Ilustrasi uang. (Foto: Unsplash.com)

Populer Saat Covid-19, Ini Penjelasan Resesi

Ekonomi dan Bisnis 14 August 2020 05:00 WIB

Selama pandemi Covid-19 kata resesi banyak disampaikan oleh kepala negara. Berbagai pimpinan negara menyebutkan ancaman resesi, atau bahkan sedang mengalami resesi. Lantas, apakah resesi itu?

Dilansir dari BBC, perekonomian negara disebut sehat jika ekonominya terus tumbuh dalam beberapa waktu tertentu. Nilai dari produksi barang dan jasa yang diproduksi, produksi kotor domestiknya (GDP), terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi seringkali baik untuk sebagian besar orang.

Apa Itu Resesi?

Namun perekonomian bisa saja menyusut. Disebut resesi, jika perekonomian terus menyusut dalam periode dua hingga tiga bulan, atau dalam satu kuartal, secara berturut-turut.

Resesi terakhir berlangsung di tahun 2007, dan dirasakan banyak negara di dunia. Di Inggris, resesi itu berlangsung sedikitnya satu tahun. GDP diperkirakan turun hingga 6 persen sepanjang resesi tersebut.

Mengapa Terjadi Resesi?

Ada banyak penyebab terjadinya resesi, salah satunya adalah utang. Krisis global yang terjadi di tahun 2007 dipicu oleh utang. Ketika banyak warga di Amerika Serikat tak bisa memenuhi pembayaran kredit rumah mereka. Kredit macet mengakibatkan Bank kehabisan uang, dan tak bisa meminjamkan piutang. Membuat sistem perbankan dan bisnis lumpuh tak hanya di Amerika Serikat, tapi di banyak negara lain di dunia.

Resesi juga bisa muncul jika ekonomi menderita akibat kontraksi yang mendadak. Penyebabnya seperti pandemi Covid-19. Akibat pendekatan lockdown dan kepercayaan konsumen yang turun, menyebabkan pengeluaran, invetasi, hingga arus bepergian berhenti di berbagi negara, termasuk Jerman, negara dengan perekonomian terbesar di Eropa.

Resesi Bisa Menyebar

Dampak resesi di satu negara bisa menyebar ke nagara lain dengan cepat. Seperti krisis di Asia Tenggara di tahun 1997. Diawali dengan hancurnya mata uang Baht di Thailand yang kolaps terhadap dolar Amerika Serikat, menyebabkan investor dan pengusaha kehilangan kepercayaan dan mengambil investasinya keluar. Hal serupa kemudian menyebar ke seluruh negara lain di kawasan itu.

Dampak Resesi

Lantas apa dampak resesi? Perusahaan akan lebih mudah untuk mengurangi pekerja. Pekerja berisiko mengalami pemotongan gaji hingga pengurangan jam kerja, dan menyebabkan munculnya kesulitan finansial.

Dampak buruk di sektor upah bisa saja berlangsung dalam hitungan tahun, dan pemerintah pun bisa terjebak dalam kubangan utang.

Akibat resesi,pendapatan pajak dari perusahaan dan perorangan semakin berkurang.Pemerintah pun akan semakin berisiko memotong berbagai pengeluaran.

Beda Resesi dengan Depresi

Jika resesi berlangsung dalam jangka panjang, maka akan disebut sebagai depresi. Depresi lebih sulit untuk didefinisikan. Dunia mengingat salah satu peristiwanya muncul dalam Depresi Besar tahun 1930. Dipicu hancurnya pasar saham di Amerika Serikat dan kemudian menyebar. Depresi berlangsung hingga 10 tahun dan dampaknya dialami secara global.

Kini, dalam kondisi pandemi, banyak negara bersiap mengalami krisis ekonomi. Namun, kondisi pandemi juga baru bagi dunia. Tak ada yang tahu seberapa kuat dan seberapa cepat perekonomian akan kembali berkontraksi dan tumbuh. (Bbc)

Penulis : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

29 Sep 2020 11:06 WIB

Perkenalkan Sejarah Muhammadiyah, Begini Alasan Siti Noorjannah

Khazanah

Jalan menjadi generasi terbaik dengan berakhlak mulia

29 Sep 2020 10:54 WIB

Kapan Kartu Prakerja Gelombang 11 Dibuka? Ini Penjelasannya

Nasional

Kuota sudah penuh, namun akan dibuka lagi bila beberapa pendaftar mundur.

29 Sep 2020 10:37 WIB

Mengenal Anosmia Gejala Baru Covid-19

Kesehatan

Anosmia gejala kehilangan indra penciuman bagi pasien Covid-19.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...