani mereka. Mulai daftar ulang bayar, KTS bayar beberapa ratu ribu, bayar uang buku di awal," ungakpnya dengan nada meninggi, seakan ia menahan emosi.

Nasib Murid dan Guru

Lia mengatakan, banyak rekannya sesama guru yang sebagian besar sudah mendekati usia pensiun. Sehingga, akan terlalu berat jika para guru tersebut memulai usaha baru baik usaha sendiri, maupun mengajar di sekolah lain. Dari nol lagi. Usia senja tak bisa menipu tenaga dan pikiran.

Lain halnya dengan guru-guru yang masih dalam usia produktif seperti Lia. Meski mereka mungkin masih bisa ditempatkan sebagai tenaga outsourcing. Namun, hal itu tetap menjadi kecemasan. Terutama soal kepastian.

"Ibu-Bapak yang sudah mau masuk usia pensiun itu, agaknya susah ya untuk adaptasi di sekolah baru kalau disuruh mengajar. Sedangkan saya, dan kawan sebaya, cemasnya, apa iya, kalau sebagai tenaga outsourcing, kami akan dipakai terus oleh mereka? Bagaimana kalau ada PNS baru yang masuk, dan lebih muda itu? Apa dinas terkait bisa jadi jaminan bahwa kami tidak akan diputus kontraknya?" kata Lia.

Ketidakpastian atas nasib itu, membuat hampir semua guru Praja Mukti memutuskan akan alih profesi menjadi pengusaha kecil-kecilan jika benar-benar dibongkar. Mereka sudah mulai memikirkan usaha mulai dari membuka warung makan, hingga berjualan barang secara online. Daripada harus menjadi guru dan mengajar di sekolah baru.

Surat Kemendibud yang sempat menjadi harapan SMP Praja Mukti akan bertahan Foto Istimewa
Surat Kemendibud yang sempat menjadi harapan SMP Praja Mukti akan bertahan. (Foto: Istimewa)

Tanah Sengketa

Lia bercerita, sebenarnya, sengketa tanah antara pemkot dan Yayasan Praja Mukti, diketahui oleh para tenaga pendidik atau para guru, dan pengurus yayasan sejak lama. Selama itu pula, menurut Lia, pengurus yayasan sudah berusaha untuk memperjelas status tanah Yayasan Praja Mukti. Namun, menurut informasi yang ia dengar, usaha pengurus yayasan selalu dipersulit oleh Pemkot Surabaya.

Para guru sempat mendapatkan angin segar dan harapan ketika mendengar, yayasan diberikan waktu hingga tahun 2024 oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, untuk mengurus operasional sekolah dan juga status kepemilikan tanah.

"Jadi itu kalau saya tidak salah, ada surat dari Kemendikbud. Intinya, kami punya waktu sampai 2024. Itu yang saya tahu, karena itu disampaikan di rapat rutin bulanan guru, dan yayasan. Kalau tidak salah, info itu saya dapat akhir tahun 2017 atau 2018 awal gitu," kata Lia.

Harapan itu sirna ketika Pemerintah Kota Surabaya mengatakan akan membongkar tanah tersebut, dan digunakan untuk lapangan olahraga. Alasan  Pemkot, daerah Kupang Segunting adalah wilayah padat penduduk, sehingga dibutuhkan ruang terbuka untuk publik.

"Ya sudah kami pasrah sama Allah. Kita ikhlas mengajar untuk anak-anak ini, meskipun harus sabar banget menghadapinya. Tapi kalau sudah begini, kami hanya bisa pasrah dengan nasib kami semua," kata Lia.

Lia menghapus air matanya dengan kerudung, seraya ia memohon kepada awak media untuk membantu menyuarakan curhatan para guru dan siswa di Yayasan Praja Mukti. Ia berharap, Risma dan jajaran Pemerintah Kota Surabaya, bisa mengambil kebijakan yang memihak kepada mereka dan rakyat kecil.

"Tolong kami. Ini yang bisa kami lakukan, tidak ada lagi. Tolong kabarkan nasib kami dan anak-anak," pungkasnya.